Home » Perjalanan Awal Karya Pendidikan di Kota Pangkalpinang.

Perjalanan Awal Karya Pendidikan di Kota Pangkalpinang.

oleh admin
“Mereka yang tidak mengingat masa lalu dikutuk untuk mengulangi.” Narasi demikian dipopulerkan oleh George Santayana.

Saya pernah terhentak oleh kata-kata itu. Beberapa tahun lalu. Tatkala, kata-kata George Santayana itu dituturkan ulang oleh seorang jurnalis kepada saya, tatkala kami sedang menyuruput kopi di salah satu kedai kopi di sudut kota Jakarta. Kala itu, saya mengajaknya berdiskusi dan sekalian melibatkannya dalam penulisan buku sejarah Pendidikan di Keuskupan Pangkalpinang, khususnya YTK. Walaupun pada hari kemudian, proyek ini disebut proyek ‘gagal.’

Walaupun  terhitung gagal untuk mengingat sejarah masa lalu karya pendidikan Gereja itu secara baik, sepenggal ingatan tentu berbekas dalam narasi. Lantas, dalam tulisan kali ini, saya mencoba memakai narasi itu sebagai ‘teropong’  untuk mengintip awal perjuangan para misionaris untuk meletakkan dasar misi Pendidikan di Kota Pangkalpinang.

Soal peletak sejarah misi dan karya pendidikan, Pangkalpinang mempunyai kemiripan dengan Belinyu. Pasalnya, gereja di Belinyu dan Pangkalpinang, didirikan oleh Pastor Y.Y. Langenhoff, Pr, pada tahun 1863. Tahun 1925, ada yang menyarankan, supaya misi melanjutkan pendidikan sekolah HCS setempat. Akhirnya maksud tersebut tidak dapat terlaksana, karena tidak diijinkan residen, yang mengatakan bahwa golongan orang Tionghoa tidak suka memasukkan anak-anak mereka di sekolah, yang dipimpin rohaniwan.

Pangkalpinang adalah sambungan dari Sambong. Dalam catatan “Sejarah Gereja Katolik jilid 3A” terbitan Nusa Indah, disebutkan secara tidak eksplisit bahwa sejak di Sambong, sudah ada sekolah katolik.

Teks sejarah itu menyebutkan , makin lama keadaan stasi Sambong makin mundur. Para penangungjawab reksa pastoral saat itu, memandang perlu dan memang sudah tiba saatnya stasi Sambong dipindahkan ke tempat lain. Adapun tempat lain yang dipilih untuk menggantikan Sambong, adalah Pangkalpinang.

Uniknya, catatan historis itu juga menyebutkan sekolah yang mulai kehilangan murid menjadi indikator historis untuk yang mempengaruhi kebijakan untuk memindahkan pusat stasi itu. Catatan sejarah itu menyebutkan secara eksplisit, “suatu bukti bahwa stasi Sambong sudah banyak kehilangan artinya, semula nampak dari keadaan sekolahan.” Buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia ini bahkan menyebutkan, pada waktu itu sekolahan Sambong, sudah kehilangan semua muridnya.

Dan dengan matinya sekolahan Sambong itu, maka misi Gereja Katolik di Bangka tidak mempunyai sekolahan Tionghoa lagi. Selanjutnya, pada bulan Februari 1930 di Koba, dibukalah sebuah sekolahan Tionghoa. Tetapi sekolahan Tionghoa ini nampaknya tidak mempunyai cukup daya untuk hidup, sehingga nantinya tertutup sama sekali.

Dalam catatannya pada buku “Kenangan Perjalanan 75 tahun (1934-2009) SD St Theresia I Pangkalpinang,” RD F.X Hendrawinata menyebut bahwa pada tahun 1931 Pastor Bakker membuka sebuah sekolah putra di Pangkalpinang. Waktu itu, menurut Romo Hendrawinata, Pastor Bakker SS.CC memimpinnya sendiri.

Pada saat itu juga, sudah terbersit dalam angan-angannya untuk membuka sekolah yang sama untuk anak putri. Ia membangun di pinggir sungai Rangkui sebuah gedung megah untuk sekolah putra itu. Pada bulan April 1934 ketika bruder-bruder Dongen (Bruder Budi Mulia) tiba di Pangkalinang maka sekolah putra itu diserahkan kepada konggregasi Budi Mulia untuk mengelolanya. Maka ketika itu, Pastor Bakker telah dapat memulai apa yang diangan-angankannya itu yaitu mendirikan sekolah khusus untuk anak putri.

Pada tahun itu juga ia mendirikan sebuah bangunan sederhana di halaman gereja yang baru selesai dibangun saat itu. Lokasinya saat ini sekitar Pastoran Katedral Pangkalpinang, terdiri dari beberapa lokal untuk dijadikan sekolah putri dan mulai menerima murid dan tercatat ada 30 murid.  Sejarah sekolah ini menjadi menarik ketika pada tahun 1938, tatkala suster-suster Belanda tarekat Penyelenggara Ilahi tiba di Pangkalpinang.

Disebut menarik, karena pada bulan Agustus pastor Bakker menyerahkan pengelolaan sekolah ini kepada para suster. Inilah cikal bakal SD Theresia Pangkalpinang yang pada tahun 2009 silam itu, merayakan usianya ke 75. Artinya tahun 2021 ini, SD Theresia memasuki usia 87.  (Stefan Kelen Pr)

Anda mungkin juga suka

Tinggalkan Komentar

* Dengan menggunakan formulir ini Anda setuju dengan penyimpanan dan penanganan data Anda oleh situs web ini.