Pangkalpinang, YTKNews.id — Menutup rangkaian kegiatan spiritual bagi jenjang akhir, kelas 9C sukses menyelenggarakan retret di Puri Sadana pada 26-27 Januari lalu. Kegiatan ini menjadi momen krusial bagi para siswa untuk sejenak menepi dari rutinitas sekolah demi memulihkan batin dan karakter. Secara esensial, retret adalah sebuah momen menarik diri yang disengaja untuk membangun kembali jiwa yang lelah. Namun bagi kelas 9C, retret bukan sekadar ajang berkumpul atau bermain. Ini adalah perjalanan spiritual bagi mereka yang mendambakan perubahan positif, tempat di mana kedisiplinan dan tanggung jawab ditempa melalui refleksi mendalam.
Fokus utama retret kali ini adalah penguatan spiritual dan kesehatan mental. Axl Salim mengungkapkan bahwa setiap dinamika, mulai dari doa hingga permainan, dirancang untuk membantu setiap murid menemukan jati diri yang sebenarnya.

Senada dengan Axl Salim, Ferdi Huang Jaya juga menekankan bahwa retret ini menjadi titik balik bagi pendewasaan diri.
“Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa menghargai orang lain, membangun kepercayaan, dan menjaga kekompakan adalah kunci menjadi pribadi yang lebih baik.” kenang Ferdy penuh syukur.
“Kami pulang dengan kesadaran baru bahwa tanggung jawab dan kasih harus menjadi landasan hidup ke depan.” sambungnya.

Salah satu momen paling berkesan digelombang tiga ini adalah sesi Jurit Malam. Alicia berbagi bagaimana pengalaman di tengah kegelapan tersebut menjadi pelajaran hidup tentang kepercayaan pada kawan dan keberanian menghadapi ketidaktahuan.
Meskipun sempat diwarnai sanksi kedisiplinan akibat keterlambatan mengikuti Misa Pagi, hal tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi seluruh anggota kelas. Semangat mereka kembali berkobar saat sesi outbound yang menguji kemandirian dan kerja sama tim.
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran para pembimbing kegiatan. Para murid memberikan apresiasi mendalam kepada Romo, Suster, Frater, serta tim outbound yang telah menyediakan ruang, waktu, dan bimbingan yang penuh makna. Permainan yang disajikan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana belajar yang kaya akan filosofi kehidupan.

Materi “Mencari Jati Diri dalam Ketulusan Kasih” (Yohanes 13:34) yang menjadi tema utama diharapkan tidak berhenti di Puri Sadana saja, melainkan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah maupun lingkungan sekitar.
“Kami sangat berterima kasih kepada Romo, Suster, dan seluruh tim di Puri Sadana yang telah memfasilitasi ‘ruang tumbuh’ ini.” ucap Finsensia Suprapti, wali kelas 9C.
“Kami berharap, nilai Kasih yang Tulus yang telah anak-anak pelajari tidak hanya tertinggal di sana sebagai kenangan, tetapi dibawa pulang sebagai karakter baru yang mendewasakan mereka di sekolah dan masyarakat.” sambungnya penuh pesan untuk anak-anak.
Kontributor: Findi Xaverius
