Home » Dari Sampah Menjadi Berkah, Begini Cara Sederhana Siswa SD Katolik Tanjungpinang Merawat Bumi

Dari Sampah Menjadi Berkah, Begini Cara Sederhana Siswa SD Katolik Tanjungpinang Merawat Bumi

oleh Milawati Agustina Simanjuntak

Tanjungpinang, YTKNews.id—Sampah yang sering dianggap tak berguna, ternyata bisa menjadi awal pembelajaran besar tentang cinta lingkungan. Itulah yang dialami siswa Fase C (kelas 5 dan 6) SD Katolik Tanjungpinang dalam kegiatan kokurikuler bertema “Merawat Rumah Bersama”, yang dilaksanakan pada Rabu – Kamis, 4-5 Maret 2026.

Tema ini sejalan dengan Tema Pastoral 2026 Keuskupan Pangkalpinang, sehingga kegiatan tidak hanya menjadi pembelajaran sekolah, tetapi juga menjadi wujud nyata kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber, yaitu  Bapak Agung, umat Gereja Katolik Paroki Hati Santa Maria Tanjungpinang, yang telah lama aktif dalam pengolahan sampah organik melalui pembuatan POC (Pupuk Organik Cair), kompos, dan ecoenzim.

Pada hari pertama, siswa diajak mengenal lebih dalam tentang sampah melalui asesmen awal untuk mengetahui pemahaman mereka tentang jenis-jenis sampah, dampaknya, serta manfaat pengolahan sampah organik dan nonorganik. Suasana belajar semakin hidup saat materi disampaikan secara interaktif, nyata, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.

Diselingi kuis, tanya jawab, dan sesi pendapat berhadiah satu botol kompos POC, para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan. Banyak siswa aktif bertanya, berbagi ide, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap cara mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Memasuki hari kedua, suasana semakin semarak. Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu siswa yaitu praktik langsung pembuatan POC dan ecoenzim. Setiap kelompok membawa sampah organik dari rumah, seperti sayur-sayuran dan kulit buah, lengkap dengan perlengkapan yang dibutuhkan.

Setelah pengarahan awal, siswa mulai mencacah bahan-bahan organik, lalu mengolahnya menjadi kompos cair dan ecoenzim dengan bimbingan langsung dari Bapak Agung serta didampingi oleh bapak dan ibu guru. Kegiatan berlangsung seru, aktif, dan penuh kerja sama. Seluruh kelompok akhirnya berhasil menyelesaikan praktik pembuatan POC dan ecoenzim dengan baik.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan foto bersama narasumber, sebagai penanda bahwa belajar menjaga bumi bisa dimulai dari hal kecil, sederhana, dan dekat dengan kehidupan anak-anak.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga belajar bahwa sampah bukan sekadar sisa buangan.. Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan nilai penting bahwa merawat bumi adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari rumah, sekolah, dan kebiasaan sehari-hari. (mil)

Kontributor: Astriana

Anda mungkin juga suka