Home » Komunitas Maria Goretti Siap Menjaga Ritme Dayung Saat Kasih Menjadi Satu-satunya Kompas

Komunitas Maria Goretti Siap Menjaga Ritme Dayung Saat Kasih Menjadi Satu-satunya Kompas

oleh fristytarigan

Sungailiat, YTKNews.id – Mengawali pekan dengan semangat pembaruan spiritual, para guru dan karyawan di bawah naungan Yayasan Tunas Karya menggelar kegiatan rekoleksi pada hari Senin hingga Selasa, 30–31 Maret 2026. Mengusung tema “Mendayung Bersama dalam Kasih”, kegiatan ini berlangsung khidmat sekaligus hangat di dua lokasi utama, yakni Gereja Katolik Santa Maria Pengantara Segala Rahmat dan kawasan pesisir Puri Ansel, Sungailiat.

Rangkaian acara pada hari pertama dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Lukas Darsono, MSF.  Dalam homilinya, beliau menekankan pentingnya menjaga api pelayanan agar tidak padam di tengah rutinitas pendidikan. Usai misa, kegiatan berlanjut dengan sesi pemaparan materi.

antusiasme dalam mendengar materi Romo Lukas

Dalam Sesi 1 dan 2, Romo Lukas mengupas tuntas filosofi di balik tema rekoleksi. Beliau menjelaskan bahwa mendayung bersama dalam kasih berarti setiap anggota komunitas harus memiliki arah yang sama. Kekuatan dayung bukan hanya pada otot, melainkan pada sinkronisasi hati. Tanpa kasih sebagai pengikat, biduk komunitas akan berputar di tempat atau bahkan karam diterjang badai tantangan zaman.

Acara pun dilanjutkan dengan makan Bersama. Setelah santap siang, peserta berpindah lokasi ke Puri Ansel, sebuah penginapan asri di tepian pantai. Suasana pesisir yang tenang menjadi latar belakang sempurna bagi rangkaian outbound sore hari. Terdapat tiga permainan yang menguji kerja sama tim, antara lain game tebak gaya yang menguji ketajaman komunikasi non-verbal, game memasukkan bola dalam keranjang, untuk melatih fokus dan koordinasi, dan game mengeluarkan bola dari keranjang. Permainan terakhir inilah yang paling menantang. Peserta dituntut memiliki kesabaran ekstra dan kekompakan tinggi untuk mencapai tujuan bersama tanpa menjatuhkan bola.

keseruan sesi games

Malam harinya, suasana berubah menjadi reflektif melalui sesi renungan malam yang dipandu oleh  Suster Detta dan  Ibu Ida selaku guru SD Maria Goretti. Keduanya mengajak peserta untuk menilik kembali sejauh mana “dayung kasih” telah dipraktikkan dalam relasi antar rekan kerja maupun pelayanan kepada siswa. Melalui refleksi berdasarkan tema tersebut, peserta diajak untuk melepaskan segala ego demi harmoni gerak komunitas yang lebih solid.

Suasana khidmat yang menyelimuti acara renungan malam seketika berubah menjadi hangat dan penuh keceriaan. Usai mengikuti sesi refleksi diri yang menyentuh hati, seluruh peserta melanjutkan agenda dengan kegiatan Malam Keakraban (Makrab) yang dipusatkan di tepi pantai.

Kegiatan ini dirancang sebagai sarana penyegaran (refreshing) sekaligus memperkuat soliditas antar rekan kerja. Tidak ada lagi sekat formalitas, semua berbaur dalam kegembiraan saat sesi bernyanyi bersama dimulai. Satu per satu guru dan karyawan bergantian menyumbangkan suara mereka, membawakan berbagai genre lagu, mulai dari tembang kenangan hingga lagu populer masa kini. Suasana semakin meriah saat Pak Pandu, salah satu guru yang dikenal memiliki suara emas dan teknik vokal mumpuni, mulai menyanyikan lagu “Di Tengah Ombak”, sontak seluruh peserta pun tergelitik untuk ikut bernyanyi bersama.

Antonius Aries Widodo, S.Pd. selaku ketua panitia menyampaikan bahwa transisi dari acara renungan yang serius ke malam keakraban yang santai bertujuan untuk menjaga keseimbangan emosional para peserta. “Setelah kita diajak merenung dan mengisi kembali aspek spiritual, sekarang waktunya kita merayakan kebersamaan melalui musik,” ujarnya.

Hari kedua diawali dengan energi positif melalui senam pagi yang dipandu oleh Ibu Nita, salah satu guru TK Maria Goretti. Gerakan energik di bawah sinar matahari pagi membangkitkan semangat para peserta sebelum melanjutkan agenda keakraban.

Sebelum kegiatan berakhir, sesi refleksi menjadi momen krusial. Perwakilan guru dari masing-masing unit memberikan testimoni, ide, serta masukan konstruktif demi penyelenggaraan rekoleksi yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Ferdinandus Andry Setyawan, S.E., selaku pimpinan unit, menyampaikan apresiasi mendalam atas terlaksananya kegiatan ini. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya relevansi tema dengan kinerja sehari-hari.

“Rekoleksi ini bukan sekadar jeda dari pekerjaan, melainkan momentum untuk menyelaraskan kembali visi kita. ‘Mendayung Bersama dalam Kasih’ adalah panggilan bagi kita semua di Komunitas Maria Goretti untuk bekerja bukan sebagai individu yang terisolasi, melainkan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Saya berharap semangat dari Puri Ansel ini bisa dibawa pulang ke sekolah masing-masing untuk melayani anak didik dengan kasih yang lebih dalam,” ujar beliau.

Kegiatan ditutup dengan doa dan foto bersama, menandai kesiapan Komunitas Maria Goretti untuk kembali “mendayung” menuju pencapaian pendidikan yang lebih bermakna.

Kontributor: Ida Hastuti, S.Pd.

Anda mungkin juga suka