Home » Tunas Kelapa dan Janji Pramuka Warnai Misa Komunitas Sekolah Maria Goretti”

Tunas Kelapa dan Janji Pramuka Warnai Misa Komunitas Sekolah Maria Goretti”

oleh humas YTK

Sungailiat, YTKNews.id – Jumat pagi, 14 Agustus 2026, suasana gereja di Sungailiat terasa berbeda. Alih-alih hening seperti perayaan Ekaristi pada umumnya, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Pramuka justru bergema lantang tepat sebelum perarakan masuk dimulai. Lebih mengejutkan lagi, bangku-bangku gereja dipenuhi oleh lautan seragam cokelat. Seluruh guru, siswa-siswi Katolik dan Kristen dari jenjang SD hingga SMP Maria Goretti Sungailiat hadir dengan seragam Pramuka lengkap. Bahkan, pemandangan paling menggemaskan, sekaligus mengundang tanya datang dari anak-anak TK Maria Goretti. Meski di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini belum ada kegiatan kepramukaan resmi, langkah-langkah kecil mereka ikut memeriahkan barisan.

Ada peristiwa apa sebenarnya di balik perayaan ini? Misa peringatan Hari Pramuka ke-65 ini rupanya bukan sekadar perayaan Ekaristi biasa. Perayaan yang dipimpin oleh Romo Yohanes Agus Riyanto, MSF ini merupakan bagian dari gerakan serentak seluruh sekolah di bawah naungan tim kerja kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Pangkalpinang.

Namun, kejutan sebenarnya terjadi setelah Romo Agus menyelesaikan homilinya. Di momen yang biasanya diisi dengan doa-doa hening, dua siswi melangkah maju mendekati altar. Mereka adalah Anna, perwakilan Pramuka Siaga dari SD, dan Olivia, perwakilan Pramuka Penggalang dari SMP.  Suara mereka memecah keheningan, memimpin pengucapan Dwi Darma dan Dasa Darma yang kemudian diikuti gemuruh suara seluruh umat yang hadir. Di dalam rumah ibadah itu, janji Pramuka dikumandangkan bukan hanya sebagai kode kehormatan, melainkan sebagai peneguhan janji rohani untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi sesama, Gereja, masyarakat, dan bangsa.

Misa tanggal 14 Agustus ini bertepatan dengan peringatan wajib Santo Maximilianus Maria Kolbe, seorang Imam dan Martir yang rela menyerahkan nyawanya demi menggantikan seorang bapak yang dihukum mati. Di sinilah Romo Agus menarik benang merah yang luar biasa. Dalam homilinya, Romo Agus, yang tiba-tiba bernostalgia mengingat masa sekolahnya saat ditunjuk menjadi ketua regu Pramuka, menegaskan bahwa Pramuka mengajarkan kita untuk selalu siap siaga, mandiri, dan peduli.

“Kita tidak harus seperti Santo Maximilianus yang menyerahkan nyawa secara harfiah. Tindakan kemartiran di zaman sekarang bisa diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap teman dan lingkungan sekitar,” ujar Romo Agus, memberikan perspektif baru tentang arti pengorbanan bagi generasi Z dan Alpha. Pesan kepedulian itu divisualisasikan dengan sangat unik saat prosesi persembahan. Jika biasanya persembahan identik dengan roti dan anggur, kali ini umat dikejutkan dengan kehadiran 3 buah tunas kelapa dan berbagai hasil bumi lainnya yang dibawa ke altar. Tunas kelapa menjadi simbol tunas bangsa, sementara hasil bumi merupakan wujud syukur dan dukungan nyata terhadap tema peringatan tahun ini: “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Kejutan demi kejutan diakhiri dengan manis. Setelah berkat penutup, gereja kembali mengalunkan lagu kebangsaan, kali ini Rayuan Pulau Kelapa, menyempurnakan nuansa cinta tanah air yang membalut perayaan Ekaristi tersebut. Kepala SD Maria Goretti, Revita Andy Hapsari, S.Pd, menyiratkan bahwa acara ini adalah sebuah investasi karakter untuk masa depan. Ia mengajak seluruh elemen sekolah untuk menjadikan momentum usia ke-65 Pramuka ini sebagai wujud syukur melalui Ekaristi. “Melalui Pramuka, kami berharap anak-anak tidak hanya menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri, tetapi juga memiliki iman, kepedulian, dan siap melayani. Semoga nilai-nilai ini menjadi bekal mereka untuk menjadi generasi yang tangguh dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045”, tuturnya penuh harap.

Di Komunitas Maria Goretti Sungailiat hari itu, altar bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi saksi bisu bagaimana iman Katolik dan semangat nasionalisme Pramuka melebur, melahirkan tunas-tunas muda yang siap menyambut masa depan dengan peduli dan mandiri.

Kontributor : Dewi Susanti

Anda mungkin juga suka