Pangkalpinang, YTKNews.id – Mengajar Generasi Alpha bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Bagi Theresia Feby Pakpahan, guru Matematika SMP Santa Theresia Pangkalpinang, tugas seorang pendidik hari ini adalah menemukan cara untuk menaklukkan hati para murid terlebih dahulu, sebelum mengajak mereka mencintai pelajaran.
“Ekspresif, canggih, dan mudah beralih,” demikian tiga kata yang dipilih Feby ketika diminta menggambarkan karakter Generasi Alpha yang setiap hari ia dampingi di ruang kelas.
Sebagai generasi yang lahir di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak Generasi Alpha memiliki gaya belajar yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Menurut Feby, pola pembelajaran konvensional yang hanya mengandalkan ceramah sudah tidak lagi efektif.
“Gen Z masih cukup nyaman dengan metode ceramah, sedangkan Gen Alpha jauh lebih menyukai pembelajaran yang interaktif dan praktik langsung,” jelasnya.
Ia juga melihat kebiasaan belajar mereka telah berubah. Aktivitas seperti merangkum materi dari buku mulai ditinggalkan karena dianggap kurang praktis.
“Gen Alpha cenderung malas mencatat karena menurut mereka cara itu tidak ringkas dan memakan waktu,” tambahnya.
Menciptakan Kelas yang Hidup
Menyadari karakter tersebut, Feby berusaha mengubah pembelajaran Matematika menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Hampir setiap pertemuan diawali dengan pertanyaan pemantik atau tantangan sederhana yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Setelah itu, suasana kelas dihidupkan melalui kuis berbasis teknologi, permainan edukatif, hingga diskusi kelompok.
Ketika ia melihat konsentrasi siswa mulai menurun, Feby tidak memaksakan penyampaian materi.
“Saya biasanya berhenti sejenak dan mengajak mereka melakukan ice breaking supaya suasana kelas kembali segar,” tuturnya.
Baginya, mengajar bukan perlombaan menyelesaikan materi, melainkan memastikan siswa tetap menikmati proses belajar.
Pendidikan Karakter Dimulai dari Keteladanan
Di balik berbagai metode pembelajaran modern, Feby percaya bahwa pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama.
Menurutnya, empati, kesabaran, dan etika tidak dapat ditanamkan hanya melalui nasihat atau ceramah moral. Semua itu harus terlebih dahulu ditunjukkan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berusaha membangun budaya saling menghargai di kelas. Ketika siswa menyampaikan pendapat, ia mendengarkannya dengan penuh perhatian. Sebaliknya, siswa pun belajar menghormati ketika guru berbicara.
Saat ada siswa yang mengalami kesulitan memahami pelajaran, Feby tidak memilih untuk menghakimi. Ia justru mendorong teman-teman sekelas menjadi tutor sebaya sehingga tumbuh semangat saling membantu di tengah suasana belajar.
Ketika Pendekatan Personal Mengubah Segalanya
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat mendampingi seorang siswa yang selalu mengenakan masker selama berada di kelas meskipun telah beberapa kali diingatkan. Alih-alih memberikan hukuman, Feby memilih mengajaknya berbicara secara pribadi dari hati ke hati.
Dari percakapan tersebut, ia akhirnya memahami alasan yang melatarbelakangi sikap siswa itu. Pendekatan yang penuh empati perlahan membangun kembali rasa percaya diri sang siswa hingga akhirnya ia bersedia tampil tanpa masker di hadapan teman-temannya.
Bagi Feby, pengalaman sederhana itu menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengarkan.
Guru Juga Belajar dari Murid
Berbagai pengalaman mendampingi Generasi Alpha membuat Feby menyadari bahwa guru bukan satu-satunya pihak yang mengajar.
“Sering kali mereka mengajarkan bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang tidak memaksa. Tidak harus selalu dipaksa bisa ini atau itu,” ungkapnya.
Ia mengaku justru banyak belajar dari murid-muridnya. Keberagaman karakter mereka memperkaya wawasannya tentang cara memahami anak, mengambil keputusan, hingga mengenal dunia pengasuhan (parenting), bahkan sebelum ia sendiri berkeluarga.
“Melalui segala keunikan mereka, saya jadi semakin memahami cara menghadapi anak-anak, bahkan menambah pengetahuan tentang parenting meskipun saya sendiri belum berkeluarga,” ujarnya sambil tersenyum.
Pesan untuk Orang Tua dan Sesama Pendidik
Bagi para guru maupun orang tua yang terkadang merasa kewalahan mendampingi Generasi Alpha, Feby mengajak untuk tidak mudah menyerah.
“Tetaplah berproses dan berdinamika bersama anak-anak yang unik ini. Jadilah teman yang dapat memberi teladan. Jangan menyerah, Bapak dan Ibu. Mungkin terasa melelahkan, tetapi mari kita kerjakan bersama-sama,” pesannya.
Di akhir perbincangan, Feby mengungkapkan harapan sederhana yang ingin selalu dikenang oleh para siswanya ketika suatu hari nanti mereka meninggalkan bangku sekolah.
“Saya ingin mereka mengingat bahwa pernah ada Bapak dan Ibu guru yang tidak pernah lelah menggaungkan pendidikan karakter, yang sesungguhnya sangat mengasihi mereka melalui setiap nasihat yang diberikan,” tutupnya dengan senyum hangat.
Kontributor: Alexander
