Belinyu, YTKNews.id – Biasanya, suasana di Asrama Putra Nazareth Belinyu hanya diwarnai oleh deru aktivitas harian dan riuh rendah canda tawa lima pegawai Yayasan Tunas Karya (YTK) yang menghuninya. Namun, pada Kamis malam, 23 April 2026, rumah dengan cat kuning khas YTK itu bertransformasi menjadi ruang yang lebih tenang dan sakral.
Malam itu, asrama tersebut terpilih menjadi tuan rumah pertemuan modul bulanan Keuskupan Pangkalpinang. Kehadiran anggota Komunitas Basis Gerejani (KBG) Yohanes Don Bosco, yang juga diikuti oleh beberapa anggota asrama putri dari wilayah yang sama, seketika menghidupkan suasana rumah dengan semangat persaudaraan yang kental.
Pertemuan malam itu dipandu oleh sosok yang tidak asing lagi di lingkungan YTK, yakni Bapak Fransiskus Xaverius. Meskipun sudah memasuki masa pensiun, semangatnya dalam membagikan nilai-nilai spiritual tidak pudar. Ia membawakan modul bertajuk “Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang Menimba Inspirasi Firman Tuhan Sebagai Dasar Menyelesaikan Persoalan di KBG”.
Diskusi mengalir dengan hangat namun terarah. Fokus utama pembahasan adalah bagaimana setiap pribadi diajak untuk menjadikan Firman Tuhan bukan sekadar teks bacaan, melainkan fondasi kokoh dalam melangkah dan berkarya di tengah perziarahan dunia. Melalui sharing iman, para peserta diajak meresapi bahwa setiap persoalan hidup, baik dalam lingkup pribadi maupun komunitas. selalu memiliki jawaban di dalam kasih Tuhan.

Eko Sudaryanto, Kepala SMP Santo Yosef Belinyu sekaligus salah satu penghuni asrama Nazareth, mengungkapkan rasa syukurnya atas terpilihnya asrama tersebut sebagai tempat pertemuan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi “nutrisi” tambahan bagi para penghuni asrama di tengah kesibukan pekerjaan.
“Kehadiran Bapak, Ibu, dan saudara-saudari KBG di sini membawa warna baru. Bagi kami yang tinggal di asrama ini, pertemuan ini bukan sekadar rutinitas organisasi gereja, melainkan momen untuk kembali ‘mengisi baterai’ rohani. Firman yang dibahas menjadi pengingat bagi kami para pendidik dan pegawai agar setiap pelayanan di sekolah selalu bersumber dari nilai-nilai injili,” ujar Eko dengan antusias.
Seiring malam yang semakin larut, pertemuan itu pun ditutup dengan doa bersama yang khusyuk. Asrama Nazareth malam itu tidak hanya sekadar menjadi bangunan tempat bernaung, tetapi telah menjelma menjadi sebuah telaga kecil tempat umat Allah datang untuk meneguk air kehidupan lewat Firman-Nya.
Ketika lampu-lampu asrama akhirnya mulai redup satu per satu, ada sebuah kedamaian yang tertinggal di sana, sebuah pengingat bahwa di bawah atap berwarna kuning itu, iman telah tumbuh lebih dalam dari sekadar kata-kata.
Foto: Ignatius Julio
