Pangkalpinang, YTKNews.id—Siang itu, sebuah ruang kelas di SD Santo Paulus 1 Pangkalpinang mendadak riuh. Namun, ini bukan keriuhan biasa. Di atas meja-meja yang dirapatkan, berserakan tumpukan koran bekas, gulungan karton, potongan kardus, hingga sedotan plastik warna-warni. Di sudut lain, beberapa anak tampak sibuk menggunting kain origami dengan dahi berkerut serius, sementara teman di sebelahnya memegang lem dengan sigap.
Hari itu, mata pelajaran Seni Rupa berubah menjadi sebuah petualangan kreativitas yang seru. Tantangannya tidak main-main, para siswa kelas 6 diminta melakukan aksi nyata menyelamatkan lingkungan. Mereka harus mengubah barang-barang yang biasanya berakhir di tempat sampah menjadi sebuah karya yang punya nilai guna tinggi.
Hasilnya? Sungguh di luar dugaan. Tangan-tangan mungil itu berhasil menyulap barang mati menjadi wadah pensil yang estetik, vas bunga hias yang cantik untuk sudut ruangan, hingga laci penyimpanan (storage) mini yang rapi dan fungsional.

Lebih dari Sekadar Menggunting dan Menempel
Di balik tawa dan keserukan yang tercipta, ada proses belajar yang jauh lebih dalam. Kegiatan yang dilakukan secara berkelompok ini memaksa ego setiap anak untuk melunak. Di sinilah mereka belajar arti penting pembagian tugas yang adil, pentingnya mendengar dan bertoleransi terhadap ide teman, hingga melatih kesabaran ekstra saat menyusun detail bahan baku.
Silvia Erna, S.Pd, sang Guru Seni Rupa, tidak bisa menyembunyikan rasa takjub dan bangganya saat berjalan mengitari kelas, melihat bagaimana anak didiknya saling bahu-bahu menyelesaikan proyek mereka.
“Saya sangat bangga melihat bagaimana anak-anak berkolaborasi,” ungkap Erna dengan mata berbinar. “Mereka tidak hanya belajar seni, tapi juga belajar mengesampingkan ego demi menciptakan karya bersama. Harapan kami, kegiatan ini menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang peduli lingkungan sejak dini, karena di tangan mereka, barang yang dianggap sampah bisa berubah menjadi barang berharga.”

“Awalnya Bingung, Akhirnya Bangga!”
Rasa puas dan bahagia juga terpancar jelas dari wajah para siswa. Sambil memamerkan sebuah laci mini hasil rakitan dari kardus dan sedotan plastik, salah satu siswa kelas 6 bercerita dengan semangat berapi-api tentang pengalaman kelompoknya.
“Seru banget! Awalnya bingung kardus bekas mau dibuat apa,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Tapi setelah diskusi bareng teman kelompok, kami bisa bikin storage keren ini. Kami jadi belajar kompak dan menghargai ide satu sama lain, pokoknya bangga banget sama hasil kerja tim kami!”
Melalui ruang kelas yang disulap menjadi bengkel kreativitas ini, SD Santo Paulus 1 kembali membuktikan komitmennya. Mereka menunjukkan bahwa sekolah unggulan bukan hanya tentang deretan angka di atas kertas rapor, melainkan tentang bagaimana mengasah bakat, soft skill, dan karakter nyata para siswa.
Dari tumpukan barang bekas di sudut kelas, sekolah ini sedang mempersiapkan generasi masa depan: anak-anak yang cerdas, peduli pada bumi, dan siap melangkah dengan segudang inovasi kreatif. (sfn)
Kontributor : Ruth
