Home » Cahaya Kebajikan di Awal Tahun: Pendalaman Iman Khonghucu Peserta Didik SMA Santo Yosef Pangkalpinang Membentuk Insan yang “Junzi”

Cahaya Kebajikan di Awal Tahun: Pendalaman Iman Khonghucu Peserta Didik SMA Santo Yosef Pangkalpinang Membentuk Insan yang “Junzi”

oleh Lukas Mileniawan

Pangkalpinang, YTKNews.id – Dalam semangat menyambut musim semi yang penuh berkah, para siswa penganut agama Khonghucu di SMA Santo Yosef Pangkalpinang mengikuti rangkaian kegiatan Pendalaman Iman yang khidmat. Kegiatan yang berlangsung pada akhir Januari hingga awal Februari ini bertujuan untuk memperkokoh akar spiritualitas dan pemahaman intelektual siswa terhadap ajaran Nabi Agung Kongzi.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 30 Januari 2026, menjelang perayaan Tahun Baru Kongzili. Dalam sesi ini, narasi utama yang diangkat adalah meluruskan pemahaman bahwa Imlek bukan sekadar tradisi budaya, melainkan hari raya keagamaan yang sakral. Pembimbing menekankan bahwa perayaan ini adalah bentuk sujud syukur kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa) atas pembaruan alam semesta. Para siswa diajak untuk merenungkan konsep Li (Kesusilaan/Ibadah) yang tertuang dalam kitab suci. “Imlek adalah momentum bagi kita untuk memperbarui diri (Xin Min). Bukan hanya tentang baju baru, tetapi tentang bagaimana kita membersihkan hati dan mempererat tali Xiao (Bakti) kepada orang tua dan leluhur”

Peserta didik diajak memahami bahwa setiap ritual, mulai dari sembahyang kepada leluhur hingga perjamuan persaudaraan, merupakan implementasi dari kasih semesta. Memasuki minggu berikutnya, pada 6 Februari 2026, pendalaman iman berlanjut dengan materi yang lebih teknis namun filosofis: Sistem Perhitungan Tahun Kongzili.
Materi ini memberikan wawasan baru bagi para siswa mengenai keunggulan kalender Kongzili yang berbasis pada pergerakan matahari dan bulan (Lunisolar). Siswa mempelajari bahwa: Penetapan tahun pertama Kongzili dihitung dari tahun kelahiran Nabi Kongzi (551 SM). Sistem penanggalan ini sangat berkaitan erat dengan harmoni antara manusia dan alam (petanian). Angka tahun yang kita rayakan hari ini adalah simbol keberlanjutan ajaran suci yang tidak lekang oleh waktu.


Melalui pemahaman ini, peserta didik diharapkan tidak hanya merayakan hari raya secara seremonial, tetapi juga memiliki kebanggaan intelektual atas warisan peradaban yang ditinggalkan oleh Sang Nabi.
Kegiatan pendalaman iman di SMA Santo Yosef ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya membentuk karakter siswa agar menjadi seorang Junzi (Insan Kamil/Pribadi Mulia). Dengan memahami filosofi hari raya dan sejarah kalender agamanya, para siswa diharapkan mampu memancarkan kebajikan (De) dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar di tahun yang baru ini, setiap langkah kaki selalu berada di jalan suci (Dao) dan dipenuhi dengan keharmonisan. Shanzai.
Penulis : Lukas Mileniawan, S.Pd.

Anda mungkin juga suka