Sungailiat, YTKNews.id— Di bawah langit senja Sungailiat, Senin (9/3/2026), suasana di TK Maria Goretti terasa berbeda dari biasanya. Hangat, inklusif, dan penuh rasa persaudaraan. Komunitas Maria Goretti kembali menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah pembatas, melainkan jembatan untuk saling menguatkan.
Melalui acara Buka Puasa Bersama (Bukber) tahun 2026, kegiatan ini mengusung tema besar “Bertanggung Jawab dalam Menjaga dan Merawat Rumah Bersama dalam Tali Kasih Persaudaraan.” Tema tersebut tidak sekadar menjadi rangkaian kata indah, melainkan cerminan dari fokus pastoral Keuskupan Pangkalpinang tentang pentingnya menjaga “Rumah Kita Bersama” sebagaimana ditekankan dalam Laudato Si’.
Acara dibuka dengan momen yang menyentuh hati. Ananda Alhadista Anggoro, siswa kelas VIII SMP Maria Goretti, melantunkan ayat suci Al-Qur’an dari Surat Al-Baqarah ayat 183–184. Suaranya yang jernih menyampaikan pesan tentang kewajiban berpuasa dan ketakwaan, seakan mengingatkan semua yang hadir bahwa spiritualitas adalah nilai universal yang dapat menyatukan, meski berada dalam perbedaan keyakinan.
Kehadiran seluruh anggota keluarga guru dan karyawan menjadikan kegiatan tahun ini terasa semakin istimewa. Tujuannya satu, memperluas jalinan silaturahmi hingga ke dalam keluarga besar komunitas sekolah.
Siska Sri Wulandari, salah satu karyawan SD Maria Goretti, berbagi pengalamannya dengan penuh haru. Ia mengungkapkan bahwa suasana persaudaraan di lingkungan kerja membuatnya merasa diterima apa adanya.
“Di komunitas ini, kami semua bersaudara. Saya tidak pernah merasa asing. Kami justru saling menjaga dan mengingatkan untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing,” tuturnya. Kesaksian ini menjadi bukti bahwa nilai toleransi di Maria Goretti telah hidup dan tumbuh dalam keseharian.

Topan, yang hadir memberikan siraman rohani, mengaku momen ini menjadi pengalaman bersejarah baginya.
“Ini pengalaman pertama saya memberikan tausiyah di lingkungan nonmuslim. Luar biasa dan saya sangat bersyukur. Terbukti, perbedaan bukanlah penghalang bagi kita untuk bertemu dalam kebaikan,” ujar Topan.
Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Namun kesempurnaan tersebut datang bersama satu konsekuensi penting, yakni tanggung jawab. Ia mengajak seluruh hadirin untuk menjaga bumi, khususnya tanah air Indonesia, dengan bijaksana. Manusia boleh mengambil manfaat dari alam, tetapi harus melakukannya secara wajar tanpa merusak “lantai” tempat manusia berpijak.

Kebersamaan saat berbuka puasa
Momen yang paling dinantikan pun tiba saat Wardiyanto, pramusaji cekatan dari SMP Maria Goretti, memimpin doa berbuka puasa. Keunikan acara ini semakin terasa karena hidangan yang tersaji bukanlah pesanan katering, melainkan bekal sederhana yang dibawa dari rumah masing-masing, menjadikan kebersamaan malam itu terasa lebih hangat dan penuh makna.
Makan bersama secara potluck justru menambah keakraban. Ketika azan Magrib berkumandang di Sungailiat, tawa dan obrolan hangat mengalir di antara para guru, karyawan, serta keluarga mereka. Malam itu di TK Maria Goretti, semua sepakat bahwa “rumah bersama” ini harus dijaga dengan cinta, apa pun warna iman yang dimiliki.(fyt)
Kontributor: Dewi Susanti
