Home » Dari Mentok, Burung Tak Ketabaw yang Membuat WOW!

Dari Mentok, Burung Tak Ketabaw yang Membuat WOW!

oleh Suwito

Mentok, YTKNews.id–Sebuah kompetisi seni sering kali terjebak dalam batas-batas aman, membawakan lagu yang populer, memilih aransemen yang manis terdengar di telinga juri, dan sebisa mungkin menghindari kontroversi. Namun, tim musik ansambel campuran dari SMP Santa Maria Mentok memilih jalan yang berbeda pada ajang FLS3N 2026 ini.

Lewat petikan gitar Ksatria Bara, tiupan pianika Naomi, dan ketukan ritme dari Zevan, mereka tidak sekadar bermusik. Mereka sedang menyuarakan sebuah kegelisahan sosial lewat lagu daerah bertajuk “Burung Tak Ketabaw”, sebuah karya dari musisi legendaris Bangka Belitung, Klaki Band.

Langkah berani ini terbukti sukses mencuri perhatian. Gelar Juara 2 di tingkat Kecamatan hingga Kabupaten Bangka Barat berhasil mereka amankan. Namun, di balik piala yang mereka bawa pulang, ada cerita tentang idealisme, perdebatan genre, dan konsistensi mengenalkan bahasa ibu.

Saat tampil di atas panggung FLS3N, permainan tim ansambel SMP Santa Maria sempat menjadi sorotan utama dan memicu perdebatan di meja juri serta penonton terkait genre lagu yang dibawakan. “Burung Tak Ketabaw” memang bukan lagu daerah mendayu-dayu yang biasa terdengar di ajang formal. Karakternya kuat, lugas, dan memiliki dinamika yang menantang batas konvensional musik ansambel sekolah.

Di tengah riuh perdebatan tersebut, ada sosok Riko Zulkarnain, guru seni sekaligus mentor di balik layar. Alih-alih gentar atau mengubah haluan musik anak asuhnya demi cari aman, Riko justru menanamkan rasa optimisme yang besar. Baginya, visi tim ini jauh lebih besar dari sekadar memenangkan trofi, mereka punya misi suci untuk mempopulerkan kembali lagu-lagu berbahasa daerah Bangka yang mulai asing di telinga generasi muda saat ini.

ika membedah lirik “Burung Tak Ketabaw” yang dibawakan oleh Naomi dan kawan-kawan, lagu ini adalah sebuah satir dan kritik sosial tajam yang sangat relevan dengan realitas hari ini. Di bait awal, lagu ini menyindir fenomena manusia yang mendadak manis ketika ada maunya:

Jangan lah hirau men tengah ade perlu, banyak lah kawan jadi jago ngerayu…”

Membawakan lirik seberat dan sekritis itu dengan format ansambel campuran tingkat SMP tentu membutuhkan keberanian mental yang luar biasa. Naomi, Zevan, dan Ksatria Bara berhasil menyampaikan ruh dari lagu Klaki Band ini dengan penuh penjiwaan, membuat pesan liriknya sampai langsung ke dada siapa saja yang mendengarkan.

Langkah tim ansambel SMP Santa Maria Mentok memang harus terhenti di tingkat Kabupaten dan belum berkesempatan melaju untuk mewakili Bangka Barat di tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun, tidak ada rasa kecewa yang tersisa di wajah para musisi muda ini.

Bagi mereka, kreativitas musik dan esensi dari kesenian tidak pernah dibatasi oleh sekat-sekat perlombaan atau penilaian juri dalam satu hari. Pihak sekolah pun terus berkomitmen penuh untuk mewadahi bakat-bakat organik seperti ini melalui berbagai pementasan dan pentas seni yang digelar sepanjang tahun di lingkungan SMP Santa Maria.

“Kami membina bakat bukan untuk lomba, tapi memang mengasah potensi anak-anak. Menang lomba itu bonus,” ujar Riko Zulkarnain.

Tim ansambel SMP Santa Maria telah membuktikan bahwa musik terbaik adalah musik yang memiliki jiwa, identitas, dan berani menyuarakan kebenaran.

Anda mungkin juga suka