Home » Guncang Panggung Literasi Hardiknas 2026, Perpustakaan SMA Santo Yosef Pangkalpinang , Unjuk Kata Lewat Puisi

Guncang Panggung Literasi Hardiknas 2026, Perpustakaan SMA Santo Yosef Pangkalpinang , Unjuk Kata Lewat Puisi

oleh Lukas Mileniawan

Pangkalpinang, YTKNews.id – Suasana Perpustakaan SMA Santo Yosef Pangkalpinang mendadak riuh dan sarat emosi pada Selasa, 12 Mei 2026. Dalam rangka merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, perpustakaan sekolah di bawah naungan Yayasan Tunas Karya ini menyulap ruang baca menjadi panggung megah bertajuk “Lomba Baca Puisi”. Bukan sekadar kompetisi, ajang ini menjelma menjadi ruang magis tempat generasi Z meluapkan kegelisahan, harapan, dan kecintaan mereka pada tanah air lewat bait-bait sastra.


Sejak pagi, riuh rendah vokal peserta yang berlatih teknik pernapasan sudah terdengar di sudut-sudut ruangan. Ketika kompetisi dimulai, atmosfer seketika berubah dinamis. Salah satu sorotan tertuju pada penampilan teatrikal seorang siswi berkebaya hitam dengan balutan kain batik yang membawakan puisi dengan penghayatan yang menguras air mata penonton. Tidak kalah memukau, barisan peserta putra berkemeja batik tampil dengan vokal bariton yang menggelegar, mencabik sunyinya ruang perpustakaan lewat gestur panggung yang sangat ekspresif.
Falentina Martini, Kepala Perpustakaan SMA Santo Yosef Pangkalpinang, tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan harunya melihat antusiasme yang luar biasa dari para siswa. Saat ditemui di sela-sela acara, ia menegaskan bahwa perpustakaan masa kini harus keluar dari stigma konvensional yang kaku.


“Kami ingin membuktikan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku-buku atau ruang sunyi yang membosankan. Lewat momentum Hardiknas 2026 ini, Perpustakaan SMA Santo Yosef menjelma menjadi wadah berekspresi yang hidup. Sastra dan puisi adalah cara terbaik melatih kepekaan rasa dan literasi emosional anak-anak di tengah gempuran era digital yang serba instan,” ujar Ibu Falentina Martini penuh semangat.


Kompetisi ini berlangsung sengit karena dinilai oleh tiga juri yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu Hasem Ashari,S.Pd, Yulius Teguh Suryadi, S.Pd., Brigita Ayu Wahyuningsih, S.Pd., Wiracakti Febrina Sitepu,S.S . keempatnya mengaku sempat berdebat alot di meja penjurian karena kualitas estetika peserta yang merata dan di luar ekspektasi. Hasem Ashari menyoroti aspek teknis dan keberanian para peserta yang tampil totalitas tanpa canggung di atas panggung.


“Kemampuan artikulasi dan dinamika vokal anak-anak hari ini sangat mengejutkan. Mereka tidak sekadar membaca teks, tapi tahu kapan harus menekan kalimat, kapan harus berbisik, dan kapan harus meledak. Ini menunjukkan persiapan yang matang,” puji Wiracakti
Sementara itu, Teguh Suryadi menitikberatkan pada penguasaan panggung dan penjiwaan karakter yang dibawakan oleh para siswa.
“Membaca puisi itu menggunakan seluruh tubuh, bukan cuma mulut. Saya sangat terkesan dengan salah satu peserta berkebaya yang mampu menggunakan bahasa tubuh (gestur) secara natural sehingga pesan dari puisi itu langsung sampai ke ulu hati penonton,” tambah Teguh


Sebagai penutup dari meja juri, Brigita Ayu memberikan catatan evaluasi sekaligus motivasi yang mendalam bagi masa depan literasi sekolah.
“Satu hal yang paling mahal hari ini adalah kejujuran dalam berekspresi. Tadi ada beberapa catatan kecil mengenai tempo yang terlalu terburu-buru karena grogi, tapi secara keseluruhan, anak-anak SMA Santo Yosef punya bakat seni yang luar biasa. Wadah seperti ini harus terus dijaga agar api literasi mereka tidak padam,” ungkap Brigita tersenyum.
Keberhasilan acara yang berlangsung hingga siang hari ini tidak hanya diukur dari jajaran trofi yang berhasil dibawa pulang oleh para pemenang, melainkan dari hidupnya kembali gairah bersastra di kalangan remaja. Kompetisi ini berhasil membuktikan bahwa di tangan generasi muda yang tepat, bait-bait puisi lama pun mampu bergaung menjadi pemantik semangat kebangsaan yang relevan dengan zaman.


Sebagai simbol persatuan dan komitmen jangka panjang terhadap budaya membaca, seluruh rangkaian acara diakhiri dengan sesi dokumentasi yang sarat makna. Sembari melempar senyum penuh kemenangan, seluruh siswa, panitia, Kepala Perpustakaan, hingga dewan juri kompak berdiri bersama dan mengacungkan jari membentuk huruf “L”. Simbol Salam Literasi yang membubung siang itu menjadi ikrar bersama bahwa dari sudut Perpustakaan SMA Santo Yosef Pangkalpinang, lentera pendidikan dan cinta membaca akan terus menyala demi masa depan Indonesia yang lebih cerdas.

Penulis : Lukas Mileniawan, S.Pd.

 

Anda mungkin juga suka