Pangkalpinang, YTKNews.id — Pentingnya menjaga kesehatan tulang belakang menjadi salah satu topik menarik dalam talk show kesehatan pada rangkaian Temu Kangen Alumni Lintas Generasi dalam rangka perayaan HUT ke-75 SMP Santa Theresia Pangkalpinang, Sabtu (26/9/2026). Dalam kegiatan ini, dr. Muhammad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, yang akrab disapa dr. Ali, membagikan edukasi mengenai penyebab nyeri tulang belakang, pentingnya menjaga postur tubuh, serta perkembangan teknologi penanganan nyeri.
Sebagai dokter bedah saraf yang berfokus pada tulang belakang, dr. Ali menjelaskan bahwa gangguan tulang belakang tidak hanya berkaitan dengan proses penuaan, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Kebiasaan duduk terlalu lama, kurangnya aktivitas fisik, serta penggunaan telepon genggam dengan posisi kepala menunduk dapat meningkatkan risiko munculnya keluhan pada leher dan punggung.
Menurutnya, kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana dapat berdampak pada kesehatan apabila dilakukan terus-menerus. Ia mengingatkan bahwa penggunaan gawai bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan perlu dilakukan dengan cara yang tepat.
“HP, laptop bukan enggak boleh, tapi ada caranya,” ujar dr. Ali saat menjelaskan pentingnya memperhatikan posisi tubuh ketika menggunakan perangkat elektronik.
Ia juga mengingatkan peserta agar membiasakan diri duduk dengan posisi tegak, menyandarkan punggung pada kursi, serta mengusahakan layar perangkat sejajar dengan mata. Kebiasaan tersebut perlu diterapkan sejak usia sekolah untuk membantu menjaga kesehatan tulang belakang dalam jangka panjang.
Dalam sesi interaktif, dr. Ali mengajak peserta mengenali tanda-tanda yang mungkin berkaitan dengan gangguan tulang belakang. Ia mencontohkan keluhan berupa nyeri leher yang menjalar ke tangan, nyeri pinggang yang menjalar ke kaki, kesemutan, hingga kesulitan melakukan aktivitas sederhana, seperti mengancingkan baju atau menyisir rambut.
Ia menegaskan bahwa nyeri tidak seharusnya selalu dianggap sebagai keluhan biasa yang dapat diabaikan. Menurutnya, nyeri merupakan sinyal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui kemungkinan adanya masalah pada tubuh.
“Jadi nyeri itu sebetulnya alarm, Pak, Bu,” ungkapnya.
Melalui penjelasan tersebut, dr. Ali mengajak peserta untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh dan tidak menunda pemeriksaan apabila keluhan menetap atau disertai perubahan kemampuan bergerak. Ia turut menjelaskan bahwa pemeriksaan medis, termasuk MRI sesuai indikasi, dapat membantu dokter mengevaluasi kondisi tulang belakang dan saraf.
Selain membahas pencegahan, dr. Ali membagikan pengalamannya dalam menangani pasien yang mengalami gangguan saraf hingga kesulitan berjalan. Ia menceritakan seorang pasien yang menjalani tindakan endoskopi tulang belakang setelah mencari pendapat medis kedua (second opinion). Setelah menjalani penanganan tersebut, kondisi pasien dilaporkan membaik sehingga ia dapat kembali menikmati waktu bersama keluarga.
Dr. Ali juga menjelaskan bahwa tidak semua nyeri tulang belakang disebabkan oleh saraf terjepit. Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan otot yang melemah, perubahan pada sendi, maupun faktor lainnya. Oleh karena itu, penanganan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing pasien.
Melalui talk show ini, para alumni SMP Santa Theresia dan peserta lainnya memperoleh pemahaman bahwa menjaga kesehatan tulang belakang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memperbaiki postur tubuh, tetap aktif bergerak, dan memperhatikan sinyal yang diberikan tubuh.
Kegiatan ini menjadi salah satu momen edukatif dalam rangkaian perayaan HUT ke-75 SMP Santa Theresia Pangkalpinang. Selain menjadi ajang untuk mempererat kembali persaudaraan lintas generasi, Temu Kangen Alumni juga menghadirkan ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Kontributor: Theresia Feby
