Batam, YTKNews.id. Suasana mini ballroom SMA Yos Sudarso, hari itu terasa berbeda sejak pagi. Bukan seminar, bukan pula rapat besar sekolah. Beberapa siswa tampak antusias, gugup, dan sebagian lainnya tertawa kecil sambil membayangkan adegan film yang akan ditayangkan. Hari itu, mereka tidak sekadar datang sebagai penonton. Mereka datang untuk menyaksikan karya mereka sendiri.

Selama lima hari, mulai dari tanggal 18 – 22 Mei 2026, mini ballroom sekolah berubah menjadi ruang apresiasi karya. Film-film pendek hasil produksi siswa kelas XI ditayangkan bergiliran sebagai bagian dari pembelajaran drama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Poster film yang telah terpampang sebelumnya di lobi sekolah membuat mereka semakin antusias menunggu momen menonton film tiba.
Awalnya, kegiatan ini lahir dari keterbatasan. Guru-guru Bahasa Indonesia kelas XI, menyadari bahwa pementasan drama secara langsung membutuhkan sarana yang tidak sedikit. Namun, keterbatasan tersebut justru melahirkan ide baru: mengubah drama menjadi film.

Keputusan itu ternyata membuka pengalaman belajar yang jauh lebih luas bagi siswa. Selama kurang lebih dua bulan, siswa tidak hanya diminta memahami naskah drama, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi film. Ada yang belajar menjadi sutradara, penulis naskah, kamerawan, editor, hingga pemeran utama. lorong sekolah, halaman, bahkan sudut-sudut kelas mendadak berubah menjadi lokasi syuting.
Di balik hasil tayangan yang hanya beberapa menit, terdapat proses panjang yang penuh tantangan. Ada adegan yang harus diulang berkali-kali karena suara kendaraan terlalu bising. Ada kelompok yang rela pulang lebih sore demi menyelesaikan proses pengambilan gambar. Ada pula siswa yang baru pertama kali belajar mengedit video hingga larut malam.

Namun, justru di situlah pembelajaran sebenarnya terjadi. Siswa belajar bahwa sebuah karya tidak lahir secara instan. “Kami belajar berdiskusi, membagi tugas, mengatur waktu, dan memahami pentingnya kerja sama,” ujar salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya. Selain itu, mereka juga belajar menerima kritik ketika film mereka ditonton banyak orang.
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada proses membuat film. Saat pemutaran berlangsung, siswa belajar menjadi penonton yang menghargai karya teman-temannya. Tepuk tangan dan tawa memenuhi ruangan ketika adegan-adegan lucu muncul di layar. Beberapa siswa bahkan tampak terharu melihat hasil kerja keras kelompok mereka akhirnya diputar di depan banyak orang.
“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung secara konvensional. Drama yang biasanya identik dengan panggung kini dapat hadir lebih dekat dengan dunia siswa melalui media film,” ujar Kepala SMA Yos Sudarso, Sumiyati, S.Pd.M.M, mengapresiasi.
Pembelajaran pun terasa lebih hidup. Siswa tidak hanya memahami teori drama dari buku, tetapi juga merasakan langsung bagaimana sebuah cerita dibangun, dimainkan, dan ditampilkan kepada penonton.
Dari keterbatasan sarana, lahirlah kreativitas. Dari tugas sekolah, tumbuh keberanian untuk berkarya, dan dari mini ballroom itu, siswa belajar bahwa karya mereka layak untuk ditonton dan diapresiasi. (dn)
Reporter : Dwiky Natalia, S.Pd.
