Home » Hari Pertama Rakor di Wilayah Kepri: Dari Budaya Transaksional Menuju Transformasional

Hari Pertama Rakor di Wilayah Kepri: Dari Budaya Transaksional Menuju Transformasional

oleh humas YTK

Batam, YTKNews.id – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai hari pertama Rapat Koordinasi (Rakor) Kepala Unit Pendidikan Yayasan Tunas Karya (YTK) wilayah Kepri yang berlangsung di Gedung SMA Yos Sudarso, Batam, Senin (12/10/2026). Kegiatan yang akan berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 ini diikuti oleh 24 pimpinan unit sekolah dan asrama di lingkungan YTK wilayah Kepri.

Rakor ini menjadi ruang bersama bagi para pimpinan unit untuk merefleksikan perjalanan pelayanan pendidikan, mengevaluasi program yang telah berjalan, serta menyusun langkah strategis untuk tahun 2027. Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan pada komitmen bersama untuk mewujudkan layanan pendidikan yang adil dan humanis.

Diawali dengan Perayaan Ekaristi

Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 08.00 WIB yang dipimpin oleh RD. Martin da Silva. Dalam homilinya, RD. Martin mengajak seluruh peserta mengikuti Rakor dengan hati yang merdeka, sebagaimana Kristus telah memerdekakan manusia.

Menurutnya, kemerdekaan dalam konteks rapat koordinasi tidak hanya berarti kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga keberanian untuk menemukan cara-cara baru demi menghadirkan perubahan yang lebih baik.

“Kiranya kita semua mengikuti Rakor dengan hati merdeka. Merdeka boleh dimaknai sebagai sebuah upaya untuk menemukan cara-cara baru untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik. Mudah-mudahan Rakor kali ini tidak hanya menghasilkan sistem, administrasi, rubrik, dan keuangan, tetapi apa yang diputuskan dalam Rakor memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh agar memperoleh layanan pendidikan yang adil dan humanis,” ajak RD. Martin.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan dan keputusan yang dihasilkan dalam Rakor hendaknya tidak berhenti pada urusan administratif semata, tetapi sungguh berdampak pada pertumbuhan manusia dan peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.

Menuju Budaya Transformasional

Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan seremoni pembukaan Rakor. Ketua YTK,

  1. Servasius Samuel, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dan mengambil bagian dalam pertemuan tersebut. Beliau juga mengajak para pimpinan unit memanfaatkan Rakor sebagai kesempatan untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus menyusun Rencana Srategis (Renstra) tahun 2027. Perencanaan tersebut diharapkan semakin memperkuat upaya YTK dalam menghadirkan pendidikan yang adil dan humanis bagi setiap murid.

Dalam arahannya, RD. Samuel juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan budaya kerja, dari pendekatan transaksional menuju pendekatan transformasional. Perubahan ini menuntut setiap pemimpin tidak sekadar memastikan pegawai menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, tetapi juga membangun loyalitas, rasa memiliki, dan keterlibatan emosional dalam karya pelayanan.

Pendekatan yang hanya mengandalkan penghargaan dan sanksi (reward and punishment) dinilai tidak lagi cukup untuk mendorong keterlibatan yang mendalam. Karena itu, para pemimpin perlu membangun suasana kerja yang memberi ruang bagi pegawai untuk menyampaikan pendapat, terlibat dalam pengambilan keputusan, serta merasa dihargai sebagai bagian penting dari lembaga.

Budaya kerja transformasional diharapkan menumbuhkan kolaborasi yang sehat, semangat saling percaya, dan kesediaan untuk memberikan kontribusi lebih bagi perkembangan lembaga. Semangat ini juga perlu ditopang oleh spiritualitas seorang hamba yang melayani serta sikap sebagai manusia pembelajar yang terus terbuka terhadap perubahan.

 

Murid sebagai Prioritas

Agenda berikutnya adalah pengantar penyusunan Renstra yang disampaikan oleh Kepala Divisi Kurikulum, Siprianus Suryadiredja, S.Ag. Mantan pengurus YTK ini menjelaskan bahwa penyusunan Renstra perlu berangkat dari hasil evaluasi pelaksanaan program sebelumnya, skala prioritas yang dihasilkan dalam Evaluasi Diri Sekolah (EDS), isu-isu terkini dalam dunia pendidikan, dan masukan dari ketua YTK sehingga perencanaan yang dihasilkan sungguh menjawab kebutuhan nyata unit-unit pendidikan.

Kepala Divisi Kurikulum juga menegaskan bahwa penyusunan Renstra bukan sekadar menyusun daftar program atau memenuhi kebutuhan administrasi. Setiap rencana perlu diuji berdasarkan tingkat urgensi, kepentingan, dan manfaatnya bagi banyak pihak.

“Renstra harus menjawab kebutuhan. Kita perlu melihat mana yang paling mendesak, mana yang paling penting, dan mana yang memberikan manfaat bagi banyak unit. Kita juga perlu bertanya, apakah rencana yang dibuat sungguh berguna bagi orang-orang yang kita layani?” demikian ungkap Pak Sipri.

Dalam kerangka tersebut, murid ditempatkan sebagai prioritas utama. Setiap program dan kebijakan perlu diarahkan untuk memastikan bahwa murid memperoleh layanan pendidikan yang adil, humanis, dan mendukung pertumbuhan mereka secara utuh.

Penyusunan Renstra juga berkaitan erat dengan upaya membangun budaya kerja yang lebih partisipatif. Ketika para pegawai diberi kepercayaan, dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, dan dihargai kontribusinya, diharapkan tumbuh rasa memiliki yang semakin kuat terhadap karya pendidikan YTK.

Selanjutnya, pimpinan-pimpinan unit pendidikan masuk ke dalam kelompok berdasarkan jenjang masing-masing untuk berdiskusi dan menyusun Renstra. Apa yang disepakati dalam diskusi akan dipresentasikan dalam forum Rakor pada hari kedua sehingga bisa mendapat masukan dari pengurus, kepala divisi, dan pimpinan unit dari jenjang-jenjang unit yang lain.  (da silva, pr)

Anda mungkin juga suka