Home » Perkaju SD Maria Goretti Tempa Kemandirian dan Kedisiplinan Siswa

Perkaju SD Maria Goretti Tempa Kemandirian dan Kedisiplinan Siswa

oleh humas YTK

Sungailiat, YTKNews.id – Dua hari penuh kebersamaan, tawa, dan belajar di alam terbuka mewarnai Perkemahan Kamis Jumat (Perkaju) yang diselenggarakan di SD Maria Goretti pada tanggal 29 – 30 Oktober 2026. Kegiatan kepramukaan ini diikuti dengan antusias oleh 12 regu, terdiri atas 7 regu putra dan 5 regu putri.

Perkaju kali ini mengusung tema “Tumbuh Bertunas, Merawat Rumah Bersama”. Tema tersebut mengajak para siswa untuk bertumbuh seperti tunas yang terus berkembang, sekaligus ikut menjaga dan merawat rumah bersama, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan tempat mereka hidup.

Perkaju dirancang untuk membina mental, kemandirian, kedisiplinan, serta kerja sama antarsiswa melalui rangkaian kegiatan yang edukatif sekaligus menyenangkan. Di tenda-tenda sederhana, para siswa belajar bahwa karakter tidak dibentuk di ruang yang nyaman, tetapi di tempat mereka berani mencoba, bekerja sama, dan saling menguatkan.

Hari Pertama: Belajar, Berlatih, dan Menyalakan Semangat

Kegiatan dibuka dengan registrasi peserta dan ibadat pembukaan, lalu dilanjutkan dengan upacara pembukaan. Pada hari pertama ini, kegiatan juga diperkuat dengan kehadiran Pengurus Inti TKK Keuskupan Pangkalpinang yang diwakili oleh Kak Willy, Kak Heri, dan Kak Dion. Kehadiran para kakak pengurus menjadi dukungan dan penyemangat bagi adik-adik peserta untuk menjalani perkemahan dengan sungguh-sungguh.

Para peserta kemudian mengikuti sesi pendalaman materi kepramukaan, pelatihan pionering, dan manajemen tenda. Mereka juga berlatih untuk mempersiapkan malam keakraban. Puncak kegiatan pada hari pertama berlangsung pada malam hari melalui api unggun yang hangat dan penuh kebersamaan. Suasana lapangan berubah khidmat saat prosesi penyulutan obor Dasa Darma digelar. Sepuluh petugas Dasa Darma memasuki lapangan membawa obor yang belum menyala, lalu berdiri melingkari tumpukan kayu api unggun. Pembina menyulut obor utama, kemudian nyalanya diteruskan kepada 10 obor Dasa Darma. Para petugas lalu membacakan Dasa Darma secara bergantian. Setiap kali satu darma selesai dibacakan, petugas melangkah maju dan menyulutkan obornya ke tumpukan kayu hingga api unggun berkobar. Setelah api membesar, seluruh peserta bergandengan tangan dan menyanyikan lagu “Api Unggun”. Dari satu obor, nyala dibagikan kepada banyak obor, api tidak berkurang ketika dibagikan, dan kebaikan pun demikian.

Dalam cahaya api unggun yang berkobar, acara berlanjut dengan pementasan seni (pensi) dari masing-masing regu. Panggung terbuka di tengah lapangan itu menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan bakat sekaligus melestarikan budaya. Seperti api yang menyala dari banyak obor, keindahan malam itu lahir dari banyaknya warna yang dipersembahkan bersama.

Pensi dibuka dengan penampilan salah satu regu putri yang membawakan gerak dan lagu diiringi tamborin. Dentingan tamborin yang berpadu dengan suara riang mereka dan gerakan yang kompak langsung mencairkan suasana. Penonton ikut bertepuk tangan mengikuti irama. Penampilan itu menunjukkan bahwa kekompakan yang dilatih bersama akan selalu enak dipandang dan didengar.

