Pangkalpinang, YTKNews.id—Puluhan pendidik dari jenjang KB, TK, guru SD kelas 1 sampai 3, serta kepala sekolah di bawah naungan MPK Keuskupan Pangkalpinang mengikuti kegiatan Seminar Pendidikan Inklusi yang salah satunya adalah SD Santa Theresia 1 Pangkalpinang pada Kamis, 9 April 2026 lalu. Kegiatan ini diadakan di aula SMK Tunas Karya dengan narasumber Dr. Brigita Puridawaty, M.Si., M.Pd. Para peserta tidak hanya hadir secara langsung, namun juga dihadiri secara daring oleh peserta di luar wilayah Pangkalpinang. Kegiatan ini diadakan dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kompetensi pendidik dalam mewujudkan pendidikan yang ramah dan inklusif bagi semua murid.
Pendidikan inklusi sendiri bukan sekedar fasilitas yang harus disediakan oleh sekolah, melainkan bagaimana seorang guru mampu menciptakan rasa diterima bagi setiap murid tanpa terkecuali. Pendidikan inklusi menuntut sekolah untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan murid melalui kurikulum yang fleksibel dan metode pembelajaran diferensiasi, bukan sebaliknya. Materi yang disajikan oleh Dr. Brigita merujuk pada Salamanca Statement dan UU No. 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas yang menegaskan hak setiap anak untuk belajar bersama di sekolah reguler.

Seminar ini membekali guru dengan strategi pengajaran inklusif dan pemahaman mengenai Universal Design for Learning. Setiap murid memiliki hak atas pendidikan yang berkualitas tanpa diskriminasi. Namun, dalam kenyataan di lapangan, masih terdapat diskriminasi terhadap murid berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Hal ini juga ditambah dengan fasilitas serta tenaga pendidik yang kurang memadai dalam pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah reguler.
Keberhasilan pendidikan inklusi ini bergantung pada kolaborasi antara kebijakan pemerintah, profesionalisme guru dalam menerapkan strategi mengajar, serta dukungan penuh dari lingkungan keluarga. Melalui seminar ini sekolah dapat menjadi tempat ternyaman bagi setiap murid untuk berkembang sesuai potensi mereka tanpa diskriminasi.
Trifani salah satu peserta berkata, “Melalui seminar ini saya sebagai guru kelas 2 benar-benar merasakan sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam seminar. Ciri-ciri siswa yang berkebutuhan khusus serta cara penanggulangannya sangat sesuai dengan di kelas. Saya belajar banyak dari seminar ini, dan menjadi bekal bagi saya untuk menerapkan pendidikan inklusi yang baik bagi setiap peserta didik”, tuturnya.
Kontributor : Henny Risnawaty
