Pangalpinang, YTKNews. id — Siapa sangka, langkah iseng mencoba kompetisi bisa berujung pada perolehan prestasi di tingkat nasional. Kisah ini dialami oleh Jossepine Yuri Andita, siswi kelas 9 SMP Santa Theresia Pangkal Pinang, yang baru saja mengharumkan nama sekolah dan daerahnya.
Lahir di Pangkal Pinang pada 1 Oktober 2011, Jossepine berhasil meraih predikat bergengsi Honorable Mention pada ajang Final Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang IPA SMP Tahun 2025. Sebelum menapaki panggung nasional, ia menunjukkan dominasinya dengan menyapu bersih Juara 1 OSN IPA Tingkat Kota Pangkal Pinang dan Juara 1 OSN IPA Tingkat Provinsi.

Selain berprestasi dalam olimpiade, Jossepine juga unjuk gigi di berbagai ajang lainnya. Tercatat, ia berhasil menyabet Juara 1 Lomba Cerdas Cermat (LCC) Spirit of Spenda, Juara 1 LCC Teman Pelajar Tingkat Kota Pangkal Pinang, serta menjadi Finalis LCC Teman Pelajar Tingkat Nasional. Kemampuan analitisnya juga teruji dengan meraih Juara 3 Competition of Mathematics and Science 3.0.
Pencapaian ini menjadi kejutan besar bagi Jossepine. Ia mengaku bukan tipe siswa yang langganan juara kelas sejak SD.
“Sebenarnya ini hal yang tidak pernah saya bayangkan. Awalnya saya hanya ikut karena iseng tanpa terlintas akan melangkah sejauh ini. Saya sangat terkejut, apalagi saya belum pernah ikut lomba atau menang sejak SD,” ungkapnya jujur.
Ketertarikannya pada dunia sains ternyata tumbuh secara alami di rumah. Sejak kecil, orang tuanya kerap memberikan fakta-fakta unik (fun facts) seputar sains. Hal sederhana ini membentuk pola pikir Jossepine untuk melihat dunia dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan memupuk rasa ingin tahu yang besar terhadap fenomena alam.

Di balik prestasi Honorable Mention, terdapat perjuangan yang cukup berat. Jossepine menerapkan jadwal belajar pribadi yang disiplin; 2-3 jam di hari sekolah dan meningkat menjadi 5-6 jam saat akhir pekan. Bahkan, ia rela mengorbankan waktu bermain gawai dan berkumpul bersama teman selama hampir sembilan bulan.
Namun, ia sempat mengalami titik jenuh atau burnout. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti “Buat apa saya belajar segininya? Apa sih yang mau aku capai?” sempat menghantuinya hingga ia merasa ingin menyerah.
“Belajar sekeras apa pun rasanya tidak ada yang masuk ke otak, justru lupa materi karena burnout. Sampai di satu titik, saya sadar bahwa kalau sudah memulai sesuatu, tidak boleh berhenti di tengah jalan,” jelasnya.
Strategi untuk meningkatkan motivasi belajarnya pun cukup unik. Saat bosan melanda, Jossepine mengambil jeda total 2-3 hari tanpa memikirkan lomba. Ia menghabiskan waktu dengan memasak camilan, duduk di taman, atau bermain dengan kura-kura peliharaannya yang bernama “Duplet”.
Jossepine mengakui bahwa dukungan para guru di sekolah dan orang tua di rumah sangat berarti baginya. Bahkan di rumah, orang tua memfasilitasi Jossepine untuk mendapat pelatihan dengan mentor yang ahli pada bidangnya. Walaupun kedua orang tua memberikan pendampingan yang serius kepadanya, mereka tidak sekalipun memaksa atau menuntut apa-apa dari Jossepine selain agar Jossepine tetap merasa senang dan tenang dalam persiapan perlombaan.

Saat ditanya apa pesan-pesan untuk teman-teman seusianya, Jossepine berpesan untuk berani mengambil pilihan yang tepat dalam hidup. Baginya, keberhasilan adalah hasil dari keputusan untuk mengambil pilihan-pilihan sulit di tengah tawaran pilihan-pilihan yang instan, mudah dan nyaman. Ia juga percaya bahwa kerelaan berkorban waktu untuk belajar pasti akan sangat membantu dalam mencapai impiannya.
“Memilih untuk tidak memulai karena takut gagal adalah pilihan. Memilih berhenti karena lelah juga pilihan. Tapi, memilih untuk tetap berjuang dengan tekun adalah pilihan terbaik. Kalian harus rela waktu kalian terpakai untuk belajar. Kalau tidak, mimpi itu hanya akan jadi angan-angan,” pungkas Jossepine.
Kontributor: Alexander
