Pangkalpinang — Di balik layar digital yang berpijar, sebuah keberanian besar sedang dirajut. Di antara barisan peserta dewasa dan mahasiswa dalam ajang World Speech Day 2026 yang dilaksanakan pada 10–15 Maret lalu, muncul sesosok remaja kelas 8 SMP Santo Paulus Pangkalpinang. Ia adalah Gabriela Neysa, atau akrab disapa Gaby, satu-satunya perwakilan jenjang SMP yang berani melangkah di panggung bertema “Speak As Global Citizen.”
Diselenggarakan secara virtual oleh kolaborasi Yayasan Tunas Karya bersama Virtual English Class, Young Indonesia Leader Speak, Tunas Karya Agora Virtual Youth Club Indonesia, Gaby tampil memukau dengan pidato berbahasa Mandarin berjudul 数字时代的责任与和平 “Shùzì Shídài de Zérèn Yǔ Hépíng”—Tanggung Jawab dan Perdamaian di Era Digital.

Perjalanan Gaby tidaklah instan. Di sela-sela kesibukan Sumatif Tengah Semester (STS), ia ditempa oleh sang guru, Shasa Apriva Rustam.
“Awalnya ragu, tapi Laoshi meyakinkan saya,” kenang Gaby.
Dari latihan nada di depan dapur sekolah hingga menghafal 21 baris teks yang menantang, Gaby bertarung dengan rasa grogi di hadapan juri dan penonton virtual. Meski sempat ada kata yang terlupa karena debar jantung yang kencang, ia tetap tegak, menyelesaikan kalimat demi kalimat dengan penuh kebanggaan.
Shasa Laoshi menekankan bahwa ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan upaya membangun karakter peka isu sosial di tengah kemajuan teknologi. Senada dengan itu, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Bangka Belitung menegaskan pentingnya bahasa Mandarin sebagai kunci masa depan di bidang ekonomi dan teknologi global.

Bagi mereka yang ingin memulai, Shasa memberikan resep sederhana yakni konsistensi mendengar lagu atau tontonan Mandarin, latihan kosakata harian dan menggunakan flashcard dan membangun rasa willing to know, willing to learn.
“Saya bangga pada diri sendiri,” ungkap Gaby haru. Baginya, panggung ini adalah cermin untuk melihat kekurangan dan batu loncatan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi tanpa mengecewakan sang guru. Dari Pangkalpinang, Gaby berhasil membuktikan bahwa usia hanyalah angka, dan bahasa Mandarin adalah jembatan menuju panggung dunia.
“Anak SMP perlu belajar bahasa Mandarin karena Mandarin adalah salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia dan memiliki peran penting dalam bidang ekonomi, teknologi, dan pendidikan.” ungkap Shasa Laoshi, Guru Bahasa Mandarin TK, SD dan SMP Santo Paulus ini.
“Dengan mempelajarinya sejak usia sekolah, siswa dapat melatih kemampuan berpikir, memperluas wawasan budaya, serta membuka lebih banyak peluang di masa depan, baik untuk melanjutkan studi maupun dalam dunia kerja yang semakin global.” tutupnya.
Kontributor: Edi Woda
