Pangkalpinang, YTKNews.id — Ruang Seni SMP Santa Theresia Pangkal Pinang tampak lebih hidup dari biasanya. Sebanyak 15 murid yang tergabung dalam Santher Band Club mengikuti kegiatan workshop musik berkonsep coaching clinic bertajuk “Band 101: Lebih dari Sekadar Skill Bermusik” pada 5 Februari lalu. Kegiatan ini dibuka langsung oleh pendamping klub band, Seta Dewa, dengan menghadirkan dua praktisi musik berpengalaman, Fikri Firmansyah dan Muhammad Sibly Al-Khadafi.
Kehadiran keduanya memberikan perspektif nyata dari dunia industri musik yang beragam. Fikri Firmansyah memiliki rekam jejak musikal yang panjang, ia telah bermusik sejak bangku sekolah dasar dan memiliki pengalaman berharga berlatih ansambel tradisional bersama seniman besar nasional, Almarhum Djaduk Ferianto. Sementara itu, Muhammad Sibly Al-Khadafi dikenal aktif di kancah musik independen Bangka dan telah menelurkan karya orisinal (album) bersama band-nya, Kill The Pain.

Dalam sesi pemaparan materi, Muhammad Sibly memperkenalkan analogi “kursi” untuk menjelaskan pentingnya pemahaman frekuensi agar setiap instrumen tidak saling bertabrakan.
“Ibaratkan ada 5 kursi, pemain bass, gitar, dan vokal itu punya kursinya masing-masing. Pemain bass duduk di frekuensi rendah, jangan sampai menyerobot kursi pemain gitar di frekuensi mid atau high,” jelas Sibly, menekankan pentingnya berbagi ruang frekuensi dalam sebuah lagu.
Di sisi lain, Fikri Firmansyah menyoroti sisi emosional dan chemistry antar pemain, khususnya di sektor ritme.

“Di musik itu ada namanya pendekatan emosional antar player. Pemain bass dan drum ritmenya harus cocok. Kalau mereka tidak akur, musiknya tidak akan masuk. Di sinilah dibutuhkan kedekatan emosional agar permainan menjadi solid,” ujar Fikri mengingatkan para murid.
Tak hanya soal teknis bermain, workshop ini juga membekali murid dengan mentalitas panggung yang profesional. Salah satu tips unik yang dibagikan adalah teknik “The Poker Face”. Murid diajarkan untuk tetap tenang dan memasang wajah biasa saja saat melakukan kesalahan di atas panggung, karena pertunjukan harus tetap berjalan (the show must go on) dan penonton tidak boleh terganggu oleh kesalahan tersebut.
Sibly juga memotivasi murid untuk memanfaatkan era digital. Menurutnya, saat ini berkarya tidak harus menunggu masuk studio rekaman besar. Ia mendorong murid untuk mulai percaya diri membuat konten kreatif di media sosial sebagai langkah awal membangun portofolio musik mereka.

Antusiasme terlihat jelas saat sesi tanya jawab. Salah satu peserta, Adel, sempat bertanya mengenai tips mencari teman band yang sefrekuensi untuk membangun chemistry. Menanggapi hal itu, narasumber menekankan bahwa musik adalah cara berteman yang ajaib, yang bahkan bisa menyatukan orang-orang yang awalnya mungkin tidak akur.
Suasana semakin pecah saat memasuki sesi kedua. Jika sesi pertama penuh dengan bekal teori dan mindset, sesi kedua menjadi ajang pembuktian melalui jam session.
Dalam sesi ini, para anggota Santher Band Club tidak hanya menonton, tetapi langsung berkolaborasi memainkan musik bersama kedua narasumber. Momen ini menjadi sarana praktik langsung penerapan “Seni Mendengar” (The Art of Listening), di mana murid belajar untuk lebih peka mendengarkan permainan rekan satu band dibandingkan hanya fokus pada jari sendiri.

Di penghujung acara, pesan moral yang kuat tentang etika bermusik kembali ditekankan. Skill setinggi langit tidak akan berguna tanpa attitude yang baik, seperti disiplin waktu latihan hingga budaya merawat alat sekolah.
Melalui kegiatan ini, SMP Santa Theresia berharap Santher Band Club dapat menjadi wadah lahirnya musisi-musisi muda yang tidak hanya terampil dan adaptif terhadap teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang positif dalam berkarya.
Kontributor: Seta Dewa
