Home » Cerita Sesi Pengimbasan ChatGPT dan Gemini AI di SD Hilarius

Cerita Sesi Pengimbasan ChatGPT dan Gemini AI di SD Hilarius

oleh humas YTK

​Parittiga, YTKNews.id — Kami dengan deretan laptop yang sehari-hari setia bertengger di meja kantor guru SD Hilarius, pada Senin siang (28/9/2026) merasakan ritme ketikan yang berbeda dari jemari para pendidik. Layar-layar kami yang biasanya dipenuhi dokumen administrasi rutin, siang itu semarak oleh antarmuka dua platform kecerdasan buatan: ChatGPT dan Gemini AI. Di balik ketikan yang penuh rasa ingin tahu, para guru SD Hilarius berkumpul untuk menyimak sesi pengimbasan yang dibawakan oleh Mr. Aripin.

Suasana seusai jam mengajar yang biasanya tenang berubah menjadi ruang eksperimen yang hangat. Jemari guru-guru menari di atas keyboard dan mencoba menyusun instruksi (prompt) untuk merancang ide permainan kelas, lembar kerja peserta didik (LKPD), hingga media pembelajaran yang interaktif.

Mengenai dorongan utama di balik diadakannya kegiatan ini, Mr. Aripin menjelaskan bahwa fokus utamanya adalah membuka wawasan guru terhadap potensi AI sebagai pendukung tugas mendidik. “Dorongan utama saya adalah ingin membantu para guru mengenal dan memanfaatkan teknologi AI, khususnya ChatGPT dan Gemini AI, sebagai alat bantu dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Saya melihat AI dapat membantu guru dalam mencari ide, menyusun bahan ajar, membuat soal, LKPD, media pembelajaran, maupun melakukan evaluasi pembelajaran dengan lebih efektif dan efisien. Selain itu, saya berharap para guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat menggunakan AI secara bijak, kreatif, dan tetap melakukan pengecekan terhadap informasi yang dihasilkan,” ungkapnya.

Tidak berhenti pada pengenalan teori saja, Mr. Aripin menekankan pentingnya langkah nyata yang berdampak langsung pada proses belajar mengajar. Mengenai target konkret setelah sesi pengimbasan ini, Ia menyampaikan harapannya secara jelas. “Target konkretnya adalah setiap guru dapat mulai mencoba menggunakan ChatGPT atau Gemini AI dalam minimal satu bagian dari proses pembelajaran, misalnya untuk membuat bahan ajar, soal, LKPD, ide kegiatan pembelajaran, atau media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid. Saya juga berharap guru dapat semakin percaya diri dalam memanfaatkan AI, sehingga teknologi tersebut bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi menjadi alat bantu untuk meningkatkan kreativitas, efektivitas, dan kualitas pembelajaran di kelas,” tambahnya.

Antusiasme terasa hingga akhir sesi ketika hasil-hasil prompt pertama buatan para guru muncul di layar kami—mulai dari soal cerita matematika yang jenaka hingga panduan eksperimen sains sederhana. Bagi kami yang menjadi saksi perjalanan mereka, siang itu bukan sekadar tentang aplikasi baru yang diuji coba, melainkan tentang terbukanya pintu kreativitas baru di ruang-ruang kelas SD Hilarius.

Kontributor: Lea Wulan

 

 

Anda mungkin juga suka