Home » ‎Inilah yang Terjadi Ketika Dua Ilmu Bersatu

‎Inilah yang Terjadi Ketika Dua Ilmu Bersatu

oleh Tarsisius Ramto Idong

Belinyu, YTKNews.id — Semangat pembelajaran di SMP Santo Yosef terasa begitu hidup dan mendebarkan ketika siswa-siswi kelas IX mengikuti kegiatan pembuatan berbagai macam alat peraga pembelajaran pada Selasa, 17 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi melalui buku dan teori, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang kreatif dan menyenangkan.
‎Kegiatan ini diinisiasi oleh dua guru yang mengampu mata pelajaran berbeda, yakni Maria Via Mega Ade Putri (Matematika) dan Monika Grasiana Benta (IPA). Melalui kegiatan kokurikuler ini, keduanya berkolaborasi untuk mendukung pembelajaran intrakurikuler sehingga siswa dapat memahami materi secara lebih mendalam dengan cara yang aplikatif.


‎Suasana kelas tampak begitu dinamis. Wajah-wajah serius namun penuh semangat menghiasi ruangan ketika para siswa sibuk mengerjakan tugas mereka. Gunting, pulpen, kuas, serta berbagai bahan pewarna terhampar di setiap sudut meja. Di tengah aktivitas tersebut, terlihat antusiasme yang tinggi dari para siswa yang berusaha mengubah konsep-konsep teori yang telah dipelajari menjadi alat peraga yang nyata dan mudah dipahami.
‎Maria Via Mega Ade Putri menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih konkret. Menurutnya, ketika siswa membuat alat peraga sendiri, mereka tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami bagaimana konsep tersebut bekerja dalam kehidupan nyata.

“Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa matematika tidak selalu identik dengan angka di buku. Ketika mereka membuat alat peraga, mereka belajar berpikir logis, kreatif, dan melihat hubungan antara konsep matematika dengan hal-hal di sekitar mereka,” ungkap Putri.
‎Sementara itu, Monika Grasiana Benta menambahkan bahwa kolaborasi antara mata pelajaran IPA dan Matematika menjadi kesempatan yang sangat baik bagi siswa untuk melihat keterkaitan antara dua bidang ilmu tersebut. Ia menilai bahwa pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna.
‎“IPA dan matematika sebenarnya sangat dekat. Dengan kegiatan seperti ini, siswa dapat melihat bahwa kedua ilmu tersebut saling melengkapi. Mereka belajar mengamati, menghitung, dan sekaligus memahami proses ilmiah secara lebih nyata,” jelas Benta.
‎Kepala SMP Santo Yosef, Eko Sudaryanto, turut mengapresiasi kegiatan kolaboratif tersebut. Ia menilai bahwa pembelajaran yang melibatkan kreativitas dan kerja sama seperti ini sangat penting untuk membentuk pola pikir kritis dan inovatif pada siswa.
‎“Kegiatan seperti ini sangat baik karena siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan apa yang mereka pelajari. Kolaborasi antar guru juga menunjukkan bahwa pembelajaran bisa menjadi lebih kaya ketika berbagai disiplin ilmu dipadukan,” ujar Eko.
‎Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya menghasilkan berbagai alat peraga yang menarik, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berkesan. Kolaborasi antara matematika dan IPA membuktikan bahwa ketika dua ilmu bersatu, pembelajaran dapat menjadi lebih hidup, kreatif, dan penuh makna.
‎Di SMP Santo Yosef, belajar bukan sekadar memahami pelajaran, tetapi juga menemukan cara baru untuk melihat dunia melalui ilmu pengetahuan. Dan dari ruang kelas sederhana itu, semangat eksplorasi para siswa terus tumbuh, menjadi langkah kecil menuju masa depan yang lebih cerah.

Anda mungkin juga suka