Home » Sunyi yang Mencurigakan, Ruang Guru SMP Santo Yosef Mendadak Tak Berpenghuni

Sunyi yang Mencurigakan, Ruang Guru SMP Santo Yosef Mendadak Tak Berpenghuni

oleh Tarsisius Ramto Idong

Belinyu, YTKNews.id – Suasana tak biasa tampak di ruang guru SMP Santo Yosef Belinyu, Kamis, 29 Januari 2026. Ruangan yang biasanya dipenuhi aktivitas dan percakapan hangat para pendidik, mendadak terlihat sepi dan nyaris tak berpenghuni. Namun, kesunyian ini bukan tanpa sebab.
Bukan karena para guru tengah mengajar di kelas, melainkan karena sebagian besar dari mereka sedang menjalankan tugas penting di luar sekolah dalam berbagai kegiatan pengembangan pendidikan dan pembinaan karakter.


Di antaranya, Zulputra Tanjung dan Monika Grasiana Benta diutus ke Aula Rumah Dinas Camat Belinyu untuk mengikuti Musyawarah Ranting (Musran) Gerakan Pramuka Belinyu masa bakti 2026–2029. Dalam musyawarah tersebut, dibentuk kepengurusan baru Gerakan Pramuka tingkat ranting Belinyu.
Pada kesempatan yang sama, SMP Santo Yosef juga kembali diingatkan mengenai status resmi Gugus Depan yang telah terbentuk sejak 2019, yakni Gugus Depan Putra 03473 dan Gugus Depan Putri 03474, sebagai bagian dari legalitas dan penguatan pembinaan kepramukaan di sekolah.

Sementara itu, di sisi lain, Luisa Dwizatnia Putri dan Oktavia Ritonga diutus ke SMP Negeri 1 Belinyu untuk mengikuti kegiatan sosialisasi bertema “Mencegah Radikalisasi dan Kekerasan Anak” bersama sejumlah siswa. Kegiatan ini diinisiasi oleh Densus 88 Anti Teror dari Jakarta.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta dibekali pemahaman tentang intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, sekaligus edukasi penting terkait bullying serta cara-cara konkret untuk mencegahnya di lingkungan sekolah dan pergaulan remaja.
Kepala SMP Santo Yosef, Eko Sudaryanto, memberikan tanggapan positif atas keterlibatan para guru dalam berbagai kegiatan tersebut. “Keikutsertaan guru-guru dalam kegiatan di luar sekolah ini merupakan bagian dari penguatan peran pendidik, bukan hanya sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai pembina karakter, pelindung siswa, dan agen perubahan di masyarakat,” ungkapnya.


Ia menambahkan, “Sekolah tidak boleh menjadi ruang tertutup. Guru harus hadir di tengah dinamika sosial, mengikuti perkembangan zaman, dan membawa nilai-nilai positif itu kembali ke sekolah untuk membentuk generasi yang berkarakter, toleran, dan berintegritas.”
Kesunyian ruang guru hari itu pun menjadi simbol tersendiri: bukan tentang kekosongan, melainkan tentang gerak, dedikasi, dan pengabdian. Di luar tembok sekolah, para guru SMP Santo Yosef sedang menanam nilai, membangun jejaring, dan memperkuat fondasi pendidikan karakter.
Dan ketika mereka kembali, ruang guru itu tak hanya akan kembali ramai, tetapi juga kaya dengan pengalaman, semangat baru, dan energi positif untuk membentuk masa depan para siswa.

Anda mungkin juga suka