Mentok, YTKNews.id – Halaman SMP Santa Maria Mentok dipenuhi semangat kebersamaan saat seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengikuti apel sederhana dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kamis (23/7/2026).
Meski berlangsung secara sederhana di bawah hangatnya sinar matahari, apel tersebut berjalan dengan tertib, khidmat, dan sarat makna. Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum bagi SMP Santa Maria untuk menegaskan komitmennya dalam mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk perundungan (bullying).
Dalam amanatnya, Kepala SMP Santa Maria, Letisia Pare, mengingatkan seluruh warga sekolah bahwa setiap anak memiliki hak untuk belajar dan bertumbuh dalam lingkungan yang penuh penghargaan, kasih, dan rasa aman.
“Anak-anak adalah masa depan bangsa yang harus kita lindungi bersama. Di SMP Santa Maria, tidak ada ruang bagi perundungan baik fisik, verbal, maupun psikologis. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang aman, tempat di mana setiap anak merasa dihargai, didengarkan, dan didukung untuk berkembang sesuai potensinya,” tegas Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah juga mengajak seluruh peserta didik untuk menjadi upstander, yakni pribadi yang berani bersikap ketika melihat tindakan perundungan, bukan sekadar menjadi penonton. Menurutnya, kepedulian terhadap teman yang mengalami kesulitan merupakan wujud nyata karakter yang harus terus dibangun di lingkungan sekolah.

Peringatan Hari Anak Nasional di SMP Santa Maria semakin bermakna dengan doa bersama yang dipimpin secara bergantian oleh perwakilan siswa dari lima agama, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Konghucu, dan Buddha. Doa dipanjatkan untuk memohon perlindungan, kesehatan, kedamaian, serta masa depan yang lebih baik bagi seluruh anak Indonesia.
Suasana penuh toleransi dan persaudaraan yang tercipta dalam doa bersama menjadi cerminan semangat keberagaman yang terus dipupuk di lingkungan SMP Santa Maria.
Melalui apel sederhana ini, SMP Santa Maria tidak sekadar memperingati Hari Anak Nasional, tetapi juga mengirimkan pesan yang kuat kepada seluruh warga sekolah bahwa bullying tidak memiliki tempat di lingkungan pendidikan. Sebaliknya, sekolah harus menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, menumbuhkan karakter, memperkuat toleransi, dan membangun budaya saling menghargai demi masa depan anak-anak yang lebih baik.
