Pangkalpinang, YTKNews.id — Memasuki gelombang keempat kegiatan retret SMP Santa Theresia pada 27 hingga 28 Januari lalu yang diikuti oleh kelas 9D. Puri Sadana di Bangka Tengah menjadi saksi transformasi mereka dalam retret bertema “Menemukan Jatidiri dalam Ketulusan”. Kegiatan ini dirancang khusus untuk melatih spiritualitas murid di akhir jenjang SMP.
Kegiatan hari pertama dibuka dengan pendalaman materi yang fundamental. Frater Ignatius Calvin Thomas S., hadir membekali para murid dengan pemahaman mendalam tentang konsep jati diri. Sesi ini menjadi fondasi penting sebelum mereka melangkah ke tahap refleksi yang lebih menantang pada malam harinya.

Momen paling emosional terjadi saat sesi Jurit Malam. Di tengah keheningan makam yang hanya diterangi nyala lilin, para murid diajak menyelami skenario imajiner yang menggetarkan: membayangkan bahwa jasad di dalam makam tersebut adalah diri mereka sendiri di masa depan. Dalam kekhusyukan itu, mereka ditantang untuk merumuskan pesan penting apa yang ingin disampaikan oleh “diri masa depan” kepada diri mereka saat ini.
Ini bukan sekadar uji nyali, melainkan momen titik balik bagi 35 murid kelas 9D SMP Santa Theresia Pangkalpinang yang menamakan diri mereka “Divya United” sebuah nama yang bermakna “Ciptaan Tuhan yang Disatukan”.
Selama perjalanan, para peserta membawa lilin yang mereka bawa dari rumah sebagai penerang perjalanan. Tak hanya itu, panitia memberikan misi mereka untuk menjaga dengan baik sebutir kelereng dan biji-bijian selama perjalanan.

Refleksi ini membekas kuat. Xaverius Reagan, salah satu murid, menyadari bahwa kelereng yang ia genggam melambangkan jati diri.
“Awalnya kita berjalan bergantung pada teman, tetapi ketika tidak memiliki orang untuk membantu, kita bisa mengandalkan jati diri untuk menuntun jalan kita,” ungkapnya.
Uniknya, ketegangan malam itu justru mencair menjadi keakraban yang tak terduga. Meski baru bisa tidur pukul 12 malam, energi murid seolah tak ada habisnya. Alih-alih terlelap, mereka justru kompak bangun pukul 3 pagi. Bukan karena takut, melainkan demi mencuri waktu untuk bermain Uno, bercengkrama, membangun keakraban dan memastikan tidak terlambat mengikuti kegiatan pagi.

Kegiatan berlanjut di alam terbuka di hari kedua, dalam sesi outbound bersama trainer, tawa riang bercampur dengan pembelajaran serius. Permainan yang disajikan bukan sekadar hiburan, melainkan cermin. Lewat tantangan fisik ini, murid “dipaksa” membongkar kelemahan dan kebiasaan buruk mereka yang selama ini tidak mereka sadari, lalu belajar mengatasinya dengan menggali makna di balik setiap permainan.
Dinamika ini sejalan dengan harapan Lauran Talia Abadi, ketua kelas 9D, yang ingin kelasnya lebih aktif, saling mendengarkan dan berani berekspresi. Senada dengan ungkapan H. Rizaldi, wali kelas 9D, yang berharap “Divya United” pulang dengan kepedulian tinggi dan ikatan yang saling mendukung dalam ketulusan kasih serta berani berpendapat namun tetap menghargai orang lain.
Kontributor: Haidar
