Home » Pribadi Baja, Hati Samudra, Ini Transformasi Siswa SMP Santa Maria Sebelum Libur Hari Raya

Pribadi Baja, Hati Samudra, Ini Transformasi Siswa SMP Santa Maria Sebelum Libur Hari Raya

oleh Suwito

Mentok, YTKNews.id–Suasana tenang di kaki perbukitan Desa Air Mesu, Pangkalanbaru, Bangka Tengah mendadak hidup dengan kehadiran puluhan siswa kelas 9 SMP Santa Maria Mentok, Bangka Barat. Selama tiga hari, tepatnya pada tanggal 11 hingga 13 Februari 2026, mereka meninggalkan sejenak rutinitas buku pelajaran dan hiruk-pikuk persiapan ujian untuk menjalani sebuah ritual pendewasaan diri, Rekoleksi.

Mengambil tema besar “Pribadi Tangguh, Hati Teguh”, kegiatan ini bukan sekadar tamasya menjelang libur Imlek, melainkan sebuah perjalanan batin untuk menemukan kekuatan di tengah masa transisi remaja.

Mengasah ketangguhan dan kolaborasi

Perjalanan dimulai di bawah bimbingan para mentor dari Purisadhana. Di bawah atap aula yang sejuk, para siswa diajak menyelami palung hati mereka sendiri. Sesi-sesi bimbingan dari tim Purisadhana tidak terasa kaku, mereka membawakan materi dengan pendekatan yang menyentuh sisi kemanusiaan para remaja.

Melalui dialog interaktif dan renungan yang mendalam, setiap siswa ditantang untuk menjawab pertanyaan fundamental “Seberapa tangguh aku saat badai datang?” Di sinilah air mata dan tawa berpadu. Ada momen hening saat mereka menuliskan refleksi pribadi, mengakui ketakutan mereka akan masa depan, dan perlahan-lahan membangun tembok keteguhan hati yang baru.

Jika sesi di dalam ruangan adalah tentang penguatan batin, maka kegiatan outbound adalah pembuktian fisik. Di bawah rimbunnya pepohonan di Purisadhana, dinamika kelompok menjadi ajang unjuk gigi bagi kerja sama tim.

Dalam program tahunan SMP Santa Maria Mentok ini, para siswa harus keluar dari zona nyaman. Mereka harus merayap, memanjat, dan saling menopang dalam berbagai permainan strategi. Dalam satu momen dinamika kelompok, terlihat jelas bagaimana ego pribadi luruh demi keberhasilan bersama.

“Di sini kami belajar bahwa menjadi tangguh itu bukan berarti berdiri sendiri, tapi berani mengulurkan tangan dan percaya pada teman di sebelah kita,” ujar salah satu peserta di sela-sela kegiatan.

Tawa pecah saat ada kelompok yang gagal, namun tepuk tangan jauh lebih meriah saat mereka memutuskan untuk mencoba lagi hingga berhasil. Itulah esensi dari pribadi yang tangguh: jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.

Kegiatan ditutup pada siang hari tanggal 13 Februari, bertepatan dengan suasana hangat menyambut valentine dan perayaan Imlek. Ada pemandangan yang berbeda saat bus sekolah mulai menjemput, wajah-wajah yang datang dengan keletihan sekolah, kini pulang dengan binar mata yang penuh optimisme.

Rekoleksi di Purisadhana ini telah menjadi “kado” awal bagi mereka sebelum merayakan Imlek bersama keluarga. Mereka tidak hanya pulang untuk menikmati kue keranjang dan liburan, tetapi membawa pulang sebuah identitas baru sebagai pribadi yang lebih tangguh dan hati yang lebih teguh untuk menyelesaikan perjalanan mereka di SMP Santa Maria.

Kini, ujian akhir bukan lagi hantu yang menakutkan, melainkan anak tangga yang siap mereka daki dengan keberanian yang baru saja ditempa.

Anda mungkin juga suka