BELINYU, YTKNews.id — Langit mendung dan gerimis yang perlahan membasahi lapangan tidak menyurutkan semangat peringatan Hari Sumpah Pemuda di SD Santa Agnes. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, suasana sekolah terasa khidmat dan penuh makna. Momen ini menjadi gambaran nyata komitmen sekolah dalam mendidik siswa tidak hanya melalui pembelajaran, tetapi juga melalui penanaman nilai-nilai karakter.
Pagi itu, lapangan SD Santa Agnes dipenuhi semangat kebangsaan. Seluruh siswa, guru, dan karyawan sekolah tampil serasi mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam, dilengkapi ikatan kain dan pita bernuansa merah atau merah putih di kepala. Pilihan busana tersebut menjadi simbol untuk mengenang kesederhanaan dan ketangguhan para pemuda pejuang pada masa lampau.
Peringatan ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran Ketua Komite beserta jajaran serta pengurus paguyuban kelas I hingga VI. Kehadiran mereka menunjukkan eratnya sinergi antara pihak sekolah dan orang tua dalam mendukung pendidikan di SD Santa Agnes.
Dalam suasana upacara yang khidmat, Kepala SD Santa Agnes, Kordianus Nodin, S.Pd., Gr., yang akrab disapa Rano, menyampaikan amanat tentang pentingnya mewarisi ketangguhan mental para pahlawan.
“Jangan menjadi Generasi Stroberi yang tampak indah di luar, tetapi mudah hancur ketika ditekan,” tegas Rano. “Perjuangan kalian hari ini tidak lagi mengangkat bambu runcing, melainkan mengangkat pena untuk melawan kemalasan. Perjuangan sejati kalian adalah mengalahkan rasa takut dan keegoisan di dalam diri sendiri!”
Suasana semakin menyentuh ketika Rano menyampaikan pesan kepada para orang tua yang hadir. Ia mengajak mereka merenungkan pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar, bertumbuh, dan menghadapi tantangan secara mandiri.
“Bapak dan Ibu, cinta yang teramat besar kadang membuat kita tanpa sadar memenjarakan potensi anak,” ucapnya. “Anak-anak kita ibarat seekor ulat di dalam kepompong yang sedang berjuang untuk keluar menjadi kupu-kupu. Proses merobek kepompong itu sangat sulit dan menyakitkan bagi sang ulat. Jika kita karena rasa kasihan lalu merobekkan kepompong itu dari luar, maka sayap kupu-kupu itu akan layu. Ia tidak akan pernah bisa terbang karena ia dilepaskan dari proses perjuangannya.”
Suasana lapangan seketika hening saat para peserta menyimak pesan tersebut. Rano kemudian mengaitkan filosofi itu dengan pendidikan karakter yang diterapkan di SD Santa Agnes.
“Begitu pula dengan pendidikan karakter di sekolah ini. Saat anak-anak berselisih paham dengan temannya, saat mereka mendapatkan nilai jelek, atau saat mereka dihukum karena tidak mengerjakan tugas—itu adalah proses mereka merobek kepompong. Percayakan anak-anak kita pada proses. Percayakan mereka pada kami di sini,” lanjutnya.
“Biarkan mereka sesekali menangis karena kesulitan, agar kelak mereka bisa tersenyum bangga karena berhasil melewatinya sendiri. Tugas kita bukan membebaskan mereka dari badai, tetapi mengajarkan mereka bagaimana caranya menari di tengah badai. Mari bersinergi dengan porsi yang pas: sekolah membentuk kemandirian dan karakter anak, sedangkan orang tua di rumah menyiraminya dengan doa serta kasih sayang yang memampukan, bukan melemahkan.”
Pesan tersebut menegaskan pentingnya kerja sama antara sekolah dan keluarga dalam membentuk generasi yang tangguh, mandiri, serta memiliki karakter luhur.
Usai upacara, para siswa diberikan waktu istirahat selama 30 menit untuk menikmati sarapan bersama. Rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda kemudian dilanjutkan dengan berbagai perlombaan edukatif yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan siswa.
Siswa Fase A mengikuti lomba menyusun kalimat berdasarkan teks Sumpah Pemuda. Sementara itu, siswa Fase B beradu kreativitas dalam menulis cerita tentang tokoh pahlawan, sedangkan siswa Fase C menunjukkan kemampuan digital dan literasi melalui pembuatan video dokumenter bertema Sumpah Pemuda.
Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. Senyum bangga menghiasi wajah anak-anak yang mengikuti rangkaian acara tersebut.
Melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, SD Santa Agnes tidak hanya mengajak siswa mengenang peristiwa bersejarah, tetapi juga menanamkan nilai perjuangan, kemandirian, tanggung jawab, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Sekolah berharap nilai-nilai tersebut menjadi bekal bagi para siswa untuk tumbuh menjadi generasi berkarakter yang mampu meraih cita-cita dan berkontribusi bagi bangsa.
Kontributor: Humas SD Santa Agnes
