Home » Menatap Guru dan Pegawai sebagai Jantung Pelayanan, Sebuah Catatan dari Diklat Kenaikan Ruang YTK di Batam

Menatap Guru dan Pegawai sebagai Jantung Pelayanan, Sebuah Catatan dari Diklat Kenaikan Ruang YTK di Batam

oleh Redaktur Ytknews

BATAM, YTKNews.id — Terhitung, masih minggu pertama di bulan Mei 2026 menjadi momen yang tidak biasa bagi puluhan guru dan pegawai Yayasan Tunas Karya (YTK) di wilayah Kepulauan Riau. Di bawah langit Batam, mereka yang biasanya disibukkan oleh rutinitas harian di sekolah, mulai dari menyusun modul ajar, mengelola administrasi, menjaga gerbang sekolah, hingga memastikan kebersihan ruang kelas, hari-hari itu, Kamis sampai  Sabtu, 7 sampai 9 Mei 2026, mereka berkumpul menjadi satu.

Mereka datang dari berbagai penjuru: Rempang, Sagulung, Tanjung Uncang, Tanjung Balai Karimun, Tanjungpinang, hingga Tanjung Uban. Langkah kaki mereka diringankan oleh satu kabar baik yang menanti di ujung jalan,  kenaikan ruang.

Bagi YTK, yayasan pendidikan di bawah naungan Keuskupan Pangkalpinang, momen kenaikan ruang bukan sekadar urusan birokrasi atau penyesuaian angka di slip gaji. Ini adalah sebuah tradisi ikonik, sebuah bentuk reward dan penghormatan. Selama tiga hari, para pegawai dibebas-tugaskan dari rutinitas. Transportasi mereka ditanggung, akomodasi hotel di dekat Sekolah Yos Sudarso Batam Centre disiapkan, dan uang saku pun diberikan. Bagi mereka, ini adalah waktu untuk rehat sejenak, sebuah momen healing bersama rekan sejawat yang sedang menyambut nasib baik yang sama.

Hari pertama Dillat bertepatan dengan ultah Romo Yudi (Bendahara YTK)

Ketika Semua Menjadi “Murid”

Hari pertama diklat dimulai di Ballroom SMAK Yos Sudarso Batam. Suasana ruangan mendadak cerah oleh kehadiran para peserta yang mengenakan batik kuning bermotif bunga biru—seragam sakral kebanggaan YTK. Wajah-wajah plural itu duduk membaur tanpa sekat.

Ada pemandangan unik yang tersaji di sana. Para guru, kepala sekolah, dan wakil kepala sekolah yang biasanya berdiri gagah mengajar di depan kelas, hari itu duduk dengan takzim sebagai murid. Di sisi lain, para pramusaji dan satpam, yang mungkin sudah ‘berabad-abad’ tidak menyentuh pena untuk menulis formal, hari itu memegang pena mereka dengan erat.

Di hadapan identitas YTK yang dipaparkan oleh Ketua YTK, Romo Servasius Samuel, S.Psi, M.Psi, serta edukasi keuangan yang dibawakan oleh Bendahara YTK, Romo Yudi Kristianto, MM. Finansial, semua peserta melebur dalam hakekat komunikasi yang sejati: duduk, mendengar, dan menulis.

Mereka mendengar, artinya mereka sedang berkomunikasi

Duduk di Meja Siswa, Saat Pengurus Mendengar

Memasuki hari kedua, suasana diklat bergeser menjadi lebih personal dan mendalam. Di bawah bimbingan Adrick Bernardy, S.Pd Ing dan Siprianus Suryadiredja, S.Ag, para peserta diajak menyelami diri mereka sendiri melalui sesi refleksi kerja. Di sinilah YTK benar-benar memposisikan seluruh pegawainya sebagai sosok profesional. Yayasan ini sadar betul bahwa tanpa dedikasi mereka, mesin pelayanan dan reputasi YTK tidak akan pernah bergerak naik.

