Home » Pesan Bapa Uskup Adrianus Sunarko, OFM: Pendidikan yang Humanis Tidak Hanya tentang Relasi Antarmanusia

Pesan Bapa Uskup Adrianus Sunarko, OFM: Pendidikan yang Humanis Tidak Hanya tentang Relasi Antarmanusia

oleh humas YTK

Pangkalpinang, YTKNews.id – Yayasan Tunas Karya (YTK) mensyukuri perjalanan karya pelayanan pendidikan selama 68 tahun melalui Perayaan Ekaristi bersama di Gereja Paroki Santa Bernadeth Pangkalpinang, Rabu (8/9/2026). Perayaan Ekaristi berlangsung lancar dan khidmat, diikuti sekitar dua ratusan pegawai YTK dari berbagai jenjang sekolah yang tersebar di Pulau Bangka, serta pegawai Asrama St. Theresia Pangkalpinang. Turut hadir para tamu undangan dan sejumlah pegawai purnabakti YTK.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Bapa Uskup Adrianus Sunarko, OFM, selaku Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan Pembina YTK. Bapa Uskup didampingi RD. Servasius Samuel selaku Ketua YTK, RD. Aloysius Angus selaku Ketua Pengawas YTK, RD. Antonius Moa Tolipung selaku anggota Pengawas, RD. Yudi Kristianto selaku Bendahara, RD. Martinus Lejo da Silva dan RD. Mitsiebenson Sitepu selaku anggota Pengurus, RD. Yustinianus Ta’ Laleng selaku Vikep Bangka Belitung dan Pastor Kepala Paroki Katedral, serta RD. Untung Sinaga yang mewakili Pastor Kepala Paroki Santa Bernadeth Pangkalpinang.

Dalam homilinya, Bapa Uskup mengajak keluarga besar YTK menghayati tema HUT ke-68, “Mewujudkan Layanan Pendidikan yang Adil dan Humanis.” Tema tersebut, menurutnya, perlu dihubungkan dengan bacaan Kitab Suci tentang “waktu yang singkat” dan pengharapan akan datangnya zaman baru.

Menurut Bapa Uskup, pengharapan Kristiani tidak cukup hanya dinantikan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata, terutama melalui perhatian dan kepedulian kepada mereka yang tertinggal, tersisih, lemah, dan membutuhkan dukungan.

Pembina YTK juga menegaskan bahwa adil dan humanis merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Humanis, dalam arti sederhana, berarti menjadi manusiawi. Sikap tersebut diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan terlantar.

“Humanis itu mengandaikan adil. Menjadi humanis berarti menjadi manusiawi, menjadi manusia yang peduli pada mereka yang lemah dan terlantar,” ungkap Pembina YTK.

Namun, Bapa Uskup mengingatkan agar makna humanis tidak dipersempit hanya pada relasi antarmanusia. Semangat humanis perlu ditempatkan dalam perspektif ekologi integral, yakni kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari keseluruhan ciptaan dan memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.

“Jangan sampai humanis itu kita persempit hanya sebatas manusia. Kita perlu menempatkannya dalam kerangka ekologi integral.”, tegas Bapa Uskup.

Karena itu, pendidikan YTK juga dipanggil untuk menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan hidup sebagai rumah bersama, sekaligus memberikan perhatian kepada kaum difabel dan mereka yang membutuhkan pendampingan khusus.

“Kita juga perlu peduli dan merawat alam ciptaan serta memberikan perhatian kepada saudara-saudari kita yang difabel,” tegas Bapa Uskup.

Dalam konteks tersebut, Bapa Uskup juga mengingatkan keluarga besar YTK terhadap bahaya transhumanisme. Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, teknologi hendaknya ditempatkan sebagai sarana untuk membantu dan mengembangkan kehidupan manusia, bukan menggantikan atau mereduksi kemanusiaan itu sendiri.

Dengan demikian, pendidikan yang humanis tidak hanya bertujuan menghasilkan pribadi yang cerdas dan unggul secara akademis, tetapi juga membentuk manusia yang peduli, adil, berbelarasa, menghargai setiap pribadi, memberi perhatian kepada kaum lemah dan difabel, serta bertanggung jawab merawat alam sebagai rumah bersama. (da silva, pr)

Anda mungkin juga suka