Batam, YTKNews.id – Jumat (23/10) menandai hampir berakhirnya pekan pertama siswa dan siswi kembali belajar di ruang kelas kesayangan mereka serta bertemu dengan teman-teman yang mereka rindukan untuk berbagi keceriaan dan kejahilan. Harapan tersebut menjadi nyata setelah seminggu menjalani BDR (Belajar dari Rumah) yang diinstruksikan oleh Dinas Pendidikan Kota Batam terkait situasi kabut asap (jerebu) yang melanda Kota Batam. Naik turunnya angka statistik yang menunjukkan kualitas udara di Kota Batam memunculkan pertanyaan di benak setiap guru SDS Yos Sudarso III mengenai apakah mereka sudah diperbolehkan kembali belajar di sekolah atau belum. Hal ini juga menjadi hal yang dinantikan oleh hampir seluruh orang tua siswa.
Fransisca Adelisma, salah satu orang tua siswa, menuturkan bahwa masih ada kekhawatiran ketika putranya kembali masuk sekolah, khususnya terkait kesehatan putranya. Namun, beliau percaya bahwa pihak sekolah dan bapak ibu guru sudah memiliki strategi pembelajaran di tengah kepungan kabut asap yang statusnya masih belum jelas. Ibu yang dikenal santai dan ceria ini menambahkan bahwa keputusan untuk kembali belajar di sekolah sudah cukup tepat. Namun, beliau tetap mengingatkan pihak sekolah agar memastikan kesiapan UKS dalam mempersiapkan obat-obatan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan, seperti tabung oksigen.
Para siswa yang kembali ke sekolah juga menuturkan dan berbagi perasaan senang karena dapat bertemu kembali dengan teman-teman mereka. Elizabeth Dwi dan Ezra Yuliana, misalnya, kembali bersemangat untuk bersekolah. Mereka kembali melihat wajah teman-teman yang ceria, sama seperti ketika mereka belajar sebelum BDR (Belajar dari Rumah). Di balik kegembiraan tersebut, ada beberapa hal yang tidak mereka sukai selama BDR, antara lain jaringan internet yang tidak lancar dan waktu pembelajaran yang relatif singkat. Hal tersebut membuat mereka merasa ada yang kurang dalam proses belajar dan berinteraksi dengan guru. Keterbatasan perangkat juga menjadi salah satu faktor yang menghambat kelancaran pembelajaran secara daring.
Beberapa rekan guru di sekolah ini menyampaikan bahwa BDR membuat pembelajaran menjadi kurang kondusif. Hal ini disebabkan oleh pemadaman listrik total (blackout) yang berlangsung selama satu hari pada hari pertama BDR. Selain itu, ruangan menjadi sedikit panas, ditambah kondisi kabut asap yang membuat suhu ruangan terasa semakin tidak tertahankan.
Damayanti dan Bibiana, guru kelas VI dan kelas II, juga menambahkan bahwa dalam kondisi seperti ini, mereka perlu menyesuaikan materi pembelajaran agar lebih padat sehingga tidak menjadi beban bagi siswa, tetapi tetap terarah dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Materi berupa catatan maupun salindia (slide) juga tidak lupa dibagikan kepada siswa agar dapat dibaca kembali secara berulang. Pemberian tugas dilakukan melalui pengiriman berkas maupun secara virtual melalui Zoom Meeting.
Kekhawatiran juga disampaikan oleh kedua guru tersebut, khususnya mengenai fokus belajar siswa dan kemungkinan kelalaian dalam mengerjakan tugas yang diberikan karena pemantauan yang tidak maksimal. Bibiana dan Damayanti berharap agar pembelajaran di sekolah tetap berjalan seperti biasa, tetapi pengawasan terhadap kesehatan dan keselamatan siswa dari dampak kabut asap diperketat. Mereka juga berharap agar orang tua tetap kooperatif dan terus mendukung proses pembelajaran, termasuk apabila BDR kembali diberlakukan.
Kontributor: Yohanes Aditya Kurniawan Dokumentasi: Tim Humas SDS Yos Sudarso III
