Home » Warna-Warni Perjuangan Murid SMP Santo Paulus Pangkalpinang Menghadapi STS

Warna-Warni Perjuangan Murid SMP Santo Paulus Pangkalpinang Menghadapi STS

oleh Marcelina Sandra

Pangkalpinang, YTKNews.id — Suasana di SMP Santo Paulus Pangkalpinang selama sepekan terakhir terasa berbeda. Jika biasanya gelak tawa dan teriakan riuh terdengar mendominasi saat jam istirahat, kali ini atmosfer sekolah diselimuti oleh aura konsentrasi yang pekat. Sejak tanggal 2-6 Maret 2026, seluruh siswa baru saja melewati momen krusial dalam kalender akademik mereka: Sumatif Tengah Semester (STS).

Bukan sekadar ujian di atas kertas atau layar gadget, STS ini menjadi panggung bagi para siswa untuk menguji sejauh mana mental dan pemahaman mereka terbentuk selama setengah semester pertama di tahun 2026 ini. Dari kelas 7 hingga kelas 9, setiap sudut sekolah menyimpan cerita unik tentang persiapan, ketelitian, hingga keluh kesah yang jujur.

Bagi siswa kelas 7, STS mungkin masih terasa sebagai fase adaptasi yang mendebarkan. Lexy Ageta, siswi kelas 7A, mengungkapkan bahwa meskipun ada rasa tegang, pelaksanaan ujian selama seminggu ini berjalan dengan cukup tertib.

“Saya dapat mengerjakan soal dengan tenang dan berusaha memberikan jawaban yang terbaik,” ujar Lexy dengan nada optimis.

Namun, kejujuran khas siswa SMP muncul saat ia ditanya mengenai mata pelajaran yang paling menantang. Tanpa ragu, ia menunjuk IPA sebagai “tantangan” terberatnya.

“Menurut saya IPA yang paling sulit, karena saya kurang mengerti materinya dan perlu ketelitian penuh dalam menghitung,” tambahnya.

Cerita Lexy adalah representasi dari banyak siswa kelas 7 lainnya yang mulai menyadari bahwa dunia SMP menuntut ketajaman logika dan presisi, terutama saat berhadapan dengan angka dan rumus-rumus sains.

Bergeser ke jenjang yang lebih senior, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Siswa kelas 9 tidak hanya berhadapan dengan STS, tetapi juga harus membagi fokus dengan kegiatan Try Out (TO) yang berjalan beriringan.

Cassandra Evelyn, siswi kelas 9, memberikan apresiasi pada pihak sekolah yang mampu mengadaptasikan jadwal meskipun agenda kelas 9 sangat padat. Namun, Cassandra juga memberikan catatan kritis yang membangun. Baginya, dua hari terakhir ujian terasa seperti lari maraton yang menguras energi.

“Bagi kami kelas 9, jadwal dua hari terakhir terasa cukup memberatkan karena ada tiga mata pelajaran per hari. Materinya banyak, dan beberapa pelajaran tidak ada kisi-kisi soal,” keluh Cassandra.

Ia secara realistis menyoroti mata pelajaran IPS sebagai “momok” utama. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena beban materi yang masif.

“Kami diminta mempelajari satu bab penuh catatan yang jelas tidak sedikit tanpa kisi-kisi. Rasanya, untuk ujian selanjutnya, mungkin bisa dipertimbangkan penambahan satu hari agar kami bisa ujian dengan lebih nyaman.” ungkapnya.

“Paling sulit itu IPS, karena paling banyak hafalannya,” ujar Gorga, siswa kelas 9, juga menggarisbawahi sulitnya IPS.

Namun, Gorga membawa perspektif lain mengenai suasana kelas. Ia mencatat bahwa meski secara umum kondusif, aspek pengawasan perlu ditingkatkan agar tidak membuka celah bagi siswa untuk tidak jujur yang luput dari pantauan pengawas. Kejujuran Gorga ini menjadi pengingat penting bahwa integritas adalah nilai utama yang harus dijaga di lingkungan Santo Paulus.

Di tengah keluhan tentang padatnya jadwal, muncul secercah semangat membara dari Fenora, ketua OSIS SMP Santo Paulus yang baru saja terpilih. Siswi kelas 8 ini memandang STS bukan sebagai beban, melainkan sebuah petualangan yang seru.

“Menurut saya, pelaksanaan STS kali ini sangat menantang, seru, dan menegangkan! Ada kalanya saya merasa capek karena harus belajar ekstra dan bangun pagi, tapi saya tetap semangat karena ingin nilai bagus,” seru Fenora dengan antusiasme yang menular.

Sebagai seorang pemimpin, Fenora memberikan tips bagi teman-temannya agar tidak merasa kesulitan di masa mendatang. Menurutnya, kuncinya sederhana: fokus dan serius.

“Tidak ada yang sulit jika kita belajar serius dan mendengarkan guru di kelas. Dari hari pertama sampai terakhir, semua soal yang keluar berkaitan dengan kisi-kisi yang diberikan Bapak dan Ibu guru,” tegasnya.

Dari cerita Lexy, Cassandra, Fenora, dan Gorga, kita belajar bahwa setiap jenjang memiliki “naga” yang harus dikalahkan masing-masing. Kelas 7 dengan adaptasi sainsnya, kelas 8 dengan semangat organisasinya, dan kelas 9 dengan manajemen waktu serta beban materinya.

Satu hal yang pasti, SMP Santo Paulus Pangkalpinang terus bergerak maju. Keluhan tentang jadwal yang padat dan pengawasan yang harus lebih ketat adalah “vitamin” bagi sekolah untuk terus berbenah. Sementara semangat pantang menyerah dari para siswa adalah bahan bakar utama yang menjaga api pendidikan tetap menyala di Bumi Bangka Belitung.

 

Kontributor: Edi Woda

Anda mungkin juga suka