Pangkalpinang, YTKNews.id — Budaya peduli lingkungan bukan sekadar wacana di SMP Santa Theresia Pangkalpinang. Pada 16 September lalu, SMP Santa Theresia mendapat kunjungan dari Kawa Beringkes, komunitas bentukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kota Pangkalpinang, yang datang untuk melihat langsung kebiasaan pengelolaan sampah para murid.
Kunjungan tersebut disambut hangat oleh warga sekolah. Koordinator Kawa Beringkes, Rama, beserta tim diajak berkeliling area sekolah untuk meninjau fasilitas pengelolaan sampah mandiri. Perhatian tim tertuju pada penggunaan tempat sampah buatan sendiri yang telah dipilah secara tertib berdasarkan jenisnya. Tak hanya itu, Rama pun terkesan dengan hasil pemilahan sampah anorganik dalam bentuk ecobrick karya para murid yang dapat disulap menjadi barang bermanfaat, seperti meja bundar hingga tempat menaruh helm.
Sistem pengolahan yang diterapkan sekolah ini terbukti berjalan menyeluruh. Selain pemilahan sampah anorganik, pengolahan sampah organik seperti sisa makanan siswa dan guguran daun juga dikelola dengan sangat baik hingga mampu menghasilkan dua produk bernilai guna: kompos cair dan kompos padat.
Melihat efektivitas pengelolaan tersebut, Rama memberikan apresiasi tinggi dan menyatakan dukungannya secara penuh.
“Sekolah ini benar-benar menerapkan konsep zero waste secara nyata,” ujar Rama di sela-sela peninjauan.
Di sela kegiatan, Rama juga berkesempatan mewawancarai beberapa murid yang bertugas sebagai eco-auditor. Para siswa ini mengemban peran penting saat jam piket untuk memantau dan memastikan teman-temannya memilah sampah dengan benar. Bagi para siswa, kebiasaan ini tidak dirasakan sebagai beban, melainkan sarana belajar untuk menumbuhkan rasa peduli serta tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
Sebagai bentuk tindak lanjut dari aksi positif ini, Rama menegaskan komitmen Kawa Beringkes untuk menjalin kerja sama strategis dengan pihak sekolah ke depannya.
“Kami berencana mulai mendukung sekolah melalui pengadaan rumah botol sebagai wadah khusus pengumpulan botol plastik, membuka sistem jual-beli sampah dari hasil pemilahan para murid, hingga menyediakan maggot untuk memberikan variasi pengolahan sampah organik sisa makanan agar semakin optimal,” ungkap Rama di akhir perbincangan.
Melalui sinergi ini, SMP Santa Theresia Pangkalpinang diharapkan dapat terus menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam mewujudkan lingkungan belajar yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.
https://www.instagram.com/reel/DddReENR0Sf/?stkn=cDVhZ3F3YnQ0dDJs
Kontributor: Alexander
