Home » 35 Tahun Mengabdi, Satu Pesan yang Menyentuh Hati Kisah Tiga Sosok di Balik Perjalanan Sekolah Santo Yusup Karimun

35 Tahun Mengabdi, Satu Pesan yang Menyentuh Hati Kisah Tiga Sosok di Balik Perjalanan Sekolah Santo Yusup Karimun

oleh humas YTK

 Tanjung Balai Karimun, YTKNews.id – Setiap pengabdian memiliki batas waktu, tetapi ketulusan dan kebaikan yang ditinggalkan akan terus hidup dalam kenangan. Semangat inilah yang mewarnai acara Purna Bakti Guru dan Karyawan Sekolah Santo Yusup Karimun yang berlangsung di unit SD Santo Yusup, Kamis (15/10/2026).

Acara ini menjadi momen istimewa untuk menyampaikan penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada tiga sosok yang telah mendedikasikan waktu, tenaga, dan hati bagi kemajuan Sekolah Santo Yusup Karimun. Mereka adalah Juwita Ruru Balisa, S.Sos., dari unit SMA Santo Yusup; Stefanus Sensus dari unit SMP Santo Yusup; dan Luvita Nuli Nama dari unit TK Santo Yusup.

Bagi keluarga besar Sekolah Santo Yusup, ketiganya bukan sekadar guru dan karyawan yang telah menyelesaikan masa tugas. Mereka adalah bagian dari perjalanan sekolah, yang melalui karya dan pelayanan telah ikut membangun lingkungan pendidikan serta mendukung pertumbuhan peserta didik.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sepanjang acara. Berbagai kesan, kenangan, dan ungkapan terima kasih mengalir, menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus selalu meninggalkan tempat istimewa di hati orang-orang yang pernah berjalan bersama.

Juwita: Menjaga Kebersamaan dan Ketulusan

Selama 21 tahun mengabdi di SMA Santo Yusup, Juwita Ruru Balisa, S.Sos., merasakan bahwa sekolah bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah kedua yang menyimpan banyak kenangan berharga.

Dalam pesan dan kesannya, ia mengungkapkan rasa syukur atas berbagai pengalaman, pembelajaran, dan kebersamaan yang telah mewarnai perjalanan pengabdiannya. Ia juga menitipkan pesan kepada rekan-rekan yang masih melanjutkan karya di dunia pendidikan agar senantiasa menjaga kebersamaan, ketulusan, dan semangat pelayanan.

“Teruslah menjaga kebersamaan, ketulusan, dan semangat pelayanan dalam mendidik. Perubahan kurikulum, pergantian kepemimpinan, serta perbedaan karakter adalah bagian dari perjalanan sebuah sekolah. Jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan tujuan yang sama, yaitu mendampingi anak-anak agar bertumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berprestasi, dan mampu memberikan kontribusi bagi sesama,” pesannya.

Pesan Juwita menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang merawat persatuan dan menghadirkan pelayanan yang tulus demi masa depan generasi muda.

Stefanus: Merawat Warisan Pengabdian

Bagi Stefanus Sensus, 35 tahun pengabdian di Sekolah Santo Yusup merupakan perjalanan panjang yang penuh pengalaman dan pembelajaran. Ia bersyukur telah menjadi bagian dari lingkungan kerja yang ramah, baik, dan menerimanya sebagai keluarga.

Kepada rekan-rekan yang akan melanjutkan tugasnya, Stefanus menyampaikan pesan sederhana yang sarat makna. Ia berharap segala sesuatu yang telah ditinggalkannya dapat dijaga dan dirawat dengan baik, seperti seseorang merawat kebun agar terus tumbuh dan menghasilkan buah yang bermanfaat.

Pesan tersebut menggambarkan harapan agar semangat merawat, menjaga, dan melayani tidak berhenti bersama berakhirnya masa tugas seseorang. Sebaliknya, nilai-nilai itu diharapkan terus bertumbuh dan menjadi bagian dari budaya kerja Sekolah Santo Yusup.

 

Luvita: Kebaikan yang Dikenang dengan Syukur

Sementara itu, Luvita Nuli Nama mengungkapkan rasa syukur karena telah menjadi bagian dari keluarga besar Sekolah Santo Yusup. Ia mengenang kebaikan kepala sekolah serta Bapak dan Ibu guru yang selalu menunjukkan keramahan, kesopanan, dan perhatian kepadanya.

