Pangkalpinang, YTKNews.id – SMP Santa Theresia melaksanakan kegiatan kokurikuler pada 12-15 Oktober lalu. Kegiatan kokurikuler pertama di semester ganjil ini mengusung tema Kearifan Lokal. Untuk masing-masing jenjang mengambil topik yang berbeda-beda, yakni kelas VII mengambil topik musik tradisional, kelas VIII mengambil topik permainan tradisional, dan kelas IX mengambil topik makanan tradisional.
Kelas VII topik musik tradisional diisi dengan berbagai kegiatan yang mengajak murid untuk kembali mengingat dan mengenal warisan budaya musik di Indonesia. Pada hari pertama, yakni 12 Oktober, murid-murid diajak untuk mengenal apa itu kegiatan kokurikuler. Mengingat kegiatan ini merupakan kegiatan pertama kali bagi jenjang kelas VII, tim kokurikuler kelas VII mengajak murid-murid untuk mengenal lebih jauh Local Pride: Musik Sebagai Identitas Bangka Belitung yang merupakan tema kokurikuler kelas VII.

Hadi pertama, murid-murid diajak untuk mengenal kembali kesenian yang ada di Bangka Belitung, seperti dambus, gendang melayu, dan alat-alat musik lainnya. Anak-anak diajak untuk memahami kembali makna local pride yakni bangga dengan budaya milik sendiri. Bangga bukan berarti menganggap budaya daerah sendiri paling hebat yang mkemudian tidak menyukai budaya daerah lain serta menolak musik modern namun murid diajak untuk mengenal, meghargai, mengembangkan, serta memperkenalkan budaya yang berasal dari daerah sendiri.
Murid-murid kelas VII diajak kembali untuk mengenal ciri-ciri dan fungsi dari Local Pride, yakni berkembang dari budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, mengandung nilai-nilai luhur dan kebaikan, dipelajari dan diwariskan secara turun-temurun, kebudayaan menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak serta menjaga keharmonisan antara manusia, budaya, dan lingkungan. Adapun tujuan dari local pride sendiri adalah melestarikan nilai budaya masyarakat sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak,untuk menjaga keharmonisan kehidupan serta memperkuat identitas dan hubungan manusia dengan lingkungan.
“Banyaknya budaya modern yang saat ini ada, harusnya tidak membuat anak-anak jadi meninggalkan kebudayaan sendiri. Justru kita harus berupaya untuk melestarikan kebudayaan ini untuk generasi berikutnya.” ucap salah satu tim kokurikuler kelas VII.

Untuk itu, pelestarian budaya dapat dilakukan dengan upaya-upaya seperti berikut seperti mempelajari dan memahami kearifan lokal sejak dini, menerapkan nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari, menjaga serta melestarikan adat dan tradisi daerah, serta turut aktif falam kegiatan kebudayaan.
Setelah anak-anak diajak lebih jauh mengenal local pride, sesi selanjutnya adalah masing-masing anak diajak untuk membuat mapping map yang berisi tentang satu musik tradisonal. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak dapat memetakan secara khusus musik tradisonal tentang bagaimana cara pembuataanya, cara memainkan, dan ciri khas alat musik tersebut. Setelah itu mereka akan berkumpul dalam kelompok untuk berdiskusi bersama.
Akhir proses kegiatan ini, diharapakan anak-anak dapat mengenal musik tradisonal khususnya Bangka Belitung. Anak-anak juga diminta untuk berkreasi menggunakan barang-barang bekas sebagai alat musik pengiring lagu budaya Bangka Belitung.
Melalui proses ini, tim kokurikuler kelas VII berharap anak-anak dapat lebih mengenal kebudayaan sendiri dna melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari agar kebudayaan yang luhur ini tetap lestari dan tetap relevan di tegah perkembangan zaman ini. Anak-anak juga dapat memanfaatkan dan berkreasi sebagai bentuk upaya pelestarian kebuadayaan yang ada.
Kontributor: Marcelina Sandra
