Home » Menapaki Jejak Iman, Merajut Toleransi: Ziarah Siswa SMP Maria Goretti di Penghujung Bulan Rosario

Menapaki Jejak Iman, Merajut Toleransi: Ziarah Siswa SMP Maria Goretti di Penghujung Bulan Rosario

oleh humas YTK

Sungailiat, YTKNews.id – hari yang istimewa bagi keluarga besar SMP Maria Goretti, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Di bawah langit pagi yang cerah, halaman sekolah tampak ramai dengan tawa dan antusiasme para siswa. Tepat pukul 07.30 WIB, sebanyak 62 siswa bersama para guru pendamping berkumpul untuk memulai perjalanan spiritual dalam rangka menutup rangkaian kegiatan Bulan Rosario.

Mengangkat tema “Meneladani Bunda Maria dalam Kesetiaan, Kerendahan Hati, dan Ketaatan kepada Tuhan”, kegiatan ziarah ini digagas oleh OSIS melalui Seksi Kerohanian. Namun, ada pemandangan indah yang menyejukkan hati di balik rombongan yang menaiki dua bus pagi itu. Bus tidak hanya dipenuhi oleh siswa Katolik, tetapi juga siswa-siswi non-Katolik yang turut serta dengan penuh kehangatan dan sukacita.

“Kegiatan ziarah ini memang sudah kami programkan sejak awal oleh OSIS,” ungkap Serafina, perwakilan Seksi Kerohanian OSIS. “Tujuannya bukan sekadar berjalan-jalan, tetapi untuk menumbuhkan dan meningkatkan iman para siswa. Kami ingin mengajak teman-teman sejenak berhenti dari rutinitas, merefleksikan kehidupan, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan meneladani ketulusan Bunda Maria.”

Meresapi Keheningan di Gua Maria Kanaan Baturusa

Destinasi pertama rombongan adalah Gua Maria Kanaan Baturusa, sebuah tempat peziarahan yang berdiri megah tepat di samping Gereja Katolik Santo Yohanes Pemandi Baturusa dengan arsitekturnya yang ikonis menyerupai bahtera.

Di lokasi ini, para siswa mengawali kegiatan dengan ibadat Jalan Salib. Suasana khusyuk menyelimuti setiap perhentian. Di tengah keheningan, Nyuk Fan, S.Pd., salah seorang guru pendamping, menyampaikan renungan yang menyentuh dan mengajak seluruh peserta untuk semakin mendalami makna doa dan kehidupan.

“Apa pun agamamu, anak-anak, mari kita sampaikan segala sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada Tuhan lewat Bunda Maria,” tutur Nyuk Fan dengan lembut.

Pesan sederhana tersebut menjadi momentum inklusif yang bermakna. Di hadapan Bunda Maria, sekat-sekat perbedaan seolah meluruh. Siswa Katolik maupun non-Katolik berdiri berdampingan, mengheningkan diri, serta menyampaikan doa dan harapan pribadi dengan penuh kedamaian.

Doa Rosario dan Kebersamaan yang Hangat

Perjalanan berlanjut menuju lokasi peziarahan kedua, yaitu Gua Maria Yungfo, Keuskupan Pangkalpinang. Tempat ini terasa begitu sakral karena berada tepat di sebelah makam almarhum Uskup Mgr. Hilarius.

Di bawah rindangnya pepohonan, lantunan doa Salam Maria dalam rangkaian doa Rosario berkumandang dengan khidmat dari bibir para siswa. Suasana semakin haru ketika seluruh rombongan melangkah mendekati makam Mgr. Hilarius untuk berziarah dan memanjatkan doa secara khusus sebagai ungkapan penghormatan terhadap teladan hidup almarhum Uskup.

Puncak kehangatan perjalanan ziarah hari itu ditutup dengan kunjungan dan silaturahmi ke Wisma Benediktus. Kedatangan para siswa disambut dengan senyum lebar dan pelukan hangat dari dua romo senior yang menetap di sana.

Canda tawa, nasihat kehidupan, dan kisah-kisah penuh kebijaksanaan mengalir dalam suasana makan siang bersama. Tidak ada sekat antara yang muda dan yang senior. Yang hadir hanyalah suasana kekeluargaan yang hangat dalam kebersamaan.

Ziarah penutup Bulan Rosario ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan fisik untuk mengunjungi tempat-tempat suci. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang hidup, tempat para siswa SMP Maria Goretti belajar mempraktikkan nilai-nilai kerendahan hati Bunda Maria, memperdalam iman, serta merajut indahnya toleransi sejak dini.

Kontributor: Dewi Susanti

Anda mungkin juga suka