Mentok, YTKNews.id — Suasana pelaksanaan upacara bendera mingguan di lapangan SMP Santa Maria Mentok pada Senin pagi (19/10/2026) berlangsung tidak seperti biasanya. Pemandangan berbeda terlihat di mimbar pembina upacara. Jika biasanya amanat disampaikan oleh kepala sekolah, dewan guru, atau pejabat dari instansi pemerintah, kali ini peran tersebut dipercayakan kepada Febriansyah, seorang staf pramusaji di sekolah itu.
Kehadiran Febriansyah di mimbar menarik perhatian seluruh peserta upacara yang terdiri atas jajaran guru, staf, dan ratusan siswa. Dalam amanatnya, Febriansyah mengangkat topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari di sekolah, yaitu pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bersama.
Meski bukan tenaga pengajar, Febriansyah menyampaikan amanatnya dengan baik, jelas, dan penuh percaya diri.
Dalam pidatonya, Febriansyah secara khusus mengingatkan bahwa menjaga kebersihan sekolah tidak dapat dibebankan hanya kepada satu atau dua pihak.
“Sekolah ini adalah rumah kedua bagi kita semua. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya hingga merapikan bekas makan dan minum sendiri, langkah-langkah kecil itu sangat berarti. Kebersihan adalah tanggung jawab bersama, dan sekolah yang bersih hanya bisa terwujud jika kita semua saling bekerja sama dan memiliki rasa peduli yang tinggi,” tegas Febriansyah di hadapan para peserta upacara.
Ia menekankan bahwa kebersihan bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan atau pramusaji, melainkan kewajiban seluruh warga sekolah demi menciptakan suasana belajar yang nyaman, sehat, dan kondusif. Penyampaian amanat yang lugas dan komunikatif tersebut mendapat sambutan hangat serta apresiasi dari para peserta upacara.
Kepala SMP Santa Maria Mentok, Letisia Pare, S.Pd., memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Febriansyah atas keberanian dan penampilannya yang luar biasa. Ia menjelaskan bahwa langkah ini merupakan terobosan baru yang dirancang untuk memperkuat nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah.
“Inisiatif ini merupakan bentuk nyata solidaritas dan pendidikan karakter bagi seluruh siswa agar mereka belajar menghormati dan menghargai setiap warga sekolah tanpa memandang status atau profesinya. Semua profesi memiliki peran yang sama pentingnya dalam mendukung kegiatan pendidikan,” ungkap Letisia Pare.
Lebih lanjut, Letisia menambahkan bahwa kesempatan ini juga diberikan sebagai wadah inklusif bagi seluruh staf nonkependidikan untuk mengasah keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) serta membangun rasa percaya diri.
Melalui momen berharga ini, SMP Santa Maria Mentok kembali menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang humanistis, menghargai keberagaman peran, serta memupuk rasa saling menghormati di antara seluruh elemen sekolah. Upacara ini tidak hanya menjadi rutinitas mingguan, tetapi juga menjadi pelajaran berharga tentang kesetaraan dan kebersamaan.
Kontributor: Suwito
