Batam, YTKNews.id—Selama dua hari berada di lingkungan Sekolah Yos Sudarso Batam Centre, suasana hangat dan penuh inspirasi begitu terasa. Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Medan (MPK KAM) hadir bukan sekadar untuk berkunjung, melainkan untuk menyerap “nyawa” dan pemikiran-pemikiran segar dari Yayasan Tunas Karya (YTK).
Salah satu refleksi terdalam yang dibawa pulang oleh para peserta adalah bagaimana YTK memandang aset terpenting mereka: manusia.
Di YTK, para guru, pegawai, kepala sekolah, hingga kepala unit tidak pernah dianggap sebagai roda penggerak mekanis dalam sebuah mesin besar. Sebaliknya, mereka adalah garda terdepan, wajah, sekaligus jantung dari yayasan milik Keuskupan Pangkalpimang ini. Dan cara terbaik untuk memanusiakan mereka adalah dengan tidak membiarkan mereka habis terbakar oleh melelahkannya urusan birokrasi dan administrasi keuangan yang konvensional.
Sentuhan Modern: Efektif, Terukur, dan Tidak Melelahkan
Bagaimana cara YTK memadukan pendekatan humanis ini dengan tuntutan zaman? Jawabannya terletak pada transformasi digital. YTK secara berani mengawinkan tata kelola manajemen modern dengan ekosistem teknologi digital.
“Hal ini mempermudah kerja yang terukur, efektif, sistematis, dan tidak melelahkan pegawai secara administratif,” jelas Bendahara YTK, Romo Yudi Kristianto, MM.Finance.
Sebagai sosok yang juga mengemban tugas sebagai Ekonom II Keuskupan Pangkalpinang, Romo Yudi membedah empat pilar utama bagaimana teknologi digital dan manajemen yang transformatif mengubah wajah tata kelola keuangan di YTK:
Uang Sekolah adalah urat nadi bagi keberlangsungan pelayanan pendidikan. Menyadari krusialnya hal ini, YTK enggan menggunakan cara-cara lama yang rawan kesalahan. Bersama rekanan developer profesional, YTK merancang dan membangun sistem pengelolaan Uang Sekolah mandiri yang tepat guna, transparan, akuntabel, dan sangat mudah diakses (accessible). Sistem ini meminimalkan human error dan memotong jalur birokrasi yang panjang.

Kepala SMA Yos Sudarso Batam sedang membagikan cerita sukses di sekolahnya
Menembus Batas Geografis Dua Provinsi
Menjalankan sekolah yang tersebar di berbagai pulau di Provinsi Bangka Belitung dan Kepulauan Riau bukanlah perkara mudah. Jarak adalah tantangan nyata. Namun, dengan pemanfaatan ekosistem teknologi digital yang andal, meja keuangan (desk keuangan) di setiap unit dapat bekerja lebih cepat dan transparan. Jarak ribuan mil laut kini terpangkas hanya dalam beberapa kali klik.
Otonomi Berwawasan pada Dana BOS
Dalam hal Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), YTK memberikan kepercayaan penuh kepada masing-masing sekolah untuk mengelolanya sesuai petunjuk teknis (juknis) yang berlaku. Meski demikian, kebebasan ini dibarengi dengan tanggung jawab. YTK memastikan dana BOS saling mengisi dengan sumber pembiayaan internal yayasan. Untuk menjaga akuntabilitas, Tim HBK secara berkala turun tangan melakukan audit, memastikan setiap rupiah berdampak langsung pada mutu belajar siswa.
Subsidi Silang: Misi Pendidikan di Atas Profit semata
Fakta menarik diungkapkan oleh Romo Yudi: dari sekitar 50 unit sekolah di bawah naungan YTK, hanya sepertiga () yang statusnya surplus secara finansial. Lalu, mengapa dua pertiga sekolah lainnya tetap bertahan dan melayani dengan kualitas yang sama baiknya? Jawabannya adalah Subsidi Silang.
Bagi YTK, profit bukanlah tujuan akhir. Misi utama mereka adalah menghadirkan layanan pendidikan yang unggul dan terdepan, bahkan di daerah terbelakang atau yang kurang menguntungkan secara finansial. Sekolah yang kuat menopang sekolah yang berjuang. Itulah esensi nyata dari pendidikan Katolik yang inklusif.

Hari kedua studi tiru MPK KAM di Sekolah Yos Sudarso Batam
Pulang dengan Inspirasi Baru
Pemaparan yang taktis, logis, namun penuh empati dari Romo Yudi ini seketika menyalakan rasa penasaran yang besar bagi para peserta dari MPK KAM. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir beruntun, saling bersahutan memenuhi ruang diskusi, hingga akhirnya waktu jua yang harus membatasi.
Dua hari berlalu begitu cepat. Namun, ketika para pengurus MPK KAM melangkah kaki kembali ke Medan, mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Ada oleh-oleh berharga yang mereka bawa untuk sekolah dan aktivitas mereka di Sumatra Utara: sebuah inspirasi hidup tentang bagaimana tata kelola personalia dan keuangan yang transformatif mampu menjaga martabat manusia, sekaligus meluaskan bentangan jala misi pelayanan pendidikan. (sfn)
Penulis : Stefan Kelen Pr