Suasana kemudian berganti dengan pertunjukan wayang kulit. Beberapa peserta tampil membawa wayang kulit koleksi dari rumah masing-masing, sementara salah satu peserta bertindak sebagai dalang. Dengan suara yang dibuat selantang dan sedalam dalang sungguhan, ia menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan di balik layar, dibantu teman-temannya yang memainkan wayang lainnya. Penampilan yang penuh semangat itu memikat perhatian seluruh peserta. Di era yang serba digital, anak-anak tidak hanya menonton, tetapi juga mengenal dan memainkan langsung warisan leluhur yang kaya akan tuntunan hidup. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya.

Keceriaan berlanjut lewat berbalas pantun. Satu regu melontarkan sampiran dan isi yang jenaka, sementara teman peserta lainnya menjawab dengan tak kalah cerdas. Selain mengasah kreativitas berbahasa, pantun menjadi pengingat bahwa pesan baik akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan santun dan gembira.

Pensi ditutup dengan joget bersama. Tanpa memandang regu, putra maupun putri, peserta berbaur dalam satu lingkaran besar, bergoyang dan bernyanyi mengikuti irama. Suasana kian meriah ketika gerak dan lagu Senam Semut mengalun, dan langsung diikuti secara spontan oleh peserta. Tak disangka, beberapa kakak pembina putra pun ikut bergabung, menirukan setiap gerakan dengan penuh semangat. Tawa pun pecah, sebab di lapangan itu tidak ada lagi sekat antara pembina dan peserta. Kaki melangkah, tangan bertepuk, dan wajah-wajah berseri memancarkan satu pesan yakni kebersamaan adalah hiburan yang paling hangat.

Menjelang waktu istirahat, para peserta mengikuti renungan malam. Dalam suasana tenang, kakak pembina mengajak mereka menyadari bahwa tidak semua orang menghadapi kesulitan dengan cara yang sama. Ada yang ingin menyerah, ada pula yang gelisah tetapi memilih diam. Pada saat seperti itu, kepedulian tidak harus diwujudkan lewat hal besar. Menawarkan selimut, mengajak duduk, atau menyapa teman yang sendirian sudah menjadi wujud nyata “suka menolong” dalam Dasa Darma.

Pesan yang ditekankan pun jelas bahwa Dasa Darma bukan sekadar hafalan, melainkan pilihan-pilihan kecil yang diambil dan diulang setiap hari, seperti tunas yang tumbuh perlahan hingga menjadi kebiasaan. Kebaikan tidak selalu hadir dalam tindakan besar. Sering kali ia lahir dari hal kecil yang dilakukan dengan tulus. Setelah itu, para peserta beristirahat di tenda masing-masing.

Hari Kedua: Mandiri dan Kompak

Pagi hari diawali dengan apel pagi. Setelah itu, peserta menikmati sarapan bersama dengan menu olahan telur yang dimasak sendiri oleh adik-adik dengan bantuan kakak-kakak pembina. Kegiatan memasak ini menjadi ajang belajar mandiri dan bekerja sama dalam suasana yang akrab.

Kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian games jelajah terpadu berbasis pos di sekitar lingkungan sekolah. Permainan ini menguji kekompakan setiap regu, sebab di setiap pos tidak ada satu pun yang bisa menang sendirian.

Perkaju kemudian ditutup secara resmi melalui upacara penutupan, pengumuman regu terbaik, evaluasi bersama, dan doa penutup. Para peserta pun kembali ke rumah dengan membawa pengalaman berharga. Koordinator Kegiatan Perkaju, Amertasari Sumitomo, S.Pd.SD., menyampaikan harapannya atas terlaksananya kegiatan ini. “Kami bersyukur anak-anak dapat mengikuti Perkaju dengan semangat dan sukacita. Melalui kegiatan ini, mereka belajar mandiri, disiplin, dan saling membantu dalam regu. Harapan kami, nilai-nilai Dasa Darma dan Tri Satya tidak berhenti di perkemahan, tetapi terus dihidupi anak-anak di sekolah, di rumah, dan di mana pun mereka berada,” tutur Amertasari.

Melalui Perkaju, SD Maria Goretti berharap para siswa tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Sebab, perkemahan hanya berlangsung dua hari, tetapi nyala kebaikan yang dinyalakan di sana diharapkan terus menerangi hari-hari mereka sesudahnya.

Kontributor: Ida Hastuti, S.Pd.

 

Anda mungkin juga suka