Home » Ikhtiar Kemenag dan IPARI, Siapkan Murid SMP Theresia Pangkal Pinang Menuju Indonesia Emas 2045

Ikhtiar Kemenag dan IPARI, Siapkan Murid SMP Theresia Pangkal Pinang Menuju Indonesia Emas 2045

oleh Marcelina Sandra

Pangkalpinang, YTKNews.id — Keberagaman menjadi salah satu kekayaan bangsa Indonesia, namun jika tidak disikapi dengan baik maka keberagaman menjadi sebuah tantangan. Untuk memastikan keberagaman tetap menjadi aset kekuatan menuju Indonesia Emas 2045, Kantor Kementerian Agama Kota Pangkal Pinang bersama Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) mengambil langkah preventif edukatif. Bertempat di Gedung Olahraga (GOR) SMP Theresia Pangkal Pinang pada 21 April 2026, sesi penyuluhan terbagi menjadi 2 yakni kelas 7 dan kelas 8. Pada sesi kelas 7 ini, seluruh murid juga turut antusias medalami nilai-nilai moderasi beragama sebagai fondasi karakter menuju Indonesia Emas 2045.

Kegiatan bertajuk “Pembinaan Generasi Emas” ini menitikberatkan pada Asta Protas 1: Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan. Fokus utamanya adalah memberikan pemahaman mendalam bahwa kerukunan bukan sekadar pilihan, melainkan kekuatan dalam menjaga bangsa dan negara.

Masih dengan tema yang sama seperti kelas 8, murid-murid kelas 7 juga di ajak untuk mengikuti 9 materi penyuluh lintas agama yang membedah nilai-nilai moderasi dalam paparan yang dinamis.

Antusiasme terpancar dari para peserta yang mengikuti pembinaan ini. Salah seorang perwakilan murid mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuka cakrawala baru baginya.

“Saya belajar bahwa menghargai orang lain adalah langkah nyata saya sebagai murid untuk menjaga Indonesia tetap rukun. Kegiatan ini sangat baik karena memberikan inspirasi kepada kita mengenai lintas agama dan bagaimana kita menghargai sesama yang berbeda agama, contohnya seperti pembangunan relasi tanpa perlu memandang latar belakang agama dan mengembangkan sikap toleransi,” tutur Ezra, selepas kegiatan itu berakhir.

“Saya baru menyadari bahwa moderasi beragama bukan tentang mencampuradukkan agama, tapi bagaimana kita yang berbeda ini bisa saling menghormati. Seperti materi tadi, cinta kemanusiaan itu tidak mengenal batas perbedaan,” tambahnya kemudian.

Selanjutnya, Carla menyampaikan ketertarikannya tentang materi media digital.

“Materi tentang media digital sangat menarik. Sekarang saya paham kalau kita punya tanggung jawab untuk tidak menyebarkan kebencian di media sosial, tapi justru harus menyebarkan pesan-pesan kerukunan agar Indonesia tetap damai menuju tahun 2045 bahkan tahun-tahun selanjutnya.” jelasnya.

Dukungan penuh juga datang dari guru pendamping yang mengawasi jalannya sesi pertama.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Kemenag dan IPARI di SMP Santa Theresia Pangkal Pinang. Jika berbicara tentang moderasi bergama sebenarnya lumayan berat untuk dibahas, namun Kemenag dan IPARI mampu mengemas pemaparan materi dengan bahasa dana penyampaian yang mudah dipahami anak-anak. Nilai-nilai moderasi beragama ini sangat relevan dengan keseharian murid di sekolah. Semoga mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang toleran dan memiliki empati tinggi terhadap sesama,” ujar Feby, selaku guru pendamping.

Yohanes Bosco Otto, selaku salah satu pemateri, menegaskan bahwa moderasi beragama adalah cara beragama yang moderat demi keutuhan bangsa. Melalui kegiatan ini, murid diajak membangun aksi kolaboratif yang dimulai dari hal sederhana, seperti tutur kata yang santun dan tindakan penuh kasih sayang di sekolah.

Kegiatan yang berlangsung dinamis ini diakhiri dengan harapan besar bahwa benih-benih moderasi yang ditanamkan akan tumbuh menjadi pohon perdamaian yang kokoh. Dengan karakter yang kuat, murid SMP Theresia siap menjadi garda terdepan dalam merajut harmoni demi mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

 

Kontributor: Theresia F. Pakpahan

Anda mungkin juga suka