Home » Ibadat Jalan Salib di Kapel Susteran KKS, Warga SD Santa Theresia 1 Pangkalpinang Hayati Makna Prapaskah

Ibadat Jalan Salib di Kapel Susteran KKS, Warga SD Santa Theresia 1 Pangkalpinang Hayati Makna Prapaskah

oleh Alexia Dea Ariyanti

Pangkalpinang, YTKNews.id –Suasana khidmat menyelimuti Kapel Susteran KKS pada Jumat, 27 Februari 2026. Setelah jam pelajaran sekolah berakhir, puluhan siswa-siswi SD Santa Theresia 1 Pangkalpinang tidak langsung pulang ke rumah. Bersama para guru, karyawan, dan orang tua murid berkumpul untuk melaksanakan ibadat Jalan Salib sebagai bagian dari rangkaian masa Prapaskah tahun 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak seluruh warga sekolah merenungkan kembali kisah sengsara Yesus Kristus menuju Bukit Golgota. Dengan dipandu oleh petugas liturgi dari siswa dan guru, ibadat berlangsung dengan khusyuk di dalam kapel yang tenang.

Pelaksanaan Jalan Salib ini menjadi momen spesial karena melibatkan kehadiran orang tua siswa. Kehadiran mereka di sela-sela kesibukan harian memberikan dukungan moral dan spiritual yang kuat bagi para siswa dalam memahami makna pengorbanan dan kesetiaan.

Salah satu guru agama, yaitu Ibu Elisabeth menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan karakter berbasis religi. “Kami ingin menanamkan nilai-nilai kerendahan hati dan keteguhan iman kepada siswa. Dengan berdoa bersama orang tua dan guru di kapel ini, aspek spiritual anak-anak diharapkan tumbuh sejalan dengan prestasi akademik mereka,” ujarnya. Ibu Didenickri, salah satu guru kelas yang mendampingi, menambahkan bahwa kegiatan ini juga melatih empati siswa. “Melalui setiap perhentian, kami mengajak anak-anak membayangkan betapa besar kasih Tuhan. Kami ingin mereka belajar bahwa setiap kesulitan hidup, jika dihadapi dengan doa dan kesabaran, akan membuahkan kemenangan iman”.

Ibadat berjalan dengan khidmat melalui 14 perhentian. Di setiap perhentian, para peserta diajak berhenti sejenak untuk mendengarkan dan merenungkan maknanya bagi kehidupan sehari-hari, dan diakhiri dengan doa bersama. Suara nyanyian lagu-lagu yang dibawakan dengan lembut oleh para siswa menambah suasana haru di dalam kapel.

Pengalaman spritual ini berkesan bagi para siswa, salah satunya bagi Gabriel, siswa kelas 5. “Tadi waktu Jalan Salib, saya merasa terharu. Walau sedikit capek baru pulang sekolah, tapi rasanya tenang bisa berdoa bareng mama, teman, dan guru-guru di kapel ini”.

Meskipun dilaksanakan tepat setelah pulang sekolah, semangat para siswa tidak luntur. Kedisiplinan dan kekhusyukan yang ditunjukkan oleh guru juga menjadi teladan nyata bagi para siswa dalam menjalankan tradisi gereja.

 

Henny Risnawaty Putri

Anda mungkin juga suka