Home » Angkat Cerita Rakyat Suku Jerieng, Meigi dari SMP Santa Maria Mentok Raih Juara 1 Lomba Mendongeng LKS2

Angkat Cerita Rakyat Suku Jerieng, Meigi dari SMP Santa Maria Mentok Raih Juara 1 Lomba Mendongeng LKS2

oleh humas YTK

Mentok, YTKNews.id – Suara Meigi menggema lugas, membelah keheningan ruangan perlombaan dalam ajang Lomba Kompetensi Seni Siswa (LKS2) Tingkat Yayasan Tunas Karya. Di depan kamera, ia tak sekadar merangkai kata. Siswa kelas VIII ini menghidupkan kembali napas tradisi lisan yang perlahan meredup ditelan zaman.

Melalui dongeng berjudul Putong Beranyut, sebuah cerita rakyat khas Suku Jerieng, suku asli Negeri Serumpun Sebalai di Pulau Bangka, Meigi berhasil memukau para juri dan meraih Juara I cabang mendongeng LKS2 yang diumumkan pada 30 Oktober 2026 lalu.

Bagi lingkungan sekolah, jam terbang dan pancaran aura Meigi di atas panggung bukanlah hal yang mengejutkan. Sosoknya sudah lama dikenal sebagai anak yang sangat percaya diri dan berprestasi di dunia modeling. Berulang kali tampil di catwalk dan meraih piala dalam ajang peragaan busana membuat Meigi memiliki penguasaan panggung (stage presence), ekspresi, serta gestur tubuh yang begitu matang dibandingkan anak seusianya.

Kisah “Putong Beranyut” menceritakan rahasia keajaiban sebatang bambu yang hanyut. Kisah tersebut merupakan bagian dari sejarah lokal yang kini semakin jarang terdengar di telinga generasi muda. Keberanian Meigi menggali kembali cerita rakyat yang nyaris terlupakan ini menjadi daya tarik utama. Perpaduan antara kepercayaan diri yang diperoleh dari dunia modeling dan penjiwaan karakter yang mendalam membuat warisan lisan Suku Jerieng itu terasa hidup di atas panggung LKS2.

“Pengalaman di panggung modeling sangat membantu saya tampil percaya diri tanpa gugup di hadapan banyak penonton dan juri,” tutur Meigi sambil tersenyum bangga usai menerima piala. “Namun, saat mendongeng cerita “Putong Beranyut”, tantangannya berbeda. Saya harus memadukan kepercayaan diri itu dengan emosi yang terkandung dalam cerita Suku Jerieng agar kisahnya terasa autentik. Kemenangan ini bagi saya bukan hanya soal piala, tetapi juga tentang mengenalkan kembali identitas budaya kita.”

Proses penggalian cerita rakyat yang hampir terlupakan ini tentu tidak lepas dari peran guru pembina yang melihat potensi besar dalam diri Meigi, terutama dari rasa percaya dirinya.

“Meigi memiliki rasa percaya diri yang alami, dan itu merupakan aset luar biasa. Kami sengaja memilih “Putong Beranyut” dari Suku Jerieng karena misi kami adalah pelestarian budaya,” ungkap guru pembina Meigi. “Melihat Meigi mampu memadukan keberanian tampil di panggung dengan ketulusan dalam menjiwai cerita rakyat hingga menyentuh hati para juri merupakan kebanggaan luar biasa.”

Prestasi gemilang ini menegaskan konsistensi sekolah dalam meraih kemenangan pada cabang mendongeng. Tahun lalu, piala bergengsi di cabang yang sama juga berhasil diboyong oleh kakak kelasnya, Nola, yang meraih posisi tertinggi sebagai Juara I. Tongkat estafet kebanggaan itu kini resmi berada di tangan Meigi. Hal ini membuktikan bahwa tradisi bercerita dan upaya melestarikan budaya lokal terus berakar kuat.

Melalui kemenangan Meigi, kisah bambu ajaib Putong Beranyut tidak sekadar hanyut mengikuti arus tradisi, tetapi juga berhasil mengukir prestasi di panggung juara. Kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa rasa percaya diri seorang talenta muda mampu menghidupkan kembali kekayaan cerita rakyat Bangka bagi generasi mendatang.

Kontributor: Suwito

Anda mungkin juga suka