Dengan penuh harapan, Luvita menyampaikan doa agar Sekolah Santo Yusup semakin maju dan sukses dalam menjalankan karya pendidikannya.

Bagi rekan-rekan kerjanya, Luvita bukan hanya seorang karyawan, tetapi juga sosok yang hadir dengan perhatian dan kesediaan membantu. Maria Putri mengenangnya sebagai pribadi yang akrab disapa “Tante” oleh rekan kerja dan “Oma” oleh anak-anak.

Menurut Maria, Luvita kerap membantu berbagai kebutuhan di lingkungan TK Santo Yusup, termasuk mendukung kegiatan belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Perannya yang beragam membuatnya menjadi sosok yang sangat membantu kelancaran kegiatan sekolah. Tak heran, Maria menyebut Luvita sebagai pribadi yang “multifungsi”.

Kebaikan Kecil yang Menjadi Kenangan Besar

Apresiasi terhadap ketiga purna bakti juga datang dari rekan-rekan yang telah merasakan langsung kebaikan dan dukungan mereka selama bekerja bersama.

Juliana Purba, S.Pd., mengenang Stefanus dan Luvita sebagai pribadi yang selalu memberikan respons positif ketika dimintai bantuan. Secara khusus, ia memiliki kedekatan dengan Juwita karena pernah bekerja dalam satu unit, sempat terpisah, lalu kembali dipertemukan dalam perjalanan pekerjaan. Bagi Juliana, Juwita bukan sekadar rekan kerja, melainkan sosok kakak yang telah dikenalnya sejak masa asrama.

Ada satu kalimat Juwita yang terus diingatnya, “Tenang saja, semua pasti selesai pada waktunya.”

Kalimat sederhana tersebut menjadi pengingat akan pentingnya ketenangan, keyakinan, dan sikap positif dalam menghadapi berbagai tantangan pekerjaan.

Kesan serupa disampaikan Rudi Sabungan Silalahi tentang Stefanus. Ia mengenang Stefanus sebagai pribadi yang ringan tangan dan tidak pernah menolak ketika dimintai bantuan. Kesediaan untuk hadir dan membantu itulah yang meninggalkan kesan mendalam bagi rekan-rekannya.

Sementara itu, Maria Elirosa Sianturi, S.Pd., Gr., selaku perwakilan kepala sekolah, turut menyampaikan penghormatan melalui pantun. Dalam ungkapannya, ia menegaskan bahwa ilmu dan teladan seorang guru akan selalu hidup di hati, seraya menyampaikan terima kasih atas ketulusan dan kerendahan hati yang telah ditunjukkan ketiga purna bakti selama menjadi bagian dari Sekolah Santo Yusup.

Pengabdian Berakhir, Teladan Tetap Hidup

Rangkaian pesan dan kesan dalam acara purna bakti ini menegaskan bahwa berakhirnya masa tugas bukan berarti berakhir pula makna sebuah pengabdian. Justru, momen ini menjadi kesempatan untuk mengenang kontribusi, menghargai perjalanan, dan meneruskan nilai-nilai baik yang telah diwariskan.

Kemajuan sebuah sekolah tidak hanya dibangun melalui fasilitas dan prestasi, tetapi juga melalui kesetiaan, kerja sama, dan ketulusan orang-orang yang berkarya di dalamnya. Juwita, Stefanus, dan Luvita telah menjadi bagian dari perjalanan itu, masing-masing dengan cerita, pengalaman, dan kebaikan yang akan terus dikenang.

Terima kasih, Ibu Juwita Ruru Balisa, Bapak Stefanus Sensus, dan Ibu Luvita Nuli Nama, atas setiap waktu, tenaga, perhatian, dan kebaikan yang telah diberikan. Meski masa tugas telah usai, kenangan dan teladan yang ditinggalkan akan tetap hidup dalam hati keluarga besar Sekolah Santo Yusup Karimun.

Selamat memasuki masa purna bakti. Semoga hari-hari ke depan senantiasa dipenuhi kesehatan, kebahagiaan, kedamaian, dan berkat yang melimpah. Sebab, pengabdian boleh berakhir, tetapi jejak kebaikan akan selalu tinggal di hati.

Penulis: Sri Nova Gressi Situmorang, S.Pd.

Anda mungkin juga suka