Pangkalpinang, YTKNews.id — “Kaget campur senang! Nggak menyangka sama sekali bisa langsung juara 1, karena ini pertama kalinya saya ikut lomba menulis cerita,” ungkap Nicolle Letizia Chin dengan binar mata bahagia. Murid berbakat dari SMP Santa Theresia Pangkal Pinang ini baru saja menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kota Pangkal Pinang 2026 di SMPN 10 pada 18 Mei lalu. Nicolle sukses menyabet posisi pertama pada cabang lomba Menulis Cerita, sebuah pencapaian yang bahkan melampaui target pribadinya sendiri.
“Jujur, ini kejutan besar buat saya. Soalnya pas ditanya target sama Pak Sarwoko, guru pendamping lomba ini, saya jawab jujur, ‘Setidaknya top 3 aja udah bersyukur’. Jadi ketika nama saya diumumkan sebagai Juara 1, rasanya campur aduk,” kenangnya sambil tersenyum.
Daya imajinasi Nicolle memang patut diacungi jempol. Di saat anak-anak seusianya mungkin menulis cerita dari sudut pandang manusia, Nicolle justru mengambil langkah berani yang unik dan puitis. Ia menulis cerita dari sudut pandang sebuah sepeda yang setia menemani seorang anak laki-laki kurang mampu bernama Fajar.

“Idenya datang gitu aja, mungkin karena saya suka mengamati hal-hal kecil di sekitar,” cerita Nicolle penuh antusia.
“Waktu itu saya lagi memperhatikan roda dan ban sepeda teman-teman di sekolah. Terus kepikiran, gimana ya kalau ban itu punya perasaan dan bisa bercerita?”sambungnya.
Lewat narasi sang sepeda, Nicolle mengisahkan perjuangan Fajar yang kehilangan ayahnya akibat sakit. Di tengah kedukaan, Fajar menemukan makna sejati dari kata ‘pahlawan’ melalui obrolan dengan Mang Udin, seorang tukang tambal ban. Fajar menyadari bahwa sang ayah—yang selalu menolong orang lain meski dalam kondisi sakit—adalah pahlawan sejati.
“Melalui cerita ini, saya ingin menyampaikan kalau pahlawan itu bukan cuma orang yang punya kekuatan super, hebat, kaya, atau punya kekuasaan. Orang-orang di sekitar kita yang tetap berjuang demi orang yang mereka sayang juga adalah pahlawan,” tutur Nicolle, murid yang hobi membaca novel sejak kelas 6 SD ini.
Siapa sangka, bakat menulis Nicolle ternyata terasah dari kebiasaan sederhana di kelas, yaitu merangkum pelajaran.
“Dari situ saya jadi terbiasa menulis dan dapat banyak kosakata baru,” jelasnya.
Tentu saja, bakat alamiah ini makin matang berkat polesan dingin dari sang guru pembimbing, Sarwoko. Selama kurang lebih dua bulan, Nicolle intensif melakukan riset ide, latihan menulis, hingga merevisi naskah sepulang sekolah.
“Pas bimbingan maupun hari-H lomba, Pak Sarwoko selalu kasih masukan, dukungan, dan semangat. Beliau selalu berpesan: ‘Jangan gugup, kerjakan yang terbaik.’ Itu yang bikin aku tenang saat sempat deg-degan mengatur waktu di ruang lomba,” kata Nicolle penuh terima kasih.
Kini, sebagai Juara 1 tingkat kota, Nicolle tengah bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar: seleksi tingkat provinsi yang dikurasi langsung oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Saat ini, ia sedang dalam tahap brainstorming untuk merajut ide baru yang tak kalah memukau. Menghadapi persaingan yang akan makin ketat dengan perwakilan dari berbagai kabupaten, Nicolle tidak menampik rasa gugupnya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk memberikan yang terbaik.
“Pastinya agak gugup, soalnya karya teman-teman dari daerah lain pasti bagus-bagus. Tapi saya berharap bisa menulis dengan semaksimal mungkin. Saya berharap bisa membanggakan Tuhan, orang tua, guru, dan membawa nama baik SMP Santa Theresia. Saya juga senantiasa berdoa agar karya saya bisa lolos sampai ke tingkat nasional,” harapnya tulus.

Di akhir sesi wawancara, Nicolle membagikan pesan yang sangat menyentuh dan menyemangati untuk teman-temannya yang mungkin punya ketertarikan di dunia literasi tetapi belum berani melangkah.
“Jangan malu untuk berkarya, coba aja mulai menulis dulu beberapa kalimat. Nggak usah takut jelek atau gak bagus, yang penting kita berani mengutarakan isi pikiran dalam cerita. Semua penulis hebat juga mulai dari nol. Jadi, mulailah berani menulis, nanti perbaikannya belakangan, karena karyamu itu berharga. Semangat, kalian pasti bisa!” tutup Nicolle dengan penuh semangat.
Selamat berjuang, Nicolle! Segenap warga sekolah mendukungmu dalam doa. Semoga imajinasi indahmu kembali mengetuk hati para juri di tingkat selanjutnya!
Kontributor: Lidwina