Kejutan sesungguhnya terjadi ketika refleksi itu selesai disusun. Peta ruang kelas SMAK Yos Sudarso Batam Centre seketika berubah fungsi. Peserta dibagi ke dalam delapan kelompok dan menyebar ke ruang-ruang kelas. Kali ini, keadaan berbalik: para Pengurus dan Kepala Divisi (Kadiv) YTK yang mengambil peran sebagai murid dan pendengar setia.

Di sinilah ruang kelas bergemuruh oleh kisah dan ketulusan. Jika para guru, staf Tata Usaha, dan pustakawan mempresentasikan refleksi mereka melalui slide PowerPoint yang rapi, para satpam dan pramusaji tampil dengan kesederhanaan yang memukau. Berbekal tulisan tangan di atas kertas folio bergaris, mereka maju ke depan.

Namun, kesederhanaan itu justru melahirkan magis. Saat mereka mulai berbicara, gaya retorika dan public speaking para pramusaji dan satpam ini tidak kalah dengan rekan-rekan mereka yang bergelar sarjana. Mereka berbicara dengan artikulasi yang jelas dan penuh penjiwaan. Mereka membuktikan sebuah kebenaran universal di dunia kerja, yakni, mereka mengetahui apa yang mereka katakan karena mereka menjiwai apa yang mereka lakukan.

Pramusaji pun akhrnya memegang pena, tidak hanya sapu dan cangkul

Komitmen untuk ‘Duc In Altum’

Rangkaian tiga hari yang penuh warna itu akhirnya tiba pada puncaknya. Sekretaris YTK, Alberthus Christian, A.Ma.Pd, menutup kegiatan dengan penuh rasa bangga. Bagi pria yang telah mengabdi selama tiga puluh tahun di yayasan ini, diklat bukan lagi sekadar agenda rutin, melainkan sebuah ruang sakral untuk memperbarui semangat.

“Ini menjadi momen healing bagi pegawai. Kita tidak hanya diberi edukasi tetapi juga merefleksikan pekerjaan. Sebuah cara untuk kita semakin duc in altum (berlayar lebih ke dalam) dalam pekerjaan dan pelayanan kita,” ungkap Christian, yang juga mantan Kepala SD Santu Yusuf Tanjung Balai tersebut.

Uniknya, Christian yang dikenal jago matematika ini justru menunjukkan kepiawaiannya dalam bersastra. Sebelum mengetuk palu penutup, ia menghadiahi para peserta dengan tiga bait pantun indah yang memancing tepuk tangan riuh.

Rasa syukur yang mendalam juga disuarakan oleh Marianus Sihotang, S.Fil, Kepala SD Yos Sudarso III Batam, yang didaulat mewakili seluruh peserta. Bagi Marianus, diklat ini adalah bentuk on-going formation yang sangat berharga untuk menyegarkan kembali spiritualitas visi, misi, dan keutamaan yayasan.

Pak Albertus Christian, A.Ma.Pd yang menutup Diklat

“Ilmu dan pengalaman dari diklat ini akan saya implementasikan sepenuhnya untuk memajukan unit karya kita masing-masing. Meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat pembinaan guru yang merata, serta menjaga amanah Yayasan dengan mengelola sekolah secara profesional dan akuntabel,” ucap Marianus mantap, menyampaikan terima kasihnya kepada pengurus, narasumber, dan panitia.

Sesi penuh kehangatan itu pun ditutup oleh Marianus dengan sebuah pantun yang merangkum harapan seluruh peserta yang hadir di ruangan itu:

Ballroom SMA tempat yang indah, Indah seindah taman surga. Diklat Kenaikan Ruang selesailah sudah, Semoga kita lulus semua.

Melalui diklat ini, YTK kembali menegaskan bahwa profesionalisme tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari seberapa besar hati dan jiwa yang dicurahkan ke dalam pelayanan. Mereka pulang tidak hanya membawa bekal untuk kenaikan pangkat, tetapi dengan api semangat baru yang siap dinyalakan kembali di unit karya masing-masing. (sfn/foto Johan)

semua peserta Diklat bersama Pengurus dan Kadiv YTK

Reporter: Stefan Kelen, Pr

Anda mungkin juga suka