Pangkalpinang, YTKNews.id — Kemeriahan perayaan Imlek yang berpadu dengan hangatnya Buka Puasa Bersama di SMP Santa Theresia Pangkal Pinang tahun ini juga terasa kompetitif. Salah satu agenda dalam perayaan tersebut adalah Lomba Tari Kreasi antarkelas, di mana setiap kelas berlomba menampilkan koreografi terbaik mereka.
Di tengah persaingan yang ketat, penampilan dari kelas 8C berhasil mencuri perhatian. Lima siswi yang terdiri dari Elizabeth Nadya Kaligis, Nachelle Zalika Clemira Runtuwene, Evellyn Laurence Clearesta, Michella Felyn, dan Flower Queen Nainggolan tampil energik dengan atasan tunik Shanghai merah dan celana panjang krem yang modern.
Membawakan lagu Mandarin berjudul “Zhāng Fú Qi Mǎ Shàng Lái”, grup ini memilih kipas tari rumbai sebagai properti utama. Namun, keindahan kibasan rumbai tersebut tidak didapat dengan instan. Selama dua minggu lebih masa persiapan, mereka harus bergelut dengan teknis penggunaan kipas yang cukup sulit bagi pemula.
“Awalnya menantang sekali. Ada momen rumbainya tidak sengaja terinjak, bahkan sempat tidak sengaja ‘menampar’ muka teman sendiri saat menari,” kenang mereka sambil tertawa.

Berkat ketekunan, kesulitan itu berhasil diatasi hingga menghasilkan gerakan yang luwes dan sinkron untuk disajikan kepada penonton. Koreografi yang mereka bawakan merupakan hasil kolaborasi kreatif. Mereka menggabungkan gerakan dari pelajaran PJOK, referensi video original lagu tersebut, serta gerakan ciptaan mereka sendiri demi menghasilkan dampak visual yang maksimal bagi audiens dan tim penilai.
Strategi mereka untuk membuat suasana “heboh” terbukti berhasil. Di tengah penampilan, mereka melakukan aksi berani dengan menyebar dan mendekat ke arah penonton. Tidak hanya menari, mereka benar-benar menebarkan angpao (amplop merah) asli berisi uang kepada audiens yang hadir. Tak berhenti di situ, kelima murid ini juga menunjukkan sisi kepercayaan diri mereka dengan membagikan angpao langsung ke para juri. Aksi ini sontak memicu sorak-sorai dan tawa dari seluruh hadirin. Bagi mereka, melihat antusiasme penonton adalah bayaran yang sepadan bagi kerja keras mereka.
“Ketika audiens bersorak, kami sangat senang melihat dan mendengarnya. Itu pertanda bahwa gerakan yang susah payah kami susun berhasil diterima dengan baik oleh semua orang,” ungkap Nadya, yang bersama Nachelle menjadi koreografer gerakan-gerakan memukau itu.

Di balik semangat kompetisi, penampilan ini membawa misi yang lebih dalam tentang indahnya toleransi. Melalui partisipasi dalam acara gabungan dua tradisi besar ini, Nadya dan kawan-kawan memetik pelajaran berharga tentang hidup berdampingan.
“Kami menyadari bahwa keberagaman itu indah. Karena kita hidup di tengah perbedaan, maka hal itu harus selalu kita hargai,” pungkas Nadya.
Penampilan kelas 8C ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan kebersamaan bisa menjadi jembatan yang menyatukan setiap perbedaan dalam harmoni yang luar biasa.
Kontributor: Lidwina
