Pangkalpinang, YTKNews.id – Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Adrianus Sunarko, OFM, mengajak Yayasan Tunas Karya (YTK) untuk terus memperluas makna humanisme dalam karya pendidikan. Menurutnya, pendidikan humanis tidak cukup hanya berbicara tentang relasi antarmanusia, tetapi juga harus diwujudkan melalui keadilan, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemanfaatan teknologi yang tetap menempatkan manusia sebagai pusat.
Pesan tersebut disampaikan Bapa Uskup Adrianus dalam Perayaan Syukur HUT ke-68 YTK, Rabu, 9 September 2026.
Dalam sambutannya di GOR SMP St. Theresia dan SMA St. Yosef, Bapa Uskup mengawali refleksi dengan kisah ringan ketika dirinya pernah ditanya mengenai kesannya setelah hampir sembilan tahun berkarya di Bangka. Beliau menjawab bahwa orang Bangka pada umumnya baik.
Namun, jawaban tersebut kemudian dikritisi oleh seorang umat yang mengingatkan bahwa orang yang ditemui Bapa Uskup tentu adalah orang-orang yang baik.
“Jadi, tidak selalu mencerminkan realitas sesungguhnya,” ungkapnya sambil mengajak seluruh peserta untuk melihat kenyataan secara lebih utuh.
Dengan nada bercanda, Bapa Uskup kemudian menceritakan bahwa di tengah keterbatasannya mengetahui secara mendalam seluruh perkembangan YTK, ia sempat meminta bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan gambaran mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan YTK agar semakin humanis.
Dari hasil tersebut, muncul sejumlah catatan yang menurutnya relevan untuk menjadi bahan refleksi bersama.
Keadilan Akses Pendidikan
Hal pertama yang ditekankan adalah pentingnya inklusivitas dan keadilan akses pendidikan. YTK didorong untuk terus memperluas semangat subsidi silang sehingga anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap memperoleh pendidikan berkualitas.
“Memastikan anak-anak dari latar belakang ekonomi kurang mampu tetap mendapatkan hak pendidikan berkualitas yang merata di seluruh jaringan sekolah YTK,” jelasnya.
Menurut Bapa Uskup, perhatian terhadap kelompok yang memiliki kebutuhan khusus juga merupakan bagian penting dari pendidikan humanis. Karena itu, fasilitas sekolah perlu semakin ramah terhadap penyandang disabilitas, baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik dan kependidikan.
“Perhatian pada mereka yang disabilitas juga bagian dari humanisme,” tegasnya.
Membangun Ekosistem Sekolah yang Aman
Hal berikutnya adalah menciptakan ekosistem belajar yang bebas dari perundungan atau bullying. Menurutnya, sekolah perlu memiliki kanal pengaduan yang aman dan rahasia bagi siswa yang mengalami tekanan maupun kekerasan.
Selain itu, pendidikan karakter perlu terus diperkuat melalui kurikulum yang praktis dan kontekstual. Pendidikan karakter tidak hanya berbicara mengenai budi pekerti, tetapi juga menumbuhkan empati serta penghargaan terhadap perbedaan budaya dan keyakinan.
Bapa Uskup menilai sejumlah karya yang diluncurkan YTK dalam momentum HUT ke-68 juga dapat menjadi bagian dari jawaban terhadap kebutuhan tersebut.
Teknologi Harus Tetap Berwajah Manusia
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, Bapa Uskup mengingatkan agar digitalisasi dalam pendidikan tidak justru mengurangi kedekatan manusiawi antara guru dan murid.
“Di tengah optimalisasi media digital, perlu dipastikan bahwa gawai dan platform yang datang setiap hari tidak menggerus kedekatan emosional antara guru dan murid,” ujarnya.
Karena itu, pendampingan karakter secara langsung di kelas tetap harus menjadi prioritas.
Bagi Bapa Uskup, transformasi digital harus berjalan bersama dengan humanisme. Teknologi perlu digunakan untuk membantu manusia, bukan menggantikan relasi manusiawi yang menjadi inti pendidikan.
Humanisme Juga Menyentuh Ekologi
Bapa Uskup kemudian memperluas refleksinya mengenai humanisme dalam konteks ekologi integral. Menurutnya, manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan hidupnya. Karena itu, pendidikan yang sungguh-sungguh humanis juga harus membangun kepedulian terhadap rumah bersama.
Pembina YTK mengapresiasi langkah-langkah YTK dalam memperkuat pendidikan ekologi melalui integrasi dalam kurikulum dan kebijakan sekolah, aksi nyata pengelolaan sampah, serta berbagai proyek pendidikan yang berkaitan dengan lingkungan.
“Humanisme harus juga dipikirkan dalam konteks ekologi integral,” katanya.
Menurutnya, kepedulian ekologis bukan sekadar tren, tetapi bagian dari pertobatan yang harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Realisme yang Sehat
Menutup refleksinya, Bapa Uskup mengajak seluruh keluarga besar YTK untuk terus bergerak melakukan pembaruan, tetapi sekaligus tetap berpijak pada kenyataan.
Beliau mengutip salah satu gagasan dalam Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV tentang pentingnya membangun peradaban kasih. Salah satu langkah yang ditekankan adalah merawat “realisme yang sehat.”
“Realisme yang sehat menghindari, di satu pihak, idealisme yang ekstrem dan, di lain pihak, sinisme terhadap kenyataan,” jelasnya.
Menurutnya, idealisme yang ekstrem dapat membuat seseorang mudah frustrasi ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, sinisme membuat seseorang menyerah dan berkata, “Ya sudahlah, memang biasanya begitu.”
“Realisme yang sehat berjalan di antara idealisme yang ekstrem dan sinisme yang menyerah pada kenyataan,” ujarnya.
Realisme seperti itu, lanjutnya, memungkinkan seseorang tetap menjaga harapan dan memperjuangkan idealisme, tetapi dengan kesabaran dalam menjalani proses yang membutuhkan waktu dan ketekunan.
“Harapan tetap dijaga, idealisme tetap diwujudkan, tetapi kita sabar menerapkannya dalam proses yang memang membutuhkan waktu dan ketekunan,” katanya.
Di akhir sambutannya, Bapa Uskup mengajak seluruh keluarga besar YTK untuk terus bergerak, memperbarui diri, dan menghadirkan pendidikan yang semakin adil serta humanis.
“Jangan berhenti untuk selalu melakukan pembaruan-pembaruan,” pesannya.
Pesan Bapa Uskup mengingatkan bahwa menjadi lembaga pendidikan yang humanis bukanlah sebuah pencapaian yang selesai sekali jadi. Humanisme harus terus diperbarui dan diwujudkan dalam pilihan-pilihan nyata: menghadirkan pendidikan yang adil, menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, merawat rumah bersama, serta memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusiawi. (da silva, pr)
