Batam, YTKNews.id – Di sudut Kota Batam, tepatnya di wilayah Tanjung Uncang yang mulai berkembang dan dikenal sebagai kawasan industri galangan kapal, berdirilah pula sekolah baru naungan Yayasan Tunas Karya dengan tiga bangunan sederhananya. Bangunan itu adalah SMP Yos Sudarso II. Namun siapa sangka, SMP yang baru bertunas ini ikut hadir dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) perdananya. Tidak main-main, sekolah baru ini hanya memiliki tujuh pionir yang merupakan perintis awal sekolah tersebut. Ketujuh pionir itu beranggotakan seorang kepala sekolah, enam guru pendidik dan satu staf taman sekolah.
Ya benar, gedung mereka sederhana, dan jumlah guru serta staf yang minimalis. Tapi hal itu tak menyurutkan semangat mereka. Tahun ini, sekolah tersebut siap menyambut angkatan pertamanya; 63 siswa dari berbagai latar belakang dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) perdana mereka.

Menanam Benih di Ladang Baru
Sekolah muda ini memulai perjalanan di bawah kepemimpinan seorang Ibu kepala bernama Molina, S. Kom., beliau yang memiliki pengalaman yang mumpuni dalam bidang kurikulum kemudian ditunjuk oleh Yayasan Tunas Karya menjadi penggerak utama bagi kelima guru pionir dan satu staf. Bagi beliau siswa-siswi angkatan pertama SMP Yos Sudarso II juga merupakan pionir yang penting dalam mengukir sejarah awal sekolah ini.
“Anak-anakku sekalian, kalian adalah pionir, angkatan pertama yang akan mengukir sejarah SMP Yos Sudarso II. Jadikan kesempatan ini untuk belajar, berkembang, dan membentuk identitas sekolah kita bersama.” tegas Ibu Molina dengan penuh semangat dalam sambutan MPLS pada tanggal 14 Juli 2025.
Pernyataan itu lahir dari kesungguhan, bukan sekadar retorika. Hal ini terlihat dari aksi nyata para guru. Selama beberapa minggu sebelumnya, guru ketua penyelenggara MPLS, Florensia Marselli Kidi, S. Pd. bersama guru dan staf bahu membahu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam MPLS: merancang materi orientasi yang tentunya menyesuaikan dengan tema MPLS Ramah tahun ajaran 2025/2026 ini, membagi tugas yang kompleks namun dapat dikerjakan oleh kelima pionir guru beserta kepala sekolah. Tak hanya itu, lahan sekolah yang masih kosong dengan segera dihiasi tanaman-tanaman oleh Pak Usman Abas, seorang staf taman sekolah yang berpengalaman. Karya tangannya menambah keindahan wajah sekolah muda ini. Pekerjaan itu ia lakukan tak hanya jobdesk semata, namun agar siswa merasa disambut dengan hangat saat pertama kali melangkah ke sekolah ini.
MPLS, Bukan Sekadar Seremoni
Bagi kepala SMP Yos Sudarso II, Ibu Molina dan timnya, MPLS di sekolah muda ini bukanlah sekedar rutinitas biasa seperti di sekolah lainnya. Bagi mereka MPLS adalah momen penting yang dapat mendekatkan emosional antara guru dan siswa serta lingkungan yang baru. MPLS di SMP Yos Sudarso II juga menjadi fondasi awal yang sangat penting bagi komunitas sekolah ini.
“MPLS adalah fondasi awal yang sangat penting bagi sekolah kami,” tutur Ibu Molina. “Ini adalah kesempatan emas bagi 63 siswa dari berbagai SD untuk saling mengenal dan membentuk komunitas.”
Kelima guru beserta kepala sekolah telah mempersiapkan diri menjadi fasilitator dalam momentum MPLS. Mereka menyadari bahwa peralihan anak-anak dari SD ke SMP bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi di SMP Yos Sudarso II yang baru saja berdiri dengan dua kelas yang digunakan sebagai ruangan kelas. Para guru dengan pendekatan personal membantu siswa untuk beradaptasi, terutama bagi para siswa yang bukan berasal dari SD naungan Yayasan Tunas Karya.
“MPLS menjadi kesempatan bagi siswa untuk membangun jaringan sosial, memahami lingkungan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah baru mereka,” jelas Ibu Molina.
Program yang disusun pun mencerminkan visi tersebut: kegiatan pengenalan lingkungan, ice breaking, diskusi nilai-nilai sekolah, hingga eksplorasi program ekstrakurikuler seperti jurnalistik, coding, futsal, dan English Club.
Walaupun dengan ruang dan alat yang sederhana, MPLS SMP Yos Sudarso II berjalan tampak tertib dan penuh semangat. MPLS sekolah muda ini dibungkus dengan berbagai kegiatan yang edukatif selama 4 hari, yakni dari tanggal 14-17 Juli 2025.
Satu Visi, Tujuh Tangan
Ketujuh tangan bekerja dalam sunyi, siapa lagi kalau bukan para guru dan staf SMP Yos Sudarso II. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dengan tanpa batasan jobdesk, bersinergi bersama mempersiapkan MPLS. Tak hanya MPLS yang menjadi perhatian mereka kala itu. Mereka juga merancang sistem tata tertib yang baru, menyusun jadwal ekstrakurikuler, menyiapkan program kurikulum yang adaptif, mempersiapkan buku penghubung siswa, hingga menyusun simulasi kegiatan literasi. (Sfn)

Menanam Harapan di Tanah Baru
Sekolah ini mungkin baru memiliki tiga gedung dan belum dikenal luas. Tapi semangat tujuh orang pionir di SMP Yos Sudarso II itu telah menanamkan pondasi yang jauh lebih kuat daripada tantangan yang mereka hadapi. Semangat mereka tumbuh untuk mengabdi, dan membangun masa depan sekolah muda ini di dunia pendidikan.
Di bawah cerahnya langit dan teriknya matahari Tanjung Uncang, SMP Yos Sudarso II berdiri sebagai bukti harapan itu masih ada. Dan ketujuh pionir sekolah muda ini telah memulai menuliskan bab pertama perjalan sejarah SMP Yos Sudarso II dengan kerja keras, kesederhanaan, dan cinta mereka terhadap dunia pendidikan. Ketujuh pionir itu ialah:
- Molina, S. Kom.,
- Florensia Marselli Kidi, S. Pd.,
- Roy Don Bosco Sirait, S. Kom.,
- Aldiri Heribertus, S. Pd.,
- Sonia Veriyanti Damanik, S. Pd.,
- Kristina Dhue, S. Pd., dan
- Usman Abas.
Kini, perjalanan SMP Yos Sudarso II baru saja dimulai. Meski langkahnya masih muda, namun jejak semangat dan dedikasi para pionirnya telah memberi arah yang jelas: pendidikan yang bermakna, penuh kasih, dan berlandaskan pelayanan. Semoga kerja keras mereka menjadi fondasi yang kokoh untuk generasi penerus, dan semoga cahaya dari Tanjung Uncang ini terus bersinar, memberi harapan bagi masa depan yang lebih cerah.
SMP Yos Sudarso II bukan sekadar berdiri—ia mulai tumbuh, berakar, dan akan terus berbuah. (Sfn/Tri)
Penulis: Florensia Marselli Kidi, S. Pd.