Sungailiat, YTKNews.id – Suasana di SMP Maria Goretti mendadak riuh dan penuh warna selama tiga hari berturut-turut. Mulai dari Rabu, 19 Agustus 2026 hingga puncaknya pada Jumat, 21 Agustus 2026, area lapangan basket sekolah berubah menjadi panggung kebersamaan. Perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia ini dikemas dalam berbagai perlombaan unik yang tidak hanya menguji ketangkasan, tetapi juga berhasil memancing gelak tawa seluruh warga sekolah.
Hari Pertama: Uji Keseimbangan di Lomba Makan Kerupuk Pakai Kaki
Kemeriahan dibuka pada Rabu pagi dengan perlombaan klasik yang diberi sentuhan variasi tak biasa: lomba makan kerupuk. Jika biasanya kerupuk digantung di atas kepala, kali ini setiap kelas yang diwakili oleh 5 pemain harus menghadapi tantangan ekstra. Tali kerupuk diikatkan langsung ke jari kaki peserta.
Sambil duduk, para peserta harus mengontrol gerak kaki mereka—mengangkat dan menahannya di udara agar kerupuk berada persis sejajar dengan mulut tanpa boleh dipegang oleh tangan. Sorak-sorai penonton pecah melihat ekspresi kocak para peserta yang bersusah payah menyeimbangkan kaki dan menggapai kerupuk. Setelah perjuangan penuh keringat dan tawa, Kelas 8B membuktikan ketangkasannya dan keluar sebagai juara pertama.
Hari Kedua: Jatuh Bangun Kekompakan dalam Balap Sarung
Keseruan berlanjut pada Kamis (20/8). Lapangan basket kembali dipadati siswa dan guru yang tak sabar menyaksikan lomba balap sarung. Setiap kelas menurunkan 6 pemain terbaiknya untuk berlomba dalam satu sarung yang sama.
Di sinilah ujian kerja sama dan kekompakan sesungguhnya dimulai. Ritme langkah yang tidak sinkron membuat beberapa tim harus mengalami momen jatuh bangun di tengah lapangan. Bukannya menyerah, aksi kocak mereka justru mengundang gelak tawa riuh dari pinggir lapangan. Lewat koordinasi langkah yang solid dan komunikasi yang baik, Kelas 7A berhasil melintasi garis finis lebih dulu dan menyabet gelar juara.

Hari Ketiga: Puncak Kemeriahan, Dari Basah-Basahan Hingga Goyang Daster
Jumat (21/8) menjadi puncaknya. Tiga cabang lomba digelar sekaligus, membuat atmosfer persaingan makin membara. Lomba diawali dengan pertarungan basah-basahan melalui Estafet Air yang berhasil dimenangkan oleh kesolidan Kelas 9A, disusul persaingan ketat dalam Serok Air yang dituntaskan dengan kemenangan manis oleh Kelas 9B.
Namun, panggung utama hari terakhir jatuh pada lomba Goyang Daster (atau yang kerap disebut lomba goyang kardus bola). Mengenakan daster warna-warni, para peserta diikatkan kotak kardus berisi bola pingpong di bagian pinggang belakang. Tanpa boleh menggunakan tangan, mereka harus berjoget, menggoyangkan badan, hingga melakukan lompatan-lompatan kecil agar seluruh bola di dalam kotak bisa terlempar keluar.
Kombinasi gerakan pinggul yang cepat, ayunan badan yang konstan, serta gaya joget yang mengocok perut membuat seluruh penonton bersorak histeris. Kelas 7A tampil memukau dengan strategi gerakan paling efektif dan keluar sebagai juara di cabang ini.
Makna Kemerdekaan bagi Generasi Muda Di penghujung acara, rasa lelah terbayarkan oleh kebahagiaan dan kebersamaan. Melvi, salah satu siswi dari kelas 8B yang ditunjuk mewakili teman-temannya, membagikan kesannya saat dimintai komentar terkait kemeriahan acara tersebut.
“Acaranya seru banget, lucu, dan kami semua berjuang keras supaya bisa menang demi membawa nama kelas. Kalau dulu para pahlawan berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan mengangkat senjata, kami di sini belajar meneruskan semangat itu dengan bekerja sama dan memberikan permainan terbaik untuk menjadi juara,” ungkap Melvi penuh antusias.
Rangkaian perayaan 17-an di SMP Maria Goretti ini sukses ditutup dengan penuh kesan. Lebih dari sekadar ajang unjuk kebolehan, perayaan ini berhasil merekatkan tali persaudaraan, memupuk sportivitas, dan mengukir kenangan manis bagi seluruh siswa.
Kontributor : Dewi Susanti
