Home » Semangat Sumpah Pemuda, TKK MPK Keuskupan Pangkalpinang Bersama Pramuka Hadirkan Kepedulian bagi Korban Kebakaran di Jelutung II

Semangat Sumpah Pemuda, TKK MPK Keuskupan Pangkalpinang Bersama Pramuka Hadirkan Kepedulian bagi Korban Kebakaran di Jelutung II

oleh humas YTK

Pangkalpinang, YTKNews.id — Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum bagi Tim Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik (TKK MPK) Keuskupan Pangkalpinang untuk menggerakkan semangat persatuan, persaudaraan, dan kepedulian melalui aksi kemanusiaan bagi warga terdampak kebakaran di Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pada Rabu (28/10) pagi, rombongan yang terdiri atas pengurus TKK MPK, perwakilan murid atau anggota Pramuka Penggalang dan Penegak, Bindamping (Pembina Pendamping), serta Kamabigus (Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan) dari beberapa sekolah Yayasan Tunas Karya berkumpul di SMP Santa Theresia sebelum memulai perjalanan. Tiga sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini adalah SMP Santa Theresia, SMA Santo Yosef, dan SMK Tunas Karya. Mereka hadir mewakili sekolah-sekolah dan yayasan pendidikan yang bernaung di bawah MPK Keuskupan Pangkalpinang.

Kegiatan diawali dengan pengantar dari Ketua TKK MPK Keuskupan Pangkalpinang, Willy Wilhelmus Suluh, S.Sos. Selanjutnya, Ketua MPK Keuskupan Pangkalpinang, RD Servasius Samuel, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memberikan peneguhan kepada seluruh rombongan.

Dalam peneguhannya, Romo Samuel menggarisbawahi tiga makna penting dari kegiatan tersebut. Pertama, aksi ini merupakan wujud kepedulian kemanusiaan kepada sesama yang sedang mengalami musibah. Kedua, pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda sehingga menjadi kesempatan bagi kaum muda untuk mewujudkan semangat persatuan melalui tindakan nyata. Ketiga, dalam kalender liturgi Gereja Katolik, tanggal 28 Oktober merupakan Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul yang wafat sebagai martir. Hal ini menjadikan kegiatan tersebut sebagai bentuk kesaksian iman melalui pelayanan dan kasih kepada sesama.

Setelah peneguhan, seluruh rombongan mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh Kepala SMP Santa Theresia, Lan Cen, S.Ag. Selanjutnya, Romo Samuel memberikan berkat kepada seluruh rombongan sebelum keberangkatan.

Rombongan kemudian bertolak menuju lokasi bencana menggunakan tiga kendaraan. Sebuah mobil pikap mengangkut barang-barang bantuan, minibus Yayasan Tunas Karya membawa para murid atau anggota Pramuka beserta pendamping, sedangkan sebuah mobil pribadi ditumpangi pengurus TKK MPK dan Kamabigus yang turut menyertai perjalanan.

Menyapa Warga Terdampak Kebakaran di Desa Jelutung II.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, rombongan tiba di Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan. Dengan didampingi dua anggota kepolisian dari Polsek Simpang Rimba, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan permukiman warga terdampak kebakaran di Desa Jelutung II.

Setibanya di lokasi, rombongan menyerahkan bantuan berupa sembako dan penanak nasi (rice cooker) di rumah Ketua RT. Bantuan tersebut diterima oleh Kepala Desa dan Kepala Dusun setempat. Pengadaan rice cooker dilakukan berdasarkan hasil survei awal tim ke lokasi serta masukan dari perangkat desa mengenai kebutuhan warga. Sebelumnya, donasi berupa uang dan bahan pangan telah dihimpun dari sekolah-sekolah untuk mendukung penyaluran bantuan tersebut.

Sambil menyerahkan bantuan, beberapa anggota rombongan berbincang dengan aparat dan warga setempat untuk mengetahui kondisi serta kronologi kebakaran. Berdasarkan cerita yang disampaikan warga, kebakaran bermula dari hutan di sebelah permukiman, kemudian merembet hingga melalap rumah-rumah warga. Sebanyak 245 rumah dilaporkan ludes terbakar. Di tengah kawasan permukiman yang terdampak, terdapat pula sebuah rumah walet yang tetap selamat dari kebakaran.

Setelah penyerahan bantuan, rombongan melanjutkan kunjungan ke lokasi pengungsian yang tidak jauh dari kawasan terdampak. Sebuah lapangan sepak bola kini menjadi tempat berdirinya puluhan tenda bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.

Di lokasi pengungsian, anggota rombongan berinisiatif berbincang dengan dua warga bernama Doding dan Leni. Keduanya bersama warga pengungsi lainnya telah tinggal di tenda selama sepuluh hari. Mereka mengakui bahwa berbagai bantuan yang datang sejauh ini telah membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kehidupan di tenda tetap menyimpan berbagai kesulitan, terutama ketika hujan turun dan air membasahi lantai tenda.

Selain persoalan kenyamanan dan kebutuhan sehari-hari, para pengungsi juga menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan tempat tinggal mereka. Saat kunjungan berlangsung, belum ada informasi pasti mengenai kapan mereka dapat meninggalkan pengungsian dan bagaimana kelanjutan tempat tinggal mereka.

Berdasarkan informasi yang diperoleh TKK MPK dari survei awal, terdapat rencana relokasi ke lahan yang berada tidak jauh dari lokasi pengungsian. PT Timah Tbk. disebut telah menyatakan kesiapan untuk mendanai pembelian lahan tersebut. Namun, rencana itu masih terkendala oleh harga tanah yang ditawarkan sangat tinggi.

Perjumpaan dengan warga memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika api padam. Bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, masih ada perjalanan panjang untuk kembali membangun kehidupan dan memperoleh kepastian mengenai masa depan.

Bagi para murid atau anggota Pramuka yang turut serta, kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga di luar kelas. Mereka tidak hanya diajak memahami arti kepedulian, tetapi juga melihat secara langsung kondisi warga terdampak, mendengarkan kisah perjuangan mereka, serta memahami kesulitan yang harus dihadapi setelah bencana. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan empati, solidaritas, dan kesadaran bahwa kepedulian harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Berangkat dari semangat Sumpah Pemuda dan peneguhan iman, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan persaudaraan tidak cukup hanya diungkapkan melalui kata-kata, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan kasih dan pelayanan kepada sesama.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, kehadiran sesama menjadi tanda bahwa warga terdampak tidak menghadapi masa sulit ini sendirian. Bantuan yang disalurkan dan waktu yang diberikan untuk mendengarkan kisah mereka merupakan bagian dari upaya merawat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan menjaga harapan bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit kembali.

Kontributor: Lancen, S.Ag.

Anda mungkin juga suka