Home » Blackout dan Kabut Asap Tak Menghentikan Semangat Berkarya: Kokurikuler Digital SMP Yos Sudarso II Batam

Blackout dan Kabut Asap Tak Menghentikan Semangat Berkarya: Kokurikuler Digital SMP Yos Sudarso II Batam

oleh humas YTK

Batam, YTKNews.id – Kabut asap yang menyelimuti Kota Batam dan pemadaman listrik tidak menyurutkan semangat SMP Yos Sudarso II Batam dalam melaksanakan kegiatan kokurikuler tahun ajaran 2026/2027. Berlangsung pada 12–16 Oktober 2026, kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui skema Belajar dari Rumah (BDR) sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi yang terjadi.

Pada hari pertama, Senin (12/10/2026), pemadaman listrik yang melanda Kota Batam menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan kegiatan. Meski demikian, situasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar bagi sekolah dan peserta didik untuk beradaptasi dengan keadaan serta memanfaatkan teknologi secara fleksibel.

Kegiatan kokurikuler sekolah ini mengusung topik Rekayasa Perangkat Lunak dan Produksi Media Digital dengan tema “Cerdas Bermedia dan Berkarya Digital”. Melalui program tersebut, peserta didik kelas VII dan VIII diajak mengembangkan kreativitas, keterampilan digital, serta kemampuan menyampaikan informasi secara bijak dan bertanggung jawab dengan memanfaatkan teknologi digital zaman kini.

Beradaptasi di Tengah Situasi yang Tidak Menentu

Pelaksanaan kokurikuler di tahun ajaran di sekolah ini berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Hari pertama kokurikuler tidak berjalan sesuai rencana awal tim kokurikuler SMP Yos Sudarso II. Kendala yang dialami yakni gangguan listrik atau sering disebut blackout. Akibatnya para guru dan tim kokurikuler sekolah ini mengubah rencana awal mereka dengan bijaksana. Di menit-menit terakhir saat sinyal seluler masih berfungsi tim kokurikuler segera mengambil tindakan berupa penyebaran bahan literasi kepada para siswa di rumah agar pelaksanaan kokurikuler tetap berjalan secara BDR.

Selain pemadaman listrik, kabut asap yang masih menyelimuti Batam turut menjadi latar kondisi lingkungan selama kegiatan berlangsung. Situasi ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan dalam mendukung aktivitas belajar peserta didik.

Rekayasa Perangkat Lunak dan Produksi Media Digital

Kokurikuler SMP Yos Sudarso II yang bertema “Cerdas Bermedia dan Berkarya Digital” dijalankan dengan model pembelajaran Project Based Learning (PBL) atau pembelajaran yang berbasis pada proyek. Melalui model PBL ini pula peserta didik diarahkan untuk belajar mengamati, menganalisis masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Kemudian menentukan solusinya berdasarkan fakta.

Akhir proyek kokurikuler ini para peserta didik memproduksi video edukasinya dari rumah masing-masing. Pemilihan hasil produk dari kegiatan kokurikuler ini memiliki tujuan tentunya, dan itu hasil buah pikir dari ketua kokurikuler sekolah ini, yakni Roy Don Bosco Sirait, S. Kom.

“Melalui produksi video edukasi, peserta didik diharapkan mampu mengidentifikasi persoalan, menyusun pesan dan menyampaikan gagasan dalam bentuk media digital yang mudah dipahami” ungkap Roy Sirait.

Selain itu beliau yang merupakan satu-satunya guru mata pelajaran informatika dan KKA di SMP Yos Sudarso II ini menambahkan penjelasan tentang pemilihan tema kokurikuler ini yang sangat diperhatikannya bersama sekolah

“Tema ini dipilih karena ingin membekali peserta didik kelas tujuh dan delapan agar mampu menggunakan media digital secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab, sekaligus mengembangkan kreativitas mereka menjadi karya yang bermanfat.” tambah Roy.

Pembelajaran Bukan Sekadar Soal Ruang dan Perangkat

Kokurikuler digital SMP Yos Sudarso II Batam menunjukkan bahwa tantangan tidak selalu menjadi penghalang bagi proses pembelajaran. Di tengah pemadaman listrik dan kondisi kabut asap, sekolah tetap berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk aktif, kreatif, dan mampu beradaptasi.

Lebih dari sekadar menghasilkan video, kegiatan ini mengajak peserta didik beralih dari pengguna pasif menjadi pencipta konten digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Mereka belajar bahwa sebuah karya tidak hanya dinilai dari kecanggihan perangkat yang digunakan, tetapi juga dari gagasan, pesan, dan manfaat yang disampaikan.

Dengan demikian, pengalaman kokurikuler ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bermakna dapat berlangsung dalam berbagai situasi. Melalui kreativitas dan semangat untuk terus belajar, keterbatasan justru dapat menjadi kesempatan untuk menemukan cara baru dalam berkarya.

Kontributor: Florensia Marselli Kidi, S. Pd.

Anda mungkin juga suka