Home » Kelas VIII SMP Santa Theresia Belajar Nilai-nilai Moderasi Bersama IPARI Kota Pangkalpinang

Kelas VIII SMP Santa Theresia Belajar Nilai-nilai Moderasi Bersama IPARI Kota Pangkalpinang

oleh Marcelina Sandra

Pangkalpinang, YTKNews.id. — Dalam upaya memperkuat kerukunan antarumat beragama di kalangan generasi muda, Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pangkalpinang menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Moderasi Beragama bagi siswa-siswi kelas 7 & 8 SMP Santa Theresia Pangkal Pinang. Acara digelar di GOR SMP Santa Theresia pada 21 April lalu. Kegiatan dibagi menjadi 2 sesi untuk masing-masing jenjang, kali ini untuk kelas 8, kegiatan dipandu oleh duet MC, Andre dan Melva, yang membuka kegiatan dengan pantun khas Bangka Belitung, menciptakan suasana akrab dan penuh semangat. Setelah pembukaan, seluruh peserta mengikuti doa pembuka dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh khidmat.

Kepala SMP Santa Theresia, Lan Cen, S.Ag., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang mendalam atas inisiatif Kemenag Pangkalpinang. Beliau menekankan pentingnya nilai-nilai moderasi sebagai bekal siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Salah satu agenda utama adalah pengenalan organisasi IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) dari Kemenag Kota Pangkalpinang. Para narasumber memperkenalkan peran IPARI sekaligus memandu para siswa menyanyikan Mars IPARI untuk pertama kalinya. Puncak pembukaan ditandai dengan peresmian acara secara simbolis oleh pihak Kemenag yang didampingi langsung oleh Kepala Sekolah.

Sesi inti diisi dengan penyampaian materi oleh para narasumber. Materi dibagi ke dalam beberapa poin, antara lain: 9 Nilai Moderasi Beragama oleh Ilma, Kemanusiaan & Kemaslahatan Umum oleh Sutiani, Adil, Berimbang, & Taat Konstitusi oleh Siska, Komitmen Kebangsaan oleh Ennita Liu, Kerukunan & Toleransi oleh Muthmainnah, Anti Kekerasan oleh Gusti Ayu, Hormat pada Budaya & Kearifan Lokal oleh Abdul Jalil. Pemanfaatan Media Digital oleh Dwiyana, Moderasi Beragama untuk Indonesia Emas dan ditutup dengan visi masa depan oleh Bapak Bosco.

Agar suasana tetap cair, panitia menyisipkan sesi ice breaking yang diikuti dengan gelak tawa dan antusiasme tinggi dari para siswa kelas 8. Suasana mendadak semakin riuh saat sesi tanya jawab dibuka. Ada pertanyaan dari seorang siswa kelas 8, Jeremi, berhasil mencuri perhatian seluruh hadirin.

“Bu, kalau memang kedamaian itu indah, kenapa sih masih banyak orang yang berbuat jahat? Contohnya yang suka mengadu domba kita di media sosial. Itu tujuannya apa?” tanya Jeremi dengan penuh antusias.

Mendengar pertanyaan yang sangat relate dengan kehidupan remaja tersebut, riuh rendah tepuk tangan dan sorakan dukungan dari teman-temannya langsung menggema di dalam GOR. Dwiyana yang menerima pertanyaan tersebut tersenyum bangga dan langsung memberikan jawaban.

“Anak-anak, di zaman digital ini, ada orang yang demi likes dan followers tega membuat konten adu domba. Mereka pikir itu keren, padahal itu merusak. Kejahatan mungkin ada, tapi kalian punya kekuatan besar di jari kalian. Kalau ada konten adu domba, jangan dikomentari, jangan dibagikan. Cukup berhenti dikalian. Kalian adalah generasi yang harus memutus rantai kebencian itu” pungkas Ibu Dwiyana dengan mantap.

 

“Narasumber kegiatan ini memiliki agama yang berbeda-beda, ada yang bergama Islam, Katolik, Hindu, dan Buddha. Para narasumber menyampaikan tentang moderasi beragama sangat mengedukasi kami para pelajar.” Ungkap Irene dari kelas 8B.

 

“Walaupun sosialisasinya memakan waktu yang cukup lama, tetapi tidak membuat saya bosan karena penyampaiannya yang menarik ditambah juga banyak ice breaking yang menyenangkan. Favorit saya adalah ketika ada orator yang ngejokes dan itu menurut saya sangatlah lucu” imbuhnya.

“Bagi saya, keberagaman di sekolah ini adalah kekayaan yang harus terus kita rawat, bukan sekadar pelengkap identitas. Melalui kegiatan moderasi seperti ini, kita sebenarnya sedang menanamkan benih empati agar anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang terbuka.” Jelas Lan Cen, S.Ag., selaku kepala sekolah.

 

“Saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu melihat perbedaan sebagai hal yang lumrah dan selalu menghargai setiap perbedaan yang ada, sehingga kelak mereka bisa menjadi pembawa damai di tengah masyarakat yang sangat majemuk ini. Kegiatan ini adalah salah satu cara membangun karakter mereka” pungkasnya.

 

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi SMP Santa Theresia mampu menjadi agen moderasi yang membawa pesan perdamaian, menghargai tradisi Nusantara, dan siap menyongsong Indonesia Emas dengan semangat persatuan.

 

Kontributor: Melva Hilderia

Anda mungkin juga suka