Pangkalpinang, YTKNews.id – Suasana penuh antusiasme dan kebersamaan mewarnai ruang pertemuan SMP Santa Theresia Pangkalpinang pada 30 Oktober 2026. Setelah kurang lebih tiga bulan menjalani proses pembentukan dan penerapan nilai-nilai karakter, sebanyak 15 kelas dari jenjang kelas VII hingga IX mengikuti Penilaian dan Presentasi Karakter Kelas. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi setiap kelas untuk menunjukkan konsistensi dan aksi nyata dalam menghidupi nilai-nilai karakter yang telah ditetapkan di hadapan dewan juri.
Sebelumnya, setiap kelas telah mendapatkan satu nilai karakter khusus untuk dipahami, diterapkan, dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah selama satu periode, yakni tiga bulan. Kegiatan penilaian ini menjadi puncak evaluasi untuk melihat sejauh mana nilai-nilai karakter tersebut tidak sekadar menjadi slogan yang terpampang di pintu kelas, tetapi benar-benar diwujudkan dalam perilaku sehari-hari para murid.
Dalam proses evaluasi, dewan juri menerapkan sistem penilaian dengan sejumlah aspek yang komprehensif. Konsistensi perilaku sehari-hari menjadi aspek dengan bobot penilaian terbesar, yaitu 30%, untuk mengukur keberlanjutan aksi nyata para murid. Sementara itu, kualitas bukti dokumentasi yang autentik serta kedalaman refleksi dan kejujuran murid dalam mengakui berbagai hambatan masing-masing memperoleh bobot penilaian sebesar 20%. Adapun kreativitas dalam mengembangkan program dan kekompakan seluruh warga kelas masing-masing memperoleh bobot sebesar 15%.
Beragam nilai karakter yang diterapkan oleh kelima belas kelas tersebut mencakup berbagai bentuk pembiasaan positif. Nilai-nilai tersebut meliputi Integrity Class, yang diwujudkan melalui aksi kejujuran dan penyediaan fasilitas lost and found (barang hilang dan ditemukan); No-Bullying Class, yang mengedepankan lingkungan ramah tanpa perundungan maupun pemberian julukan negatif; Religious Class, melalui pembiasaan sikap doa yang tulus dan suasana hening; Nationalist Class, yang menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui penghormatan terhadap bendera dan lagu-lagu nasional; serta Discipline Class dan Responsible Class, yang membiasakan ketepatan waktu, kerapian seragam, pelaksanaan piket secara mandiri, hingga kepedulian dalam merawat fasilitas sekolah.
Selain itu, para murid juga menghidupi nilai Eco-Friendly Class melalui pembiasaan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghemat energi; Persistent Class, yang mendorong ketekunan dalam belajar mandiri serta kemampuan beradaptasi; Digitally-Wise Class, yang menekankan penggunaan gawai secara bijak dan penerapan etika bermedia sosial; serta Respectful Class dan Hospitality Class, yang menggalakkan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) serta keramahan dalam menyambut tamu.
Nilai-nilai tersebut semakin diperkaya dengan penerapan Caring Class, Humble Class, Solidarity Class, dan Peaceful Class. Keempat nilai ini diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata, seperti berbagi bekal, melaksanakan tutor sebaya, membangun sikap rendah hati tanpa menyombongkan diri, serta menyelesaikan konflik secara damai melalui diskusi tanpa gosip maupun pertengkaran.
Sesi presentasi berlangsung hangat dan dinamis. Para perwakilan kelas secara bergantian memaparkan perjalanan, pengalaman, serta berbagai upaya yang telah dilakukan dalam menerapkan nilai karakter masing-masing. Indah, salah satu anggota dewan juri, menyampaikan pandangannya mengenai dampak positif kegiatan tersebut terhadap pembentukan karakter murid.
“Penilaian kelas karakter merupakan kegiatan yang positif untuk membentuk kebiasaan baik dan menanamkan nilai-nilai karakter kepada murid. Melalui kegiatan ini, murid diharapkan semakin disiplin, bertanggung jawab, peduli terhadap kebersihan lingkungan, nasionalisme, gadget dan juga saling menghargai, serta mampu bekerja sama dengan teman-temannya,” ujar Indah.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun masih terdapat kelas yang belum menunjukkan penerapan karakter secara maksimal, hal tersebut hendaknya menjadi motivasi untuk terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, seluruh kelas dapat berkembang dan bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang semakin nyaman, harmonis, serta penuh kepedulian.
Pandangan senada disampaikan oleh Lan Cen, S.Ag., Kepala SMP Santa Theresia Pangkalpinang, yang menyoroti pentingnya proses pembelajaran dalam kegiatan penilaian tersebut. Menurutnya, presentasi ini menjadi wadah untuk melihat sejauh mana para murid memahami dan mampu mewujudkan nilai-nilai karakter yang telah ditetapkan ke dalam tindakan konkret.
“Saya mengapresiasi kelas-kelas yang telah mampu menyusun program dengan baik, berusaha melaksanakannya meskipun belum sungguh-sungguh konsisten, dan menunjukkan bukti-bukti konkretnya. Namun, bagi kelas yang masih sebatas menyampaikan rencana, khususnya kelas VII, perlu ada refleksi dan pendampingan lebih lanjut,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program pembentukan karakter ini bukan sekadar kegiatan formalitas, melainkan bagian dari proses panjang dalam membangun budaya dan kebiasaan baik dalam diri setiap murid. Dalam proses tersebut, peran wali kelas sangat penting untuk memberikan pendampingan serta memastikan setiap program yang telah dirancang benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Melalui evaluasi selama satu periode ini, diharapkan pembentukan karakter tidak berhenti pada kegiatan penilaian dan presentasi semata. Sebaliknya, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi seluruh komunitas sekolah untuk terus bertumbuh, melakukan perbaikan, dan membangun kebiasaan positif. Dengan demikian, nilai-nilai karakter tersebut dapat semakin tertanam dan menjadi bagian dari kepribadian setiap murid SMP Santa Theresia Pangkalpinang.
Kontributor: Alexander
