Pangkalpinang, YTKNews.id — Ketika rintik hujan membasuh bumi Toboali pada pertengahan Februari, dua puluh jiwa dari komunitas pendidik TK dan SMP Santo Paulus Pangkalpinang melangkah masuk ke sebuah ruang permenungan. Bukan sekadar perjalanan fisik menuju Selatan Bangka, melainkan sebuah ziarah batin untuk menemukan kembali makna pengabdian dalam dunia pendidikan.
Kedatangan rombongan pada 12 Februari lalu ini disambut oleh hujan yang menyejukkan. Di ambang pintu SD Karya Toboali, senyum ramah para guru, serta sapaan hangat dari Romo Baltasar, Pastor Paroki Maria Assumpta, menjadi penawar lelah perjalanan. Meski langit sedikit muram saat mereka menyambangi Himpang Lima, semangat untuk mempererat persaudaraan tetap menyala.
Di bawah bimbingan Romo Titus, SSCC, suasana rekoleksi berubah menjadi hening yang berisi. Mengangkat tema “Memelihara Rumah Bersama Dalam Karya Pendidikan,” Romo Titus mengajak para pendidik untuk menyelami kedalaman hati.
Beliau menekankan bahwa sekolah bukan sekadar gedung, melainkan “Rumah Bersama” yang pondasinya dibangun di atas kesetiaan yang tidak luntur oleh tantangan. keikhlasan dalam menabur benih ilmu, dan kejujuran sebagai napas dalam berkarya.
“Menjaga komitmen adalah menjaga nyala lilin di tengah badai. Ia harus tetap terang agar anak-anak didik kita tidak kehilangan arah,” pesan Romo Titus, dalam suasana retret yang khusyuk.
Perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Maria Assumpta menjadi puncak sekaligus penutup yang agung.

Dalam sesi sharing, Gatot Murdiasto, guru Bahasa Inggris, membagikan refleksi mendalam tentang bagaimana hidup doa menjadi jangkar bagi komitmen seorang guru. Baginya, doa adalah dialog harian yang memberi kekuatan saat raga mulai letih.
Senada dengan hal itu, Suster Yosefania, FCJM., selaku Kepala Sekolah, memberikan penekanan pada aspek komunal. Beliau menegaskan bahwa keindahan sebuah sekolah terletak pada cara komunitas tersebut merawat hidup bersama, saling mendukung, dan bertumbuh dalam satu harmoni yang sama.
Hari kedua kegiatan rekoleksi, 13 Februari, dimulai dengan langkah kaki menuju TK dan SD Karya Toboali. Di depan keheningan Gua Maria, para peserta melarungkan doa-doa pribadi, memohon restu Sang Bunda untuk setiap langkah pengabdian mereka.

Perjalanan berlanjut menyusuri jejak sejarah di Benteng Toboali. Meski takdir belum mengizinkan mereka menyentuh eksotisme Batu Belimbing karena akses jalan yang sempit, kegembiraan tidak memudar. Semesta seolah menebusnya dengan cuaca cerah saat mereka tiba di Pantai Kelisut.
Di tepi pantai, di bawah sinar matahari yang hangat, tawa pecah dalam permainan outbound. Debur ombak menjadi saksi bagaimana persahabatan dipererat dan beban dilepaskan.
Sebelum bus kembali menuju Pangkalpinang, terselip kesadaran baru dihati setiap peserta: bahwa mendidik adalah tugas suci, dan rumah bersama harus dijaga dengan cinta yang tak bertepi.
Toboali mungkin telah tertinggal di belakang, namun semangat “Rumah Bersama” kini menyala lebih terang di dalam kelas-kelas SMP dan TK Santo Paulus Pangkalpinang.
Kontributor: Benediktus Edi Woda